Opini  

Profil Supradi, Mantan Pekerja Industri Tekstil yang Kini Berjibaku Menggerakkan Warga Memilah Sampah dari Rumah

Kota Batu_Pintubatunews.com — Tidak banyak orang yang perjalanan hidupnya berpindah dari dunia industri, berjualan bakso, menjadi penggerak lingkungan, hingga akhirnya terlibat langsung dalam pengelolaan sampah di Kota Batu. Salah satunya adalah Supradi, praktisi persampahan yang kini menjadi bagian dari Tim Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu.

Supradi lahir di Jombang, 2 Juni 1978. Ia tinggal di Jalan Lahor No. 74 RT 3/RW 12, Kelurahan Pesanggrahan, Kota Batu. Pendidikan terakhirnya adalah STM (Sekolah Teknik Menengah), istilah pendidikan kejuruan tingkat atas yang sejak 1997 secara resmi dilebur dan berkembang menjadi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).

Latar belakang pendidikan teknik tersebut turut membentuk pengalaman Supradi sebelum akhirnya menekuni dunia persampahan.

Pernah Menjadi Bagian dari Industri Tekstil Kota Batu

Pada 1997 hingga 2004, Supradi bekerja di PT Wastra Indah, pada bagian mesin tenun.

Wastra Indah pernah menjadi salah satu industri tekstil besar yang beroperasi di Kota Batu. Perusahaan yang berada di Jalan Panglima Sudirman tersebut pada masa jayanya menjadi tempat bekerja bagi ribuan orang dan menjadi salah satu bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat Batu.

Supradi menjadi salah satu pekerja yang merasakan langsung kehidupan industri tersebut, khususnya di bagian mesin tenun.

Setelah meninggalkan dunia industri, perjalanan pekerjaannya berlanjut. Pada 2012 hingga 2023, ia bekerja di Madu Kota Batu.

Di luar pekerjaan tersebut, Supradi sejak 2009 hingga sekarang juga menekuni usaha berjualan bakso. Usaha tersebut dilakukan dari rumah dan terkadang dengan berjualan secara berkeliling.

Dari Ketua RT Mulai Mengajak Warga Memilah Sampah

Keterlibatan Supradi dalam pengelolaan lingkungan semakin berkembang ketika ia dipercaya menjadi Ketua RT 3/RW 12 Pesanggrahan periode 2019–2024.

Sebagai Ketua RT, ia mulai mengajak warga membangun kebiasaan hidup bersih yang dimulai dari lingkungan rumah masing-masing.

Dalam setiap pertemuan rutin RT, Supradi tidak hanya membahas persoalan administrasi dan kemasyarakatan. Ia juga terus mengingatkan warga mengenai pentingnya memilah sampah dari sumbernya, yaitu dari rumah tangga.

Upaya tersebut kemudian dikembangkan melalui uji coba pengolahan sampah menggunakan komposter komunal.

Menurut Supradi, perubahan perilaku masyarakat tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan petugas pengangkut sampah. Pemilahan harus dimulai dari sumbernya agar sampah yang dihasilkan rumah tangga dapat ditangani sesuai jenisnya.

Bersama Warga Mengembangkan Gerakan Baling O3

Supradi juga turut bersama Stefanus Catur Wicaksono mendirikan Kelompok Masyarakat (Pokmas) Baling O3, yang merupakan singkatan dari Bangun Lingkungan Nol Sampah, Nol Limbah, Nol Kimia.

Gerakan tersebut semakin terasa ketika pandemi Covid-19 terjadi.

Bersama masyarakat, Supradi menggerakkan kegiatan pengelolaan sampah organik menjadi kompos. Hasil pengolahan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan tanaman sayuran dengan konsep ramah lingkungan.

Dari kegiatan sederhana di lingkungan masyarakat tersebut, Supradi semakin memahami bahwa sampah rumah tangga sebenarnya dapat menjadi sumber daya apabila dikelola dengan benar.

Dari Tingkat RT Meluas ke RW

Setelah masa kepemimpinannya sebagai Ketua RT berakhir, Supradi dipercaya menjadi Ketua RW sejak 2024 hingga sekarang.

Peran tersebut memberikan ruang lebih luas baginya untuk mengajak masyarakat menerapkan kebiasaan memilah sampah dari rumah.

Dalam berbagai pertemuan warga di tingkat RW, sosialisasi mengenai pemilahan sampah dari sumber terus dilakukan.

Hasilnya, pengolahan sampah organik menggunakan komposter komunal masih dapat berlangsung hingga sekarang.

Bagi Supradi, perubahan pengelolaan sampah tidak cukup hanya dilakukan di tempat pengolahan. Kebiasaan masyarakat sejak dari rumah menjadi bagian penting dalam menentukan keberhasilan pengelolaan sampah.

Bergabung dalam Tim Praktisi DLH Kota Batu

Pengalaman panjangnya di lingkungan masyarakat akhirnya membawa Supradi masuk lebih jauh ke dunia persampahan.

Sejak 2025 hingga sekarang, ia menjadi anggota Tim Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, khususnya di Divisi Big Komposter.

Di posisi tersebut, pengalaman teknis dan pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat menjadi bekal dalam mendampingi proses pengolahan sampah organik.

Perjalanan Supradi memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak selalu berawal dari pekerjaan formal di bidang lingkungan. Kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh dari aktivitas sehari-hari, dimulai dari rumah, lingkungan RT, kemudian berkembang ke tingkat RW dan akhirnya menjadi bagian dari gerakan pengelolaan sampah di tingkat kota.

Dari mesin tenun, usaha bakso, hingga big komposter, Supradi kini memilih menghabiskan sebagian waktunya untuk satu persoalan yang semakin penting bagi Kota Batu: mengubah cara masyarakat memperlakukan sampah sejak dari sumbernya.

Infografis, ayo pilah sampah dari sumbernya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *