Kota Batu, Pintubatunews.com — Bagi Juma’ati, mengurus sampah bukan sekadar pekerjaan tambahan. Perempuan kelahiran Malang, 2 April 1978, ini melihat pengelolaan sampah sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan di Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Saat ini Juma’ati dipercaya sebagai Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Rejeki Barokah, pengelola Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Dusun Segundu Desa Sumbergondo.
Sebelum aktif menangani persampahan, sehari-hari Juma’ati dikenal sebagai petani pekebun. Keterlibatannya dalam urusan sampah dimulai pada 2019, ketika ia terpilih menjadi salah satu pengurus Bank Sampah tingkat Desa Sumbergondo.
Kepengurusan tersebut dibentuk melalui BUMDes Sumbergondo. Sejak saat itu, aktivitas Juma’ati di bidang lingkungan semakin berkembang dan tidak berhenti pada kegiatan Bank Sampah.
Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan masyarakat.
Pada periode 2019-2022, Juma’ati dipercaya sebagai Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Desa Sumbergondo Sehat. Kemudian sejak 2022 hingga sekarang, ia dipercaya menjadi Sekretaris Forum Komunikasi Kecamatan (Forkom) Bumiaji Sehat.
Di lingkungan PKK Desa Sumbergondo, Juma’ati juga pernah bergabung dalam Pokja 4 yang membidangi kegiatan Jumantik pada 2019 hingga 2023.
Jumantik merupakan singkatan dari Juru Pemantau Jentik, yaitu kader masyarakat yang bertugas memeriksa dan memantau keberadaan jentik nyamuk sekaligus mendorong upaya pemberantasannya.
Dari Bank Sampah ke TPS3R
Perjalanan Juma’ati dalam pengelolaan sampah kemudian memasuki tahap baru setelah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tlekung Kota Batu ditutup pada 30 Agustus 2023.
Kondisi tersebut mendorong pengelolaan sampah dari tingkat desa untuk semakin diperkuat.
Pemerintah Desa Sumbergondo kemudian membangun hangar TPS3R menggunakan anggaran Alokasi Dana Desa (ADD) tahun anggaran 2023. Selain pembangunan hangar, disiapkan pula empat unit kendaraan roda tiga jenis Tossa untuk mendukung kegiatan pengangkutan sampah.
Selanjutnya, Pemerintah Desa Sumbergondo membentuk kepengurusan KSM TPS3R Rejeki Barokah melalui Surat Keputusan Kepala Desa Sumbergondo. Dalam kepengurusan tersebut, Juma’ati dipercaya sebagai ketua dan masih menjalankan amanah tersebut hingga sekarang.
Tanggung jawabnya tidak hanya berkaitan dengan administrasi organisasi. Ia juga terlibat langsung dalam aktivitas sehari-hari di TPS3R, mulai dari pengelolaan kegiatan hingga memastikan berbagai usaha pendukung dapat berjalan.
Mengurus Sampah, Maggot, Unggas hingga Lele
Di sela kesibukannya sebagai Ketua KSM dan pengurus Bank Sampah, Juma’ati juga menangani sejumlah kegiatan produktif yang dikembangkan di lingkungan TPS3R.
Ada ternak maggot, unggas seperti ayam, entog dan bebek, serta budidaya ikan lele. Perawatan berbagai kegiatan tersebut sebagian besar dikerjakan sendiri. Membersihkan kandang dan memberikan pakan menjadi pekerjaan rutin yang ia lakukan setiap hari. Bagi Juma’ati, cara tersebut sekaligus menjadi upaya melakukan efisiensi biaya perawatan.
Sementara untuk operasional TPS3R, pada awalnya terdapat enam orang pekerja. Saat ini jumlah pekerja menjadi tujuh orang. Ketika volume sampah meningkat, pengelola terkadang menambah satu orang pekerja harian.
Terpanggil Karena Tidak Semua Orang Mau Mengurus Sampah
Keputusan Juma’ati untuk terlibat dalam pengelolaan sampah bukan semata-mata karena mendapat amanah sebagai ketua.
Ada alasan sederhana yang membuatnya bertahan: keinginan membantu menjaga kebersihan lingkungan desa. Ia merasa terpanggil untuk ikut mengelola persoalan sampah karena menyadari bahwa tidak semua orang bersedia terlibat langsung dalam pekerjaan tersebut. Pengelolaan sampah sering kali masih identik dengan pekerjaan yang kotor dan menimbulkan bau tidak sedap. Namun bagi Juma’ati, justru di situlah pentingnya keberadaan orang-orang yang mau turun tangan.
Dengan menjadi bagian dari pengelolaan TPS3R Rejeki Barokah, ia berharap sampah yang dihasilkan masyarakat Desa Sumbergondo dapat dikelola dengan lebih baik sehingga lingkungan desa tetap bersih dan nyaman.
Perjalanan Juma’ati dari seorang petani pekebun, pengurus Bank Sampah, kader kesehatan lingkungan hingga dipercaya memimpin KSM TPS3R menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di tingkat desa tidak hanya membutuhkan fasilitas. Lebih dari itu, dibutuhkan orang-orang yang bersedia terlibat, bekerja langsung, dan menjaga agar sistem pengelolaan sampah tetap berjalan dari hari ke hari.












