Opini  

Dulu Mengajar Di Kelas, Kini Bergelut Dengan Sampah: Rohim Nursholeh Temukan “Sekolah Baru” di Big Komposter

PROFIL PRAKTISI PERSAMPAHAN KOTA BATU

Kota Batu_Pintubatunews.com — Tidak semua perjalanan hidup berjalan lurus sesuai dengan ijazah yang dimiliki. Ada kalanya pengalaman justru membawa seseorang ke tempat yang sama sekali berbeda, namun di sanalah ia menemukan ruang baru untuk belajar, mengabdi, dan memberikan manfaat. Perjalanan itu dialami Rohim Nursholeh, kelahiran Malang, 28 Mei 1992.

Lulusan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2015 ini sebelumnya dikenal sebagai seorang pendidik. Bertahun-tahun ia berdiri di depan kelas, mengajarkan Bahasa Indonesia kepada para siswa.

Namun sejak 2023, arah perjalanan profesionalnya mulai memasuki dunia yang berbeda: pengelolaan sampah dan pengolahan sampah organik.

Kini, sejak 2025, Rohim menjadi bagian dari Tim Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Sampah pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, khususnya di Divisi Big Komposter.

Di tempat inilah, menurut Rohim, dirinya menemukan sebuah “sekolah baru” sekolah yang tidak memiliki papan tulis, tetapi memberikan pelajaran melalui persoalan nyata di lapangan.

DARI PRAMUKA, TATA USAHA, HINGGA GURU

Sebelum dikenal sebagai praktisi persampahan, perjalanan Rohim cukup panjang.

Pada 2012–2014, ia menjadi Pembina Pramuka SDN Punten 02 Kota Batu. Kemudian pada 2014–2015, ia bekerja sebagai Staf Tata Usaha Fakultas FKIP UMM.

Tahun berikutnya, 2015–2016, Rohim menjadi Staf Tata Usaha SMP Satu Atap Desa Gunungsari.

Dunia pendidikan kemudian semakin melekat dalam perjalanan hidupnya.

Pada 2016–2017, ia dipercaya menjadi Guru Bahasa Indonesia di SMA Hasyim Asy’ari Kota Batu.

Perjalanan sebagai guru berlanjut selama 2017–2023 di SMP Raden Fatah Desa Sidomulyo.

Selama bertahun-tahun berada di lingkungan pendidikan, Rohim terbiasa menghadapi manusia, membangun komunikasi, menyampaikan pengetahuan, dan mendampingi proses belajar.

Pengalaman tersebut ternyata kelak menjadi bekal penting ketika ia memasuki dunia pengelolaan sampah.

Ketika Guru Masuk Dunia Sampah

Tahun 2023 menjadi salah satu titik perubahan dalam perjalanan Rohim. Ia bergabung dengan Dusun Sahabat Alam (DSA) di Dusun Lasah, Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Di sana ia tidak lagi hanya mengajarkan teori di dalam kelas.

Rohim terlibat langsung sebagai trainer edukasi pengolahan sampah sekaligus menjadi bagian dari tim produksi kompos berbahan sampah organik.

Di sinilah teori bertemu dengan kenyataan. Sampah yang sebelumnya sering dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, justru dipelajari sebagai material yang masih dapat diolah dan dimanfaatkan. Pengalaman tersebut membuka perspektif baru bagi Rohim.

Bahwa persoalan sampah tidak selesai hanya dengan mengangkut sampah dari rumah ke tempat pengolahan. Ada persoalan edukasi, pemilahan, teknologi, sumber daya manusia, kedisiplinan, komunikasi, hingga perubahan perilaku masyarakat.

“Sekolah” baru di big komposter

Sejak 2025 hingga sekarang, Rohim bergabung dengan Tim Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Sampah DLH Kota Batu, Divisi Big Komposter.

Di sinilah ia kembali menjadi pembelajar. Bukan lagi siswa yang belajar dari guru, melainkan seorang praktisi yang belajar dari pengalaman, mentor, tenaga ahli, dan dinamika lapangan. Rohim mengakui bahwa dunia praktik memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran teoritis.

“Sebagai praktisi pendamping di divisi Big Komposter, membuka wawasan dan menyadari bahwa praktik di lapangan jauh lebih dinamis dan menantang dibandingkan teori yang dipelajari.”

Pernyataan tersebut menjadi gambaran bagaimana dunia persampahan menuntut kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi.

Tantangannya bukan hanya sampah

Bagi Rohim, menjadi praktisi pendamping bukan hanya persoalan memahami bagaimana sampah organik diproses. Ada tantangan lain yang tidak kalah penting: manusia dan lingkungan kerja.

Ia harus mampu beradaptasi dengan ritme kerja profesional, bekerja bersama rekan-rekan baru, sekaligus memahami budaya kerja yang berbeda.

Pengalaman tersebut justru menjadi proses pembelajaran tersendiri. Setiap persoalan di lapangan memaksa dirinya untuk tidak berhenti pada teori.

Harus melihat, memahami, mencoba, mengevaluasi, dan mencari solusi.

Mentor dan lapangan: dua guru terbaik

Salah satu pengalaman paling berharga yang dirasakan Rohim adalah kesempatan memperoleh bimbingan langsung dari mentor maupun tenaga ahli. Menurutnya, proses tersebut membantu meningkatkan dua kemampuan sekaligus.

Hard skills, berupa keterampilan teknis yang berkaitan dengan pekerjaan.

Dan soft skills, terutama kemampuan komunikasi, koordinasi, kerja sama, serta menghadapi persoalan di lapangan. Lebih jauh, pengalaman tersebut mengajarkan satu hal penting: tanggung jawab terhadap pekerjaan nyata.

Ada tugas yang hasilnya dapat langsung dirasakan dalam operasional maupun pelayanan. Artinya, kesalahan tidak sekadar menjadi nilai dalam sebuah ujian. Kesalahan harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pekerjaan.

Latar belakang pendidikan menjadi kekuatan

Menariknya, pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang ditempuh Rohim ternyata tetap relevan dengan dunia persampahan.

Mengapa? Karena pengelolaan sampah pada akhirnya bukan hanya tentang mesin, komposter atau teknologi. Ada manusia yang harus diberikan pemahaman. Ada masyarakat yang harus diajak berubah. Ada pesan yang harus disampaikan. Dan ada komunikasi yang harus dibangun.

Kemampuan seorang pendidik dalam menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang mudah dipahami menjadi modal berharga dalam proses edukasi pengelolaan sampah.

Dari mengajar Bahasa Indonesia, Rohim kini ikut “mengajar” masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah.

Pramuka dan persampahan, apa hubungannya?

Pengalaman organisasi Rohim juga tidak bisa dilepaskan dari perjalanan profesionalnya. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Majelis Pembimbing dan Pimpinan Satuan Komunitas Pramuka Lembaga Pendidikan Ma’arif Kota Batu periode 2020–2025.

Pada periode 2025–2030, ia menjadi Pengurus Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Batu bagian Pramuka Produktif.

Pengalaman dalam organisasi Pramuka memberikan ruang bagi Rohim untuk belajar mengenai kepemimpinan, kedisiplinan, kerja tim, pembinaan, serta kegiatan produktif.

Nilai-nilai tersebut kemudian menemukan ruang penerapan baru dalam aktivitas pengelolaan persampahan.

Dari sampah, lahir pembelajaran

Perjalanan Rohim memberikan satu pesan penting: Pengalaman tidak pernah benar-benar sia-sia. Pengalaman menjadi guru, pembina Pramuka, staf administrasi, trainer, hingga praktisi persampahan membentuk kemampuan yang saling melengkapi.

Kini, pengalaman tersebut digunakan untuk mendukung percepatan pengelolaan sampah di Kota Batu. Rohim tidak melihat perpindahan bidang ini sebagai meninggalkan dunia pendidikan. Sebaliknya, ia membawa semangat pendidikan ke dalam dunia persampahan.

Karena menurutnya, persoalan sampah juga membutuhkan proses belajar. Belajar memilah. Belajar mengolah. Belajar bertanggung jawab. Dan yang paling penting, belajar mengubah kebiasaan.

Rohim Nursholeh dalam satu kalimat

“Dari ruang kelas menuju ruang pengolahan sampah karena perubahan lingkungan juga membutuhkan seorang pendidik.”

 

Catatan pintubatunews.com

Profil Praktisi Persampahan Kota Batu merupakan rubrik khusus Pintubatunews.com yang mengangkat cerita, pengalaman, perjuangan, inovasi, dan pemikiran orang-orang yang bekerja di balik upaya pengelolaan sampah Kota Batu.

Karena di balik setiap ton sampah yang berhasil dikelola, selalu ada manusia yang bekerja, belajar, dan berjuang.

Infografis, ayo pilah sampah dari sumbernya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *