Banggai Sulawesi Tengah Pintubatunews.com. Pagi tadi sempat ngobrol dengan seorang kawan lewat telepon. Seperti biasa, setiap kali berbincang, ujung-ujungnya selalu berlabuh pada diskusi tentang desa—tentang kepemimpinan, anggaran, dan harapan yang kerap tertunda. Namun ada satu kalimat di akhir percakapan yang membuat saya termenung cukup lama: “Dana desa bukan dana dosa.” Sebuah kalimat bernada satire, tapi sarat makna. Kalimat itu kembali membuat insting saya berselancar, mendorong saya menuliskan sebuah opini ringan.
**
Dana desa bukan dana dosa karena sejak awal ia lahir sebagai amanat, bukan jebakan. Ia dititipkan negara kepada desa agar kesejahteraan tidak berhenti di pusat kekuasaan. Dana desa adalah instrumen keadilan, jalan pintas bagi desa untuk mengejar ketertinggalan, dan ruang bagi desa menentukan arah masa depannya sendiri. Yang membuatnya tampak “berdosa” bukanlah dananya, melainkan cara berpikir dan perilaku sebagian pengelolanya.
Ironisnya, dana desa kerap diposisikan seolah-olah sumber masalah. Setiap kasus korupsi yang mencuat, stigma langsung dilekatkan pada dananya, bukan pada watak kekuasaan yang menyimpang. Padahal dana hanyalah alat. Ia bisa menjadi berkah ketika dikelola dengan visi dan keberanian, atau berubah menjadi petaka ketika diperlakukan sebatas proyek dan rutinitas belanja.
Dana desa sejatinya adalah cermin kepemimpinan desa. Ia menguji apakah seorang kepala desa bekerja dengan pikiran atau sekadar dengan kuitansi. Pemimpin yang visioner akan menjadikan dana desa sebagai pemantik kemandirian—mengelola potensi lokal, menggerakkan ekonomi warga, dan memperkuat partisipasi. Sebaliknya, pemimpin yang miskin gagasan akan selalu merasa dana desa kurang, apa pun jumlahnya.
Maka narasi perlu diluruskan. Dana desa bukan dana dosa. Ia tidak pernah salah sejak lahir. Yang patut dipertanyakan adalah bagaimana ia dikelola dan untuk siapa ia dibelanjakan. Sebab di tangan yang jujur, dana desa adalah cahaya bagi masa depan desa; namun di tangan yang serakah, ia hanya menjadi catatan gelap yang kembali menyakiti kepercayaan publik.**
Dana Desa Bukan Dana Dosa
Dana desa sejatinya adalah cermin kepemimpinan desa. Ia menguji apakah seorang kepala desa bekerja dengan pikiran atau sekadar dengan kuitansi.












