TPS3R Kelurahan Dadaprejo, Sudah Uji Coba 4 Jenis Kompos Organik

Foto KOMSADA atau kompos organik Dadaprejo dengan 4 macam jenis.

Kota Batu_Pintubatunews.com_Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) tempat pengolahan sampah – reduce, reuse, recycle (TPS3R) Kelurahan Dadaprejo Kecamatan Junrejo Kota Batu, beralamat di Jl. Dr. Sutomo RT. 01 / RW. 06, Kelurahan Dadaprejo. Berbagai jenis sampah yang berasal dari masyarakat dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali salah satunya dalam bentuk kompos organik yang berasal dari sampah organik hasil pemilahan.

Foto pengurus KSM TPS3R Dadaprejo menunjukkan Kompos yang dihasilkan TPS3R Dadaprejo.

Ketua KSM TPS3R Kelurahan Dadaprejo Sunarto bersama Pendamping TPS3R Kelurahan Dadaprejo dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu Sutrisno saat ditemui di kantornya Selasa (11/8/2026) menyampaikan, “Kelompok tani maupun kelompok Wanita tani (KWT) berharap sampah organik yang berasal dari TPS3R Kelurahan Dadaprejo ini bisa dimanfaatkan menjadi pupuk kompos. Berkat kerjasama dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) Malang kami telah dibantu membuat kompos dengan 4 macam jenis yang dihasilkan.”

“Proses pembuatan komposnya sama, hanya yang berbeda itu bahan bioaktivatornya. Kompos yang kami hasilkan dengan merk KOMSADA atau kompos organik Dadaprejo. Komsada dengan 4 macam jenis yang dihasilkan berdasar bioaktivator yang dipergunakan yaitu pertama kompos berbahan dekomposter hama penyakit tumbuhan, kedua kompos organik berbahan M-21, ketiga kompos organic berbahan EM4  (Effective Microorganisms 4), dan keempat kompos organik berbahan petrogladiator yaitu produk dekomposer buatan PT Petrokimia Gresik, jelasnya”

Foto Sutrisno Pendamping TPS3R Kelurahan Dadaprejo dari DLH Kota Batu

“Packaging yang kita buat dengan ukuran 5 kg, selama ini kami jual per Kg Rp 1.000,- . Karena sudah ada hasil uji laboratorium menurut adik-adik mahasiswa UB seharusnya bisa dijual dengan harga lebih mahal. Sementara ini kami masih belum bisa mengolah dan memperbanyak sampah organik yang tersedia karena keterbatasan tenaga kerja, “pungkas Ketua KSM TPS3R Dadaprejo.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *