Kota Batu, Pintubatunews.com — Bantuan renovasi gedung untuk pembangunan rumah kompos di TPS3R Jagir, Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, Kota Batu, menjadi peluang untuk mengubah sampah organik rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat bagi sektor pertanian. Namun, keberhasilan pengolahan tersebut bergantung pada kedisiplinan warga memilah sampah sejak dari rumah.
Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) TPS3R Jagir, Rustamaji, mengatakan bahwa pengurus bersama para ketua RT telah menyepakati kewajiban pemilahan sampah organik dan anorganik sebelum sampah diangkut petugas. Kebijakan ini menjadi langkah awal untuk menyiapkan bahan baku yang lebih sesuai bagi pengolahan kompos.
“Saat terpilih sebagai Ketua KSM kami sudah ada kesepakatan dengan Ketua-Ketua RT, yaitu sampah yang akan diambil wajib sudah terpilah antara sampah organik dan sampah anorganik,” tutur Rustamaji saat ditemui di TPS3R Jagir, Jalan Indragiri RT 2 RW 8, Dusun Sumberejo Desa Sumberejo, Selasa (27/10/2026).
Rustamaji baru terpilih sebagai Ketua KSM pada awal Oktober 2026. Ia mengaku masih mempelajari pengelolaan TPS3R, termasuk bagaimana membangun sistem pemilahan dan pengolahan sampah yang berjalan konsisten.
Saat ini, TPS3R Jagir melayani sekitar 700 rumah pelanggan yang tersebar di tiga RW. Operasional pengangkutan dan pemilahan ditangani empat orang petugas dengan dukungan empat unit motor Tossa. Pengangkutan dilakukan empat kali dalam seminggu, dengan iuran sebesar Rp15.000 per pelanggan.

Di tengah layanan tersebut, pembangunan rumah kompos menjadi kesempatan bagi TPS3R Jagir untuk meningkatkan pengolahan sampah organik, bukan sekadar mengumpulkan dan mengangkut sampah. Apalagi, sebagian besar warga Desa Sumberejo bermata pencaharian sebagai petani sayuran sehingga kompos berpotensi dimanfaatkan kembali oleh masyarakat setempat.
“Kami sangat bersyukur di akhir tahun 2026 ini mendapatkan bantuan renovasi gedung TPS3R untuk didirikan rumah kompos dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu. Di Desa Sumberejo rata-rata mata pencaharian penduduknya sebagai petani sayuran,” ujarnya.
Ia berharap pemilahan sampah rumah tangga berjalan baik sehingga bahan organik yang diolah menghasilkan kompos yang layak digunakan untuk pertanian.
“Kedepannya kalau pemilahan sampah dari rumah tangga berhasil dan kandungannya baik untuk pertanian tentunya kompos yang kami hasilkan akan bermanfaat bagi warga Desa Sumberejo sendiri,” pungkas Rustamaji.
Tantangan berikutnya adalah memastikan kesepakatan pemilahan benar-benar diterapkan oleh pelanggan, serta menyiapkan pengelolaan rumah kompos yang konsisten dan memperhatikan mutu produk. Dengan demikian, bantuan pembangunan tidak berhenti pada perbaikan sarana, tetapi dapat mendukung pengurangan sampah dan menyediakan alternatif kompos bagi petani lokal.













