Rumah Kompos TPS3R Sejahtera Pendem Masuki Pengisian Tahap Kedua, Kapasitas Olah Sampah Organik Disarankan Supaya Naik Dua Kali Lipat

Kota Batu, Pintubatunews.com – Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Sejahtera, Dusun Caru, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, mulai melakukan pengisian tahap kedua rumah kompos sejak Selasa (1/9/2026). Upaya ini menjadi bagian dari pengembangan pengolahan sampah organik agar mampu menghasilkan kompos sekaligus meningkatkan kapasitas pengolahan.

Ketua KSM TPS3R Sejahtera Dusun Caru, Sri Rahma, menyampaikan bahwa rumah kompos tersebut mulai diisi pada 26 Februari 2026 dan mulai memasuki masa panen pada 13 Juli 2026.

Hal itu disampaikan Sri Rahma saat ditemui bersama Rohim Nursholeh, Tim Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Selasa (20/10/2026).

“Kompos yang sudah terjual sebanyak 3 ton, sedangkan stok yang ada saat ini diperkirakan masih ada 1 ton,” ungkap Sri Rahma.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa rumah kompos TPS3R Sejahtera telah menghasilkan produk yang dapat dipasarkan. Namun, optimalisasi kapasitas pengolahan masih menjadi pekerjaan penting agar lebih banyak sampah organik dapat dimanfaatkan dan tidak berakhir sebagai residu.

Foto sel rumah kompos yang mulai diisi sejak 1 September 2026.

Pencacahan Sampah Jadi Kunci Peningkatan Kapasitas

Dalam kunjungan tersebut, Rohim Nursholeh mendorong Sri Rahma beserta pengelola TPS3R Sejahtera untuk melakukan uji coba pencacahan sampah organik sebelum dimasukkan ke dalam rumah kompos.

Menurut Rohim, ukuran sampah organik yang lebih kecil berpotensi membuat ruang pengolahan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. Dengan demikian, volume bahan organik yang masuk ke setiap sel rumah kompos bisa ditingkatkan.

“Untuk memaksimalkan volume sampah organik agar bisa masuk ke rumah kompos lebih banyak lagi, supaya dilakukan pencacahan terlebih dahulu. Saat ini, kalau satu sel di rumah kompos dalam satu bulan mampu menampung 20 ton sampah organik, kalau sudah dicacah terlebih dahulu nantinya akan bisa menampung 40 ton sampah organik,” jelas Rohim.

Ia mencontohkan penerapan metode tersebut di fasilitas Big Komposter TPA Tlekung yang, menurutnya, mampu meningkatkan kapasitas pengolahan hingga dua kali lipat setelah sampah organik dicacah terlebih dahulu.

Praktik serupa juga diterapkan oleh KSM TPS3R Desa Tlekung. Selain membantu mengoptimalkan ruang pengolahan, pencacahan dinilai dapat mempermudah tahapan penanganan kompos saat panen.

“Demikian juga yang dilakukan oleh KSM TPS3R Desa Tlekung, sampah organik dilakukan pencacahan terlebih dahulu, sehingga saat panen pun bisa langsung diayak saja,” tambahnya.

Meski demikian, peningkatan kapasitas dari 20 ton menjadi 40 ton per sel per bulan tersebut masih perlu diuji melalui penerapan dan evaluasi di rumah kompos TPS3R Sejahtera.

Bambu Bekas Diusulkan Jadi Gladak Rumah Kompos

Selain mendorong pencacahan, Rohim juga melihat peluang pemanfaatan material yang tersedia di lingkungan TPS3R. Saat meninjau lokasi, ia mendapati tumpukan bambu bekas yang berpotensi digunakan untuk membuat gladak atau alas penempatan sampah organik yang telah dicacah.

Menurut Rohim, penggunaan alas tersebut dapat membantu memperbaiki sirkulasi udara di bagian bawah tumpukan sekaligus mendukung kelancaran aliran air lindi menuju bak penampungan.

“Ada bambu yang bekas pakai, bisa dimanfaatkan juga untuk uji coba dengan membuat gladak untuk menaruh sampah organik yang sudah dicacah. Hal ini selain untuk menghindari tumpukan bagian bawah rumah kompos tetap basah, dengan adanya sirkulasi udara keluarnya air lindi juga akan lancar dan mudah mengalir ke bak penampungan,” paparnya.

Usulan tersebut menawarkan pendekatan sederhana dengan memanfaatkan bahan yang sudah tersedia di lokasi. Jika diterapkan secara tepat, konstruksi alas bambu diharapkan dapat membantu menjaga kondisi tumpukan bahan organik agar tidak terlalu basah dan mendukung proses pengomposan.

Bambu bekas pakai yang bisa dimanfaatkan untuk gladak.

Optimalisasi Rumah Kompos untuk Menekan Residu

Pengembangan rumah kompos TPS3R Sejahtera tidak hanya berkaitan dengan peningkatan jumlah produksi kompos, tetapi juga bagaimana pengelola mampu memaksimalkan pengolahan sampah organik sejak tahap awal.

Pencacahan bahan organik, pemanfaatan ruang secara efisien, pengaturan sirkulasi udara, hingga pengelolaan air lindi menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan dalam uji coba tersebut.

Dengan stok kompos yang diperkirakan masih mencapai 1 ton dan penjualan yang telah menyentuh 3 ton, TPS3R Sejahtera memiliki modal awal untuk terus mengembangkan pengolahan sampah organik menjadi produk bernilai guna.

Tantangan berikutnya adalah membuktikan efektivitas metode pencacahan dan penggunaan gladak bambu melalui penerapan langsung di rumah kompos. Evaluasi terhadap kapasitas, kondisi bahan, proses pengomposan, serta hasil panen akan menjadi bagian penting untuk menentukan metode yang paling sesuai.

Upaya ini sekaligus menegaskan bahwa pengelolaan sampah di tingkat TPS3R membutuhkan inovasi yang dapat diterapkan secara praktis, efisien, dan berkelanjutan, dengan memaksimalkan potensi bahan organik maupun sumber daya yang tersedia di sekitar lokasi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *