Berita  

Puluhan Tahun Mengabdi, Ruslan Tetap Setia Memilah Sampah di TPS3R Jalibar Berseri

Foto Ruslan di rumah kompos TPS3R Jalibar Berseri Desa Oro Oro Ombo

Kota Batu – Pintubatunews.com — Upaya menjaga kebersihan lingkungan tidak selalu dilakukan melalui langkah besar. Di balik pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Jalibar Berseri, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu, terdapat sosok yang telah puluhan tahun mengabdikan dirinya sebagai pekerja pemilah sampah.

Dialah Ruslan (72). Pria yang telah berusia lanjut tersebut masih aktif memilah dan mengelola sampah di TPS3R Jalibar Berseri. Pengabdiannya di bidang persampahan telah dimulai sejak 2005, ketika pengelolaan kebersihan masih berada di bawah Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Batu, yang saat itu dipimpin oleh Sinal Abidin. DKP saat ini sudah menjadi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu.

“Saya mulai bekerja memilah sampah sejak tahun 2005, waktu itu masih DKP. Kemudian sejak tahun 2017 saya diperbantukan di TPS Jalibar Desa Oro-Oro Ombo,” tutur Ruslan.

Menurutnya, bangunan TPS3R di kawasan Jalibar tersebut dibangun pada masa pemerintahan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko. Pada awalnya, lokasi tersebut masih berfungsi sebagai tempat penampungan sementara (TPS), terutama untuk menampung sampah dari sejumlah hotel. Saat itu, sampah yang masuk terlebih dahulu dilakukan pemilahan. Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dipisahkan untuk dijual, sedangkan sampah lainnya kemudian diangkut ke tempat pemrosesan akhir (TPA) Tlekung.

“Dulu sampah yang masuk dari hotel kami pilah. Sampah anorganik yang masih bisa dijual dipisahkan, kemudian sisanya langsung dibawa ke TPA Tlekung. Jadi lokasi di sini selalu bersih,” jelasnya.

Namun, kondisi pengelolaan sampah di Desa Oro-Oro Ombo berubah setelah TPA Tlekung ditutup pada 31 Agustus 2023. Sejak saat itu, sampah dari seluruh wilayah Desa Oro-Oro Ombo mulai masuk dan dikelola di TPS3R Jalibar Berseri. Pengelolaan sampah tersebut kemudian dilakukan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang diketuai Titik Setyawati.

Perubahan tersebut membuat tantangan pengelolaan sampah di TPS3R semakin besar. Volume sampah yang harus ditangani meningkat, sementara proses pemilahan dan pengolahan harus dilakukan secara berkelanjutan agar tidak menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan.

Ruslan pun tidak tinggal diam. Di tengah keterbatasan yang ada, ia berusaha membersihkan tumpukan sampah plastik yang masih berada di halaman TPS3R. Ia berharap area tersebut nantinya dapat dimanfaatkan menjadi ruang yang lebih tertata, termasuk untuk penghijauan.

“Saya berusaha membersihkan tumpukan plastik di halaman TPS3R supaya nantinya bisa dibuat tempat untuk tanaman,” ujarnya.

Selain persoalan sampah plastik, pengelolaan air lindi juga menjadi perhatian. Air lindi merupakan cairan yang dihasilkan dari proses pembusukan dan rembesan sampah yang apabila tidak dikelola dengan baik berpotensi mencemari lingkungan. Karena itu, pihak TPS3R berencana memperbesar bak penampungan air lindi agar mampu menampung lebih banyak cairan, terutama saat musim hujan.

“Rencananya penampungan air lindi akan kami buatkan bak yang lebih besar lagi supaya tidak mencemari lingkungan saat musim hujan,” kata Ruslan.

Ilustrasi pilah sampah dari sumbernya

Di tengah perjuangannya mengelola sampah, Ruslan menyampaikan harapan sederhana kepada masyarakat Desa Oro-Oro Ombo. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada petugas TPS3R, tetapi membutuhkan kesadaran seluruh warga. Ia mengajak masyarakat untuk mulai melakukan pemilahan sampah sejak dari sumbernya, terutama dari rumah masing-masing.

“Saya tetap berharap kepada warga Desa Oro-Oro Ombo untuk melakukan pemilahan sampah mulai dari sumbernya atau dari rumah masing-masing,” harapnya. Pesan tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya tantangan pengelolaan sampah di Kota Batu. Pemilahan dari rumah akan membantu mengurangi beban TPS3R sekaligus meningkatkan peluang sampah yang masih bernilai ekonomi untuk dimanfaatkan kembali.

Kisah Ruslan menjadi gambaran bahwa menjaga lingkungan membutuhkan ketekunan dan pengabdian. Di usianya yang telah 72 tahun, ia masih berdiri di antara tumpukan sampah, memilah satu demi satu, demi lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi masyarakat Desa Oro-Oro Ombo. Dari tangan para pemilah sampah, perubahan lingkungan dimulai. Dan dari rumah masing-masing warga, masa depan pengelolaan sampah yang lebih baik dapat diwujudkan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *