Paguyuban KSM TPS3R se-Kota Batu Bakal Didampingi Startup Resik-Resik, Perkuat Ekonomi dan Kemandirian Kelembagaan

Kabupaten Malang, Pintubatunews.com — Paguyuban Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) se-Kota Batu, akan dilakukan pendampingan startup Resik-Resik.

Disampaikan oleh Ichwan, pemilik startup Resik-Resik, dihadapan pengurus Paguyuban KSM TPS3R Se Kota Batu saat makan malam disalah satu rumah makan di Kepanjen Kabupaten Malang Minggu malam (25/10/2026).

Selain penguatan ekonomi, Ichwan menyampaikan bahwa pengembangan paguyuban juga diarahkan pada peningkatan kapasitas organisasi dan kemandirian kelembagaan.

“Dalam rencana tersebut, pendampingan akan melibatkan Pak Ken Sasmita Effendi bersama tim dari Inovasi Sosial Indonesia (ISI). Pendampingan diharapkan membantu paguyuban merumuskan arah organisasi, memperkuat tata kelola, serta menyusun program berdasarkan kebutuhan para anggotanya, “ tuturnya.

Ichwan berharap, setelah memperoleh pendampingan, Paguyuban KSM TPS3R se-Kota Batu mampu menjalankan program secara mandiri dengan dukungan kemitraan yang berkelanjutan dari PT Mahija.

Program sosial tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan kemitraan yang diharapkan berkembang menuju dukungan yang lebih berkelanjutan bagi pengelola sampah.

Saatnya KSM TPS3R Bersatu dan Naik Kelas

Pembentukan Paguyuban KSM TPS3R se-Kota Batu merupakan langkah yang patut diapresiasi. Selama ini, pengelola TPS3R berada di garis depan pelayanan persampahan, mulai dari pengumpulan, pemilahan, pengolahan sampah organik, hingga pemasaran material yang masih memiliki nilai ekonomi.

Akan tetapi, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Perbedaan kapasitas pengelolaan, keterbatasan sarana dan prasarana, persoalan biaya operasional, serta ketidakpastian pasar hasil pilahan menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan solusi bersama.

Foto saat makan malam di Kepanjen Malang.

“Karena itu, paguyuban jangan sampai hanya menjadi wadah silaturahmi atau organisasi yang aktif ketika menyelenggarakan kegiatan bersama. Lebih dari itu, paguyuban harus tumbuh menjadi kekuatan kolektif yang mampu memperjuangkan kepentingan anggotanya sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan persampahan di Kota Batu, “tambahnya.

Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian.

Pertama, membangun sistem pemasaran bersama yang transparan. Harga beli, standar kualitas, biaya transportasi, volume pengiriman, dan mekanisme pembayaran harus disepakati secara terbuka agar setiap KSM memperoleh manfaat yang adil.

Kedua, memperkuat kelembagaan. Paguyuban perlu memiliki program kerja, pembagian tanggung jawab, pencatatan keuangan, serta sistem pelaporan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh anggota.

Ketiga, membangun kemitraan yang seimbang. Kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, PT Mahija, Resik-Resik, Praktisi Persampahan dan lembaga pendamping perlu diarahkan pada peningkatan kapasitas KSM dalam jangka panjang, bukan sekadar kegiatan sesaat.

Keempat, mendorong dukungan kebijakan pemerintah daerah. Penguatan KSM TPS3R tidak cukup hanya mengandalkan semangat para pengelola dan bantuan mitra swasta. Diperlukan kebijakan yang mendukung keberlanjutan operasional, peningkatan keterampilan, pengembangan pasar hasil pilahan, dan penguatan ekonomi sirkular.

Kelima, menjaga agar manfaat kemitraan benar-benar dirasakan anggota. KSM dengan volume kecil harus tetap memiliki kesempatan berpartisipasi, sementara KSM dengan kapasitas besar dapat membantu memperkuat konsolidasi dan efisiensi pengiriman.

Pada akhirnya, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Pemerintah, masyarakat, pengelola TPS3R, dunia usaha, dan lembaga pendamping harus bergerak dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Foto saat sesi diskusi

Family gathering di Pantai Tanjung Penyu dan Sendang Biru dapat menjadi awal yang baik untuk memperkuat hubungan antarpengelola. Namun, ukuran keberhasilan sesungguhnya bukan hanya kebersamaan yang terbangun selama perjalanan, melainkan perubahan nyata setelah seluruh peserta kembali menjalankan tugasnya.

“Paguyuban harus menjadi ruang untuk bertumbuh bersama: dari KSM yang bekerja sendiri-sendiri menjadi kekuatan ekonomi kolektif, dari pengelolaan yang menghadapi keterbatasan menjadi kelembagaan yang semakin mandiri, dan dari sekadar mengurangi sampah menjadi bagian penting dalam membangun ekonomi sirkular yang berkelanjutan, “pungkas Ichwan.

Jika semangat kebersamaan tersebut dijaga dan diwujudkan melalui program konkret, Paguyuban KSM TPS3R se-Kota Batu berpeluang menjadi contoh kolaborasi pengelolaan sampah yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pegiatnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *