KOTA BATU, Pintubatunews.com — Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Bulukerto yang mengelola Tempat Penampungan Sementara (TPS) Gintung di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, masih menghadapi tantangan dalam memperluas pelayanan pengelolaan sampah rumah tangga. Dari sekitar 2.800 rumah tangga di Desa Bulukerto, saat ini baru 930 rumah yang mendapatkan layanan pengambilan sampah oleh KSM.
TPS Gintung yang berlokasi di depan Rumah Sakit Punten tersebut kini difungsikan sebagai sekretariat KSM sekaligus tempat penampungan sampah anorganik yang selanjutnya dipilah berdasarkan jenisnya. Sementara itu, aktivitas pemilahan sampah organik dan anorganik dilakukan di kawasan Sabrangan, arah Gunung Pucung.
Ketua KSM Bulukerto TPS Gintung, Bukhori, menjelaskan bahwa keberadaan rumah kompos menjadi salah satu kebutuhan penting agar pengelolaan sampah di Desa Bulukerto dapat menjangkau lebih banyak rumah tangga.
Hal itu disampaikannya saat ditemui bersama Rohim Nursholeh, Tim Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Sabtu (17/10/2026).
Berawal dari TPS, Sempat Melahirkan KSM Perintis
Bukhori menerangkan, bangunan TPS Gintung didirikan pada 2017 melalui dukungan anggaran DLH Kota Batu, Pemerintah Desa Bulukerto, serta swadaya masyarakat.
Pada awalnya, TPS tersebut digunakan sebagai tempat penampungan sampah sementara. Ketika bak penampungan penuh, sampah diangkut menggunakan truk menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tlekung.
Namun, setelah TPA Tlekung ditutup oleh Pemerintah Kota Batu pada 30 Agustus 2023, pengelolaan sampah di tingkat desa menghadapi tantangan baru. Pada September 2023, terbentuk KSM perintis bernama Kertojoyo yang kemudian berhasil meraih predikat juara kedua dari Pemerintah Kota Batu.
Sayangnya, perjalanan KSM Kertojoyo tidak berlangsung lama. Pada Maret 2024, kepengurusan kelompok tersebut bubar.
Menurut Bukhori, salah satu persoalan yang dihadapi adalah lokasi TPS yang berdekatan dengan kawasan sumber mata air Gemulo. Jaraknya disebut tidak sampai 500 meter sehingga muncul kekhawatiran terhadap potensi pencemaran air akibat lindi atau cairan yang dihasilkan dari timbunan sampah.
Selain persoalan lingkungan, bau sampah organik juga mendapat penolakan warga karena lokasi TPS berada persis di depan Rumah Sakit Punten.
“Lokasi TPS ini dekat dengan sumber mata air Gemulo, sehingga dikhawatirkan air lindinya mencemari sumber mata air. Bau sampah organiknya juga mendapat penolakan dari warga karena persis di depan Rumah Sakit Punten,” tutur Bukhori.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan sampah organik memerlukan lokasi dan sistem penanganan yang lebih sesuai, tanpa mengabaikan perlindungan lingkungan maupun kenyamanan masyarakat sekitar.

Baru Layani 930 dari 2.800 Rumah Tangga
Saat ini, KSM Bulukerto memiliki tujuh orang yang terdiri atas pengurus dan pekerja. Kelompok tersebut melayani pengambilan sampah dari 930 rumah tangga dengan iuran sebesar Rp20.000 per rumah.
Dengan jumlah sasaran sekitar 2.800 rumah tangga, masih terdapat sekitar 1.870 rumah yang belum terlayani oleh KSM. Sebagian warga masih mengelola sampahnya secara mandiri, termasuk sampah organik yang ditangani dengan membuat lubang atau juglangan di kebun masing-masing.
Bukhori berharap, apabila rumah kompos di kawasan Sabrangan dapat tersedia, KSM Bulukerto bisa memperluas cakupan pelayanan hingga seluruh rumah tangga di Desa Bulukerto.
“Apabila nanti kami sudah memiliki rumah kompos untuk mengelola sampah organik di Sabrangan, kurang lebih 2.800 rumah tangga di Desa Bulukerto akan kami tangani semuanya. Dapat dibayangkan, dari 2.800 rumah, kami baru bisa menangani 930 rumah saja,” jelasnya.
Keberadaan rumah kompos diharapkan dapat menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Sampah organik dapat ditangani melalui proses pengolahan yang sesuai, sedangkan sampah anorganik dipilah berdasarkan jenisnya agar memiliki peluang untuk dimanfaatkan kembali atau didaur ulang.
Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kegiatan pengumpulan dan pemindahan, tetapi juga memerlukan fasilitas pengolahan yang memadai di tingkat desa.
Pekerja Sampah Perlu Perlindungan Jaminan Sosial
Di balik upaya memperluas pelayanan, KSM Bulukerto juga menghadapi persoalan sumber daya manusia. Pekerjaan memilah sampah, terutama sampah organik, memiliki tantangan tersendiri karena pekerja harus berhadapan dengan bau tidak sedap serta risiko yang dapat muncul selama bekerja.
Bukhori menilai pekerjaan tersebut membutuhkan komitmen dan kepedulian. Tidak semua orang bersedia bekerja di lingkungan dengan kondisi seperti itu, padahal keberadaan petugas persampahan sangat penting untuk menjaga kebersihan lingkungan permukiman.
Karena itu, KSM Bulukerto berencana mendaftarkan para anggotanya sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Langkah ini diharapkan memberikan perlindungan jaminan sosial bagi pekerja apabila mengalami kecelakaan kerja sesuai ketentuan program yang diikuti.
“Untuk itu, kami berencana mendaftarkan anggota KSM ke BPJS Ketenagakerjaan agar mereka dapat bekerja dengan tenang tanpa memikirkan biaya apabila terjadi kecelakaan kerja,” pungkas Bukhori.
Upaya KSM Bulukerto tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di tingkat desa tidak cukup hanya mengandalkan partisipasi masyarakat. Dukungan fasilitas pengolahan, sistem pelayanan yang berkelanjutan, serta perlindungan bagi para pekerja juga menjadi bagian penting dalam membangun pengelolaan sampah yang lebih baik.
Harapannya, rencana pembangunan atau penyediaan rumah kompos di kawasan Sabrangan dapat menjadi langkah lanjutan untuk memperluas pelayanan KSM Bulukerto, sekaligus mendorong pengelolaan sampah yang lebih tertata, bertanggung jawab, dan memperhatikan kelestarian lingkungan di Desa Bulukerto, Kota Batu.













