Kota Batu – Pintubatunews.com — Mengelola sampah lingkungan ternyata tidak menghalangi Ruslan untuk tetap menjalani aktivitasnya sebagai petani stroberi. Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Dusun Pandan, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, ini sehari-hari juga aktif mengelola kebun stroberi milik keluarganya.
Ruslan dipercaya memimpin KSM TPS3R Dusun Pandan sejak September 2024. Sebelumnya, ia telah dipercaya masyarakat sebagai Ketua RT 18 RW 11 sejak 2017 hingga sekarang. Saat ditemui di TPS3R Dusun Pandan, Kamis (20/8/2026), Ruslan terlihat melakukan aktivitas pengambilan dan pemilahan sampah bersama Handik, Ketua RW 11, serta Solikin, Ketua RT 19 RW 11.
Menurut Ruslan, kegiatan pengelolaan sampah dilakukan bersama para pengurus lingkungan sejak September 2024. Sebelum tersedia rumah kompos, sampah organik yang telah dipilah langsung dibuang karena belum memiliki fasilitas pengolahan.
“Sejak September 2024 kami bersama-sama mengurusi sampah. Sekarang sampah dipilah, sementara untuk sampah organik sudah ada rumah kompos,” ujar Ruslan.

Di luar aktivitasnya mengelola TPS3R, Ruslan sehari-hari menekuni usaha pertanian stroberi bersama orang tuanya, telah mereka jalankan sejak era 1990-an.
Desa Pandanrejo sendiri sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra penghasil stroberi di Kota Batu. Ruslan mengatakan, harga stroberi di tingkat petani saat ini masih berada di kisaran Rp30.000 per kilogram dan dipasarkan kepada pengepul di wilayah Desa Pandanrejo.
“Ukuran besar maupun kecil harganya masih sekitar Rp30.000 per kilogram di tingkat petani,” katanya.
Menurut Ruslan, kebutuhan stroberi di wilayah Malang Raya cukup tinggi, mencapai sekitar 6 hingga 7 kuintal setiap hari. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pasokan stroberi juga didatangkan dari Bandung, Jawa Barat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Solikin Ketua RT 19 RW 11 yang juga anggota KSM TPS3R Dusun Pandan. Ia berharap para pengepul lebih mengutamakan hasil produksi petani lokal Kota Batu sebelum mendatangkan stroberi dari luar daerah.
“Kami berharap pengepul mengutamakan petani lokal. Kalau petani lokal sedang panen raya dan stok melimpah, mereka sering kebingungan menjual hasil panennya. Kasihan petani lokal kalau hasil panennya tidak terserap,” ujar Solikin.
Ia menilai masuknya pasokan dari luar daerah, termasuk Bandung, pada saat produksi petani lokal melimpah dapat berdampak terhadap harga stroberi di tingkat petani.

Ruslan sendiri memiliki dua lahan stroberi. Salah satu lahannya berada tidak jauh dari Lumbung Stroberi dan dapat dimanfaatkan sebagai lokasi wisata petik stroberi. Sementara lahan lainnya lebih difokuskan untuk produksi stroberi yang kemudian dipanen dan dijual kepada pedagang pengepul.
Bagi Ruslan, menjadi petani sekaligus mengelola TPS3R merupakan bagian dari aktivitasnya bersama masyarakat. Di satu sisi ia berupaya menjaga lingkungan melalui pengelolaan sampah, sementara di sisi lain tetap mempertahankan sektor pertanian yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat Desa Pandanrejo.












