Kota Batu_Pintubatunews.com – Pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Batu mendapat perhatian akademisi internasional. Guru Besar Universiti Malaysia Sabah (UMS), Prof. Dr. Abu Zahrim Yaser, bersama rombongan Universitas Brawijaya (UB) melakukan kunjungan ke Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Rabu (2/9/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda diskusi dan transfer knowledge terkait pengomposan, berdasarkan surat Ketua Departemen Teknik Biosistem, Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya tertanggal 27 Agustus 2026.
Rombongan yang terdiri dari sekitar 10 orang tersebut disambut pengurus Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) TPS3R Kelurahan Dadaprejo. Dalam kegiatan tersebut turut hadir perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Koordinator Kecamatan Pendamping TPS3R, Pendamping TPS3R Kelurahan Dadaprejo, perwakilan Kantor Kelurahan Dadaprejo, serta Tim Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan pada DLH Kota Batu. Juga hadir Tonis Afrianto dari Ecoton.

Kota Batu Pilih Sistem Desentralisasi
Dalam kesempatan tersebut, Eni Maulidiyah, ST, M.Si, Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan DLH Kota Batu, menjelaskan kepada Prof. Abu Zahrim Yaser mengenai perkembangan pengelolaan persampahan di Kota Batu.
Menurutnya, sejak Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tlekung ditutup pada 31 Agustus 2023, pengelolaan sampah di Kota Batu dilakukan dengan pendekatan desentralisasi, yakni sampah dikelola di masing-masing desa dan kelurahan melalui TPS3R.
“Sejak penutupan TPA Tlekung, pengelolaan sampah di Kota Batu dilakukan secara terdesentralisasi di masing-masing desa dan kelurahan. Saat ini telah ada 34 TPS3R, 17 rumah kompos dan satu big komposter,” jelas Eni.
Konsep tersebut menarik perhatian Prof. Abu Zahrim Yaser. Ia mengapresiasi kebijakan Kota Batu yang mendorong pengelolaan sampah sedekat mungkin dengan sumbernya. Menurutnya, pendekatan desentralisasi memiliki keunggulan karena sampah tidak seluruhnya harus dikumpulkan dan dibawa ke satu lokasi pengolahan.
Malaysia Lebih Sentralisasi
Prof. Abu Zahrim kemudian membandingkan sistem pengelolaan sampah di Kota Batu dengan Malaysia. Ia menjelaskan, pengelolaan sampah di Malaysia cenderung dilakukan secara sentralisasi, dengan fasilitas pengelolaan berskala besar.
Dua fasilitas yang menjadi contoh adalah Jeram, fasilitas pengelolaan dan sanitary landfill utama di Selangor yang juga dikembangkan dengan teknologi pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy), serta Bukit Tagar, fasilitas sanitary landfill modern di Selangor yang menerapkan sistem pengelolaan sampah terpadu dan ramah lingkungan.
“Kalau di Malaysia dilakukan secara sentralisasi, hanya di dua tempat,” ujar Prof. Abu Zahrim.

Pengolahan Sampah Organik Idealnya Dimulai dari Rumah
Dalam diskusi mengenai pengomposan, Prof. Abu Zahrim menilai bahwa pengelolaan sampah organik yang paling ideal justru dimulai dari tingkat rumah tangga.
“Yang paling bagus pengelolaan sampah organik dilakukan di setiap rumah tangga. Contohnya di rumah saya sendiri membuat komposter sendiri, itu yang paling bagus dan ideal,” ungkapnya.
Namun, ia memahami bahwa penerapan komposter rumah tangga di kawasan perkotaan memiliki tantangan tersendiri, terutama kekhawatiran masyarakat terhadap bau.
Menurutnya, sistem desentralisasi seperti yang diterapkan di TPS3R Kelurahan Dadaprejo dapat menjadi salah satu solusi untuk mengolah sampah organik lebih dekat dengan sumbernya.
;Tantangan Terbesar Bukan Membuat Kompos, tetapi Memasarkannya
Prof. Abu Zahrim juga memberikan perhatian khusus terhadap keberlanjutan hasil pengomposan.
Menurutnya, produksi kompos harus diikuti dengan strategi pemasaran yang baik. Jangan sampai kompos yang sudah berhasil diproduksi justru tidak terserap oleh masyarakat.
“Masalah terbesar dari kompos yang dihasilkan adalah pemasarannya,” ujarnya.
Ia menyarankan agar pengelola TPS3R maupun rumah kompos membuat demonstration plot (demplot) atau lahan percontohan dengan menggunakan kompos yang mereka produksi. Demplot tersebut, menurutnya, sebaiknya diterapkan pada beberapa jenis tanaman sehingga masyarakat, terutama petani, dapat melihat secara langsung hasil penggunaan kompos.
“Untuk pemasaran yang baik yaitu harus dibuatkan tempat untuk uji coba penggunaan kompos atau demoplot tanaman dengan menggunakan kompos yang sudah dihasilkan. Demplot tersebut harus dilakukan pada beberapa tanaman. Kalau hasilnya bagus tentunya petani akan tertarik menggunakan kompos sebagai pengganti pupuk kimia,” jelasnya.
Harga Kompos Indonesia dan Malaysia Berbeda
Dalam diskusi tersebut juga muncul pembahasan mengenai harga kompos.
Harga kompos yang dihasilkan rumah kompos di Kota Batu saat ini berada di kisaran Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram.

Sementara itu, Prof. Abu Zahrim menyebut harga kompos di Malaysia mencapai sekitar 2,5 ringgit per kilogram, atau jika dikonversikan sekitar Rp10.900 per kilogram.
Perbedaan harga tersebut menjadi salah satu bahan diskusi menarik dalam upaya melihat peluang pengembangan ekonomi dari pengelolaan sampah organik.
Kunjungan akademisi Universiti Malaysia Sabah ke TPS3R Dadaprejo diharapkan tidak berhenti sebagai kunjungan lapangan semata. Pertukaran pengalaman antara Kota Batu, Universitas Brawijaya, dan Universiti Malaysia Sabah menjadi momentum untuk memperkuat inovasi pengelolaan sampah, khususnya pengolahan sampah organik dan pengembangan kompos yang memiliki nilai ekonomi.
Dari Dadaprejo, sampah tidak sekadar dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, inovasi, dan peluang ekonomi bagi masyarakat.













