Opini  

Dana Desa: Harapan yang Sempat Menyala, Lalu Dibiarkan Berkedip

Banggai Sulawesi Tengah Pintubatunews.com Tadi pagi, sebelum mandi seperti biasanya, saya duduk santai di beranda rumah. Menikmati racikan kopi buatan istri tercinta, kopi yang entah kenapa selalu terasa paling jujur, sambil membuka pesan-pesan yang masuk di Messenger. Dari sekian banyak pesan itu, isinya beragam: tanggapan, kritik, pertanyaan, juga pandangan tentang opini saya soal desa.

Di antara semua pesan itu, ada satu pemikiran yang kembali mengusik. Sebenarnya bukan hal baru, justru ini pemikiran lama yang sering saya diskusikan dengan banyak kawan ketika berbicara tentang daerah dan desa: โ€œJika seandainya ada kolaborasi yang baik antara daerah dan desa, pasti daerah kita maju.โ€ Pikiran itulah yang membuat insting jurnalistik saya kembali berselancar. Saya menuliskannya lagi, dengan harapan bisa menjadi bahan diskursus untuk diperdebatkan, diuji, dan direnungkan bersama.

**

Sejak Dana Desa hadir, desa tidak lagi sekadar halaman belakang negara. Ia menjelma menjadi harapan bahkan tumpuan bagi republik yang selama ini kerap kebingungan menuntaskan persoalan di akar rumput. Banyak pemimpin di tingkat daerah pusing memikirkan desa, sebab di sanalah seluruh kompleksitas masalah bermuara: infrastruktur tertinggal, layanan sosial dasar yang timpang, hingga problem sosial-ekonomi yang berlapis. Anggaran daerah jelas tidak pernah cukup untuk menyelesaikan semuanya sendirian.

Kehadiran Dana Desa mengubah peta. Ratusan juta hingga miliaran rupiah kini beredar di desa setiap tahun. Untuk pertama kalinya, desa memiliki โ€œnapas fiskalโ€ sendiri. Ia tak lagi sepenuhnya menunggu uluran tangan kabupaten/kota atau provinsi. Desa bisa merencanakan, membangun, dan menggerakkan ekonominya secara mandiri tentu dengan melibatkan warganya.

Dalam banyak diskusi dengan kawan-kawan kepala desa, pegiat desa, hingga aktivis, saya kerap mengatakan satu hal sederhana: jika kepala daerah mampu bersinergi dengan desa, maka percepatan pembangunan bukanlah mimpi. Uang miliaran rupiah yang beredar di desa bukan sekadar angka dalam laporan. Ia adalah energi pembangunan yang, bila diarahkan dengan tepat, bisa menjadi mesin kemajuan daerah.

Logikanya sederhana. Penyelarasan visi dan arah kebijakan pembangunan tidak harus berarti intervensi kewenangan. Justru di situlah seni kepemimpinan diuji. Desa dan daerah memiliki batas tugas yang jelas. Desa bekerja pada kewenangannya: PAUD, Posyandu, infrastruktur dasar skala lokal, serta pemberdayaan masyarakat. Maka daerah semestinya fokus pada ruang yang tak bisa disentuh desa: sekolah dasar hingga SLTA, puskesmas, rumah sakit, dan infrastruktur pelayanan publik berskala lebih besar.

Bayangkan bila visi daerah adalah memperbaiki kualitas pendidikan. Desa menguatkan fondasi melalui PAUD dan lingkungan belajar yang layak. Daerah hadir dengan memperbaiki sekolah dasar hingga menengah, meningkatkan kualitas guru, dan memastikan akses pendidikan yang merata. Di sektor kesehatan pun demikian: desa menggerakkan Posyandu dan pencegahan, sementara daerah memperkuat puskesmas dan rumah sakit. Tidak tumpang tindih, tidak saling mencurigai, yang ada hanyalah pembagian peran yang masuk akal.

Masalahnya, sinergi sering berhenti di level slogan. Desa dipuji sebagai ujung tombak pembangunan, tetapi arah kebijakan daerah berjalan sendiri. Dana Desa seolah berada di jalur paralel, bukan bagian dari orkestrasi besar pembangunan wilayah. Akibatnya, potensi miliaran rupiah di desa kerap bergerak tanpa irama yang sama dengan visi daerah.

Padahal, bila desa dan daerah benar-benar berjalan seirama, desa bukan hanya harapan ia menjadi akselerator. Bukan sekadar objek pembangunan, melainkan mitra strategis. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Dana Desa penting. Itu sudah selesai diperdebatkan. Pertanyaan sesungguhnya: apakah para pemimpin daerah siap menurunkan ego sektoral dan menjadikan desa sebagai kawan seperjalanan, bukan sekadar penerima kebijakan?

Di situlah masa depan daerah sedang diuji. Bukan di ruang rapat yang penuh jargon, tetapi di desa tempat kopi pagi, obrolan warga, dan realitas pembangunan benar-benar terjadi.**

Salam berdesa,!!

Penulis: Hamadin Moh NurungEditor: Arif Erwinadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *