Kota Batu, Pintubatunews.com — Berbagai uji coba dilakukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Paba Asri, Dusun Payan, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, untuk mengatasi persoalan bau menyengat dalam proses pengolahan sampah organik.
Berkat upaya tersebut, bau menyengat yang sebelumnya mengganggu aktivitas pekerja kini berhasil dikendalikan. Bahkan, pengelola mengembangkan bioaktivator berbahan dasar buah nanas sebagai alternatif untuk membantu mengurangi bau sampah organik dengan bahan baku yang relatif murah.
Ketua KSM TPS3R Paba Asri, Dwi Endang Purwanti, menceritakan pengalaman tersebut saat melakukan kunjungan lapang ke TPS Dusun Kungkuk, Desa Punten Kamis (10/9/2026), yang hingga kini belum beroperasi. Kunjungan itu dilakukan bersama M. Soleh, Koordinator Kecamatan Bumiaji Pendamping TPS3R dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, serta Andik Wahyudi, Pendamping TPS3R Desa Punten.
Dwi Endang mengungkapkan, pada awal pengolahan sampah organik di bak penampungan, bau yang muncul sangat menyengat. Kondisi tersebut bahkan membuat kepala terasa pusing bagi orang yang tidak tahan terhadap baunya. Selain itu, tumpukan sampah juga mengundang banyak belatung dan lalat.
“Pemrosesan sampah organik di bak penampungan di dalam TPS3R ini awalnya berbau menyengat. Bahkan, yang tidak tahan bisa merasa pusing. Belatung dan lalat juga sangat banyak. Untuk mengatasi persoalan bau tersebut, kami melakukan berbagai macam uji coba. Syukurlah, saat ini sudah tidak berbau lagi,” tuturnya.
Uji Coba EM4 hingga Eco Enzyme
Pada tahap awal, pengelola menggunakan campuran 10 liter air cucian beras (Bahasa Jawa leri) dengan 1 liter bioaktivator EM4 untuk membantu mengatasi bau sampah organik.
Setelah mengikuti pelatihan pembuatan eco enzyme, pengelola kemudian mencoba metode lain. Setiap dua hingga tiga hari sekali, tumpukan sampah organik disemprot menggunakan campuran 10 liter air cucian beras dan 2 liter eco enzyme. Penggunaan eco enzyme selanjutnya dikurangi ketika bau sampah sudah terkendali.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya TPS3R Paba Asri menemukan metode pengolahan yang sesuai dengan kondisi di lapangan. Pengelola tidak hanya mengandalkan satu bahan, tetapi juga melakukan evaluasi berdasarkan hasil penerapan sehari-hari.

Buah Nanas Jadi Bahan Bioaktivator Alternatif
Tidak berhenti pada penggunaan EM4 dan eco enzyme, pengelola TPS3R Paba Asri juga mengembangkan uji coba pembuatan bioaktivator alternatif berbahan dasar buah nanas.
Menurut Dwi Endang, inovasi ini dilakukan untuk mencari bahan baku yang relatif murah, mudah diperoleh, dan dapat membantu mengurangi bau dalam proses pengolahan sampah organik.
Proses pembuatannya dimulai dengan memotong daging buah nanas menjadi bagian-bagian kecil, kemudian menimbang sebanyak 300 gram. Potongan nanas tersebut dicampur dengan 50 gram gula pasir dan 1 liter air mineral merek Cleo, lalu difermentasi selama tujuh hari.
Setelah fermentasi pertama selesai, larutan tersebut dapat dikembangkan kembali dengan menambahkan buah-buahan lain, seperti jeruk, apel, dan stroberi yang telah dipotong kecil-kecil, serta tambahan air. Campuran kemudian difermentasi kembali selama tujuh hari.
Setelah melalui tahapan tersebut, larutan hasil fermentasi digunakan sebagai bahan semprot pada tumpukan sampah organik.
“Selanjutnya, kami juga melakukan uji coba pembuatan bioaktivator dengan mencari bahan baku yang murah, tetapi hasilnya bagus untuk mengurangi bau pemrosesan sampah organik, yaitu menggunakan buah nanas,” jelasnya.
Ia menambahkan, penerapan berbagai metode tersebut memberikan hasil positif. Tumpukan sampah organik di TPS3R Paba Asri kini tidak lagi mengeluarkan bau menyengat seperti sebelumnya.
Meski demikian, metode fermentasi berbahan nanas tersebut merupakan hasil uji coba pengelola. Efektivitasnya masih perlu dibuktikan melalui pengujian lebih lanjut agar dapat diketahui konsistensi hasil dan kondisi penggunaan yang paling tepat.
Kompos Paba Asri Telah Diuji Laboratorium
Di tengah keterbatasan dalam pengelolaan sampah, TPS3R Paba Asri tetap berupaya mengubah sampah organik menjadi produk yang bermanfaat, salah satunya kompos.
Produk kompos yang dihasilkan TPS3R Paba Asri tercatat telah menjalani pengujian laboratorium pada 5 Maret 2021 di Laboratorium Tanah, Tanaman, Pupuk, Air, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jalan Karangploso Nomor 04, Malang. Berdasarkan keterangan pengelola, hasil pengujian tersebut menyatakan kompos TPS3R Paba Asri layak digunakan untuk tanaman hortikultura.
Saat ini, pengelola masih memiliki persediaan sekitar 3 ton kompos yang siap dipanen. Keberadaan produk tersebut menunjukkan potensi pengolahan sampah organik untuk menghasilkan material yang dapat dimanfaatkan kembali. Sampah yang sebelumnya berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan dapat diolah menjadi kompos untuk mendukung kegiatan pertanian dan budidaya tanaman.
Namun, hasil pengujian laboratorium pada 2021 tersebut tidak serta-merta menjadi jaminan bahwa setiap produksi kompos berikutnya memiliki kualitas yang sama. Pengujian berkala tetap diperlukan untuk memastikan mutu produk yang dihasilkan.
Layani Sekitar 650 Pelanggan, Pemilahan dari Rumah Jadi Kunci
TPS3R Paba Asri saat ini melayani sekitar 650 pelanggan. Jumlah tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan sampah yang terencana, mulai dari pengumpulan hingga pemrosesan di lokasi TPS3R.
Salah satu faktor yang menentukan kelancaran proses tersebut adalah pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.
Sampah organik yang tercampur dengan plastik dan material anorganik lainnya dapat menambah beban kerja petugas. Sebaliknya, pemilahan yang baik sejak dari sumbernya akan membantu mempermudah proses pengolahan, mengurangi kontaminasi bahan kompos, serta mendukung efisiensi tenaga dan biaya operasional.
Pengalaman TPS3R Paba Asri memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan sarana dan prasarana. Inovasi pengolahan, kemauan melakukan uji coba, dan keterlibatan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan operasional.
Dengan dukungan pemilahan sampah dari masyarakat, TPS3R diharapkan mampu menjalankan fungsi pengurangan sampah secara lebih optimal sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai guna bagi lingkungan dan sektor pertanian.













