Kota Batu, Pintubatunews.com – Gerakan Batu Pilah Sampah melalui program RW Mandiri Sampah mulai diperkuat dengan pelaksanaan Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) di RW 9 Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu. Kegiatan yang berlangsung selama delapan hari, mulai 15 hingga 22 Oktober 2026, ini menjadi langkah strategis untuk memetakan karakteristik sampah rumah tangga sekaligus menyiapkan pola pengelolaan sampah berbasis kawasan.
Program tersebut terselenggara melalui kolaborasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Ecoton, Tim Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan pada DLH Kota Batu, serta kader lingkungan Kelurahan Sisir.
Selama pelaksanaan AKSA, tim melakukan pengambilan sampah dari rumah warga setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 10.30 WIB. Kegiatan dipusatkan di kawasan Gang Kantor Kelurahan Sisir dengan melibatkan 51 rumah tangga dari total 150 kepala keluarga (KK) di RW 9 sebagai sampel analisis.
Rata-rata 12 orang terlibat setiap hari dengan pembagian tugas yang terstruktur. Mereka bertanggung jawab mengambil sampah, melakukan penimbangan, mencatat hasil pengukuran, mendokumentasikan kegiatan, hingga memasang stiker penanda di rumah warga.
Stiker tersebut memuat nomor urut, nama kepala keluarga, RT/RW, serta jumlah anggota keluarga. Selain menjadi identitas sampel, stiker juga digunakan untuk menandai kondisi pemilahan sampah di setiap rumah.
Tim menggunakan tiga warna sebagai indikator. Hijau menandakan sampah telah dipilah, kuning menunjukkan masih terdapat sampah yang tercampur, sedangkan merah menandakan warga belum bersedia memilah sampahnya.
Penandaan ini menjadi bagian dari upaya mengenali kondisi riil perilaku pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Dengan demikian, pendekatan menuju RW Mandiri Sampah tidak hanya bertumpu pada penyediaan sarana, tetapi juga pada pemetaan kebiasaan warga dan kebutuhan pengelolaan sampah di kawasan tersebut.

AKSA Petakan Profil Sampah, Jadi Dasar Kampung Zero Waste
Manager Program Zero Waste Ecoton, Tonis Afrianto, S.I.Kom, yang hadir pada hari ketujuh pelaksanaan, Rabu (21/10/2026), mengikuti proses pengambilan, penimbangan, serta pemilahan sampah anorganik ke dalam 40 jenis.
Tonis menjelaskan, pelaksanaan AKSA membutuhkan persiapan dan koordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga unsur masyarakat di tingkat lingkungan.
“Menuju pelaksanaan AKSA kita melakukan banyak persiapan, salah satunya koordinasi dengan multipihak. Seperti dengan DLH, Kelurahan Sisir, kawasan yang menjadi tujuan, seperti dengan Ketua RT, Ketua RW, kita banyak melakukan pertemuan. Melibatkan kader dan relawan seperti ibu-ibu PKK, pegiat lingkungan termasuk tim praktisi kita libatkan semua,” tuturnya saat ditemui di belakang Kantor Kelurahan Sisir.
Menurut Tonis, salah satu keluaran utama AKSA adalah tersusunnya data profil sampah kawasan. Data tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan strategi pengelolaan sampah yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan wilayah.
“Dalam pelaksanaan AKSA keluarannya menghasilkan data profil sampah kawasan. Manfaatnya untuk mempermudah bagaimana menciptakan kampung zero waste. Jadi nantinya dari DLH bisa melengkapi, kalau profil sampah misalnya sampah organiknya persentase paling banyak. Mungkin nanti dari DLH akan men-support lebih banyak komposter, kemudian untuk anorganik dengan menguatkan bank sampahnya dan lain-lain,” jelasnya.
Dengan adanya data tersebut, intervensi pengelolaan sampah diharapkan lebih tepat sasaran. Apabila sampah organik mendominasi, misalnya, kebutuhan komposter dapat menjadi salah satu prioritas. Sementara itu, pengelolaan sampah anorganik dapat diperkuat melalui optimalisasi bank sampah dan kerja sama dengan mitra pengumpulan material daur ulang.

Pemilahan dari Rumah Jadi Kunci Perubahan Sistem
Lebih jauh, Tonis menilai hasil AKSA dapat menjadi pijakan bagi lahirnya kebijakan di tingkat lingkungan, termasuk kewajiban memilah sampah sejak dari rumah tangga.
Kebijakan tersebut, menurutnya, dapat didorong melalui peran Ketua RT dan Ketua RW agar pemilahan sampah tidak berhenti sebagai imbauan, tetapi berkembang menjadi kebiasaan bersama yang didukung aturan di tingkat masyarakat.
“Di sisi lain nanti akan muncul kebijakan seperti ada kewajiban memilah sampah dari rumah tangga. Kewajiban atau kebijakan ini nanti dikeluarkan oleh Ketua RT atau Ketua RW, sehingga akan timbul manfaat yang akan didapat. Ternyata kalau memilah sampah dari rumah dan melakukan pengambilan sampah yang sudah terpilah itu jauh lebih bermanfaat atau baik,” ungkapnya.
Menurut dia, pemilahan sejak dari sumbernya akan membuat alur pengelolaan sampah lebih efektif. Sampah organik dapat langsung diarahkan ke pengolahan organik, sedangkan sampah anorganik yang masih bernilai ekonomis dapat disalurkan melalui kerja sama dengan bank sampah atau pengepul.
Adapun sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan melalui kedua jalur tersebut akan dibawa ke TPS3R Kelurahan Sisir untuk menjalani penanganan lebih lanjut sesuai sistem pengelolaan yang diterapkan.
“Jadi pengelolaan sampahnya sudah bisa fokus, kalau sampah organik langsung bisa dikelola. Sampah anorganik langsung bisa bekerja sama dengan mitra bank sampah atau pengepul. Yang residu nanti dibawa diolah lebih lanjut di TPS3R Kelurahan Sisir. Itu tadi salah satu rangkaian menuju RW sampah mandiri di Kota Batu,” pungkas Tonis.
Bukan Sekadar Menimbang Sampah
Pelaksanaan AKSA di RW 9 Sisir memperlihatkan bahwa upaya membangun kawasan mandiri sampah membutuhkan lebih dari sekadar kegiatan pengangkutan dan pengolahan. Data karakteristik sampah, perubahan perilaku warga, dukungan sarana, serta kebijakan di tingkat lingkungan menjadi unsur yang saling berkaitan.
Melalui pemetaan terhadap 51 rumah tangga, RW 9 diharapkan memiliki gambaran awal untuk menyusun langkah pengelolaan sampah yang lebih terarah. Hasil analisis juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pemilahan dari sumber dan menentukan kebutuhan fasilitas pengolahan berdasarkan komposisi sampah yang ditemukan.

Gerakan Batu Pilah Sampah melalui AKSA menjadi salah satu tahapan menuju RW Mandiri Sampah: membangun sistem dari rumah tangga, memperkuat kolaborasi warga dan pemerintah, serta mengarahkan sampah sesuai karakteristiknya agar tidak seluruhnya berakhir sebagai residu.












