Opini  

PROFIL PRAKTISI PERSAMPAHAN Sri Rahma: Meninggalkan Dagangan Rujak, Memilih Berjibaku dengan Sampah Desa Pendem

Dari TPS Mandiri Dusun Caru, Kini Memimpin TPS3R Sejahtera

Kota Batu — Pintubatunews.com — Tidak semua orang bersedia meninggalkan pekerjaan yang sudah menjadi sumber penghasilan demi mengurus sesuatu yang sering kali dianggap tidak berharga. Namun, Sri Rahma, perempuan kelahiran Malang, 13 September 1977, memilih jalan berbeda.

Ketika sebagian orang melihat sampah sebagai sesuatu yang harus segera dibuang, Sri Rahma justru melihatnya sebagai persoalan yang harus dihadapi dan diselesaikan.

Perjalanan itu dimulai dari sebuah TPS mandiri di Dusun Caru, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Kini, perempuan lulusan SMA tersebut dipercaya memimpin KSM TPS3R Sejahtera Desa Pendem. Sebuah perjalanan yang tidak lahir dari jabatan, melainkan dari kepedulian yang dilakukan secara konsisten.

Tiga Jam Sehari Berhadapan dengan Sampah

Jauh sebelum TPA Tlekung ditutup pada 30 Agustus 2023, Sri Rahma sudah lebih dahulu bersentuhan langsung dengan persoalan sampah. Awal 2023, ia diajak oleh adiknya yang saat itu menjabat sebagai Ketua RT untuk membantu mengelola TPS mandiri di Dusun Caru.

Setiap pagi, pukul 07.00 hingga 10.00 WIB, Sri Rahma berada di TPS. Tiga jam waktunya digunakan untuk memilah sampah. Setelah itu, ia pulang dan kembali menjalankan aktivitas ekonominya dengan berjualan rujak dan pulsa.

Tidak ada jabatan besar. Tidak ada fasilitas istimewa. Hanya pekerjaan sederhana: memilah sampah. Tetapi dari pekerjaan sederhana itulah perjalanan seorang praktisi persampahan mulai terbentuk.

Sri Rahma perlahan memahami bahwa sampah yang tercampur akan menjadi masalah, sementara sampah yang dipilah memiliki peluang untuk dimanfaatkan kembali.

Ketika Sampah Menjadi Pilihan Hidup

Kehidupan Sri Rahma sebelumnya tidak jauh dari aktivitas masyarakat. Sejak 2018, ia aktif dalam kegiatan PKK di tingkat RW dan Dusun Caru.

Ia juga terbiasa mengambil bagian dalam kegiatan demokrasi. Dalam setiap Pemilu, Sri Rahma beberapa kali dipercaya menjadi Pantarlih dan anggota KPPS. Bahkan pada Pemilu terakhir, ia dipercaya menjadi Ketua KPPS.

Pengalaman tersebut membentuk satu karakter penting dalam dirinya: siap bekerja ketika masyarakat membutuhkan.

Karakter itulah yang kemudian membawanya ke persoalan persampahan yang lebih besar.

Dari Ketua RT Menjadi Ketua KSM TPS3R

Awal 2024 menjadi titik penting dalam perjalanan Sri Rahma. Ia dipercaya menjadi Ketua RT.

Pada periode setelah TPA Tlekung ditutup, Pemerintah Desa Pendem kemudian menggelar musyawarah desa untuk membahas pengelolaan sampah di wilayah desa.

Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu turut hadir dalam musyawarah tersebut.

Salah satu agenda penting adalah memilih pengurus KSM TPS3R Sejahtera Desa Pendem.

Di hadapan para Ketua RW dan Ketua RT, Kepala Desa Pendem Tri Wahyuwono Efendi mengusulkan nama Sri Rahma sebagai Ketua KSM. Peserta musyawarah menyetujui usulan tersebut. Alasannya sederhana, tetapi justru sangat kuat.

Sri Rahma dinilai telah menunjukkan kepedulian terhadap persampahan melalui keterlibatannya mengelola TPS mandiri di Dusun Caru tanpa pamrih. Kepercayaan itu akhirnya diterima. Bukan karena ia mengejar posisi. Tetapi karena ia merasa ada manfaat yang bisa diberikan kepada masyarakat.

Harga Sebuah Amanah: Rujak Harus Berhenti

Menerima amanah sebagai Ketua KSM ternyata memiliki konsekuensi.

Sri Rahma sadar, mengurus TPS3R tidak bisa dilakukan sambil lalu.

Karena itu, aktivitas berjualan rujak di rumah yang sebelumnya menjadi bagian dari kesehariannya harus dihentikan. Ia memilih berkonsentrasi mengurus TPS3R.

Keputusan tersebut menjadi salah satu bagian paling menarik dari perjalanan Sri Rahma.

Ia tidak hanya menerima jabatan, tetapi juga menerima konsekuensi dari jabatan tersebut.

Waktu yang sebelumnya digunakan untuk berjualan kini lebih banyak dicurahkan untuk memikirkan bagaimana sampah masyarakat dapat ditangani setiap hari.

“TPS3R Dapat Uang Banyak, Ya?”

Ada satu pengalaman yang membuat Sri Rahma semakin memahami pentingnya edukasi masyarakat.

Suatu ketika, TPS3R menjual sampah plastik hasil pemilahan. Melihat aktivitas tersebut, seorang ibu berkomentar bahwa TPS3R tentu mendapatkan banyak uang dari penjualan sampah.

Sri Rahma tidak memilih untuk berdebat. Ia justru menunjukkan laporan keuangan. Di sana terlihat pemasukan dari iuran warga dan hasil penjualan sampah anorganik yang sudah dipilah.

Setelah dihitung, pemasukan tersebut ternyata belum mampu mencukupi kebutuhan operasional TPS3R setiap bulan. Pengalaman itu menjadi pelajaran penting.

Sampah memang mempunyai nilai ekonomi. Tetapi mengelola sampah juga membutuhkan biaya.

Ada tenaga manusia.

Ada alat.

Ada transportasi.

Ada kebutuhan operasional.

Ada proses pemilahan.

Dan semua itu membutuhkan dukungan.

Karena itu, menurut Sri Rahma, masyarakat tidak cukup hanya menyerahkan sampah kepada pengelola.

Masyarakat juga perlu memahami bagaimana proses panjang yang terjadi setelah sampah mereka diambil.

Tidak Bekerja Sendirian

Menjadi Ketua KSM tidak membuat Sri Rahma merasa dirinya adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab terhadap TPS3R. Sebaliknya, ia memilih membangun pola kerja bersama.

Ketika muncul persoalan, pengurus TPS3R membahasnya bersama. Jika sudah mendapatkan hasil pembahasan, persoalan tersebut disampaikan kepada Kepala Desa untuk mendapatkan saran dan arahan.

Bagi Sri Rahma, pengelolaan sampah tidak bisa dilakukan dengan pendekatan individual. Sampah adalah persoalan masyarakat. Maka penyelesaiannya juga harus melibatkan masyarakat.

Dari Rujak ke Sampah, dari Pedagang ke Penggerak Lingkungan

Perjalanan Sri Rahma memberikan satu pesan sederhana:

Praktisi persampahan tidak selalu lahir dari ruang kelas atau pendidikan khusus lingkungan.

Kadang, mereka lahir dari lingkungan masyarakat.

Dari seorang warga yang bersedia turun tangan.

Dari orang yang mau memilah sampah ketika orang lain memilih membuangnya.

Dari seseorang yang bersedia menerima tanggung jawab ketika persoalan semakin besar.

Sri Rahma adalah salah satu gambaran tersebut.

Ia pernah menjalani pagi dengan memilah sampah selama tiga jam, kemudian pulang untuk berjualan rujak.

Kini, rutinitasnya berubah.

Ia harus memikirkan sampah warga, mengatur pekerjaan pengurus dan pekerja TPS3R, menghadapi persoalan operasional, membangun komunikasi dengan pemerintah desa, sekaligus menjaga agar pengelolaan sampah tetap berjalan.

Perubahannya bukan sekadar perubahan pekerjaan.

Ini adalah perubahan cara memandang sebuah persoalan.

SAMPAH BUKAN AKHIR, TETAPI AWAL PERUBAHAN

Bagi Sri Rahma, sampah bukan sekadar sesuatu yang dibuang setelah tidak digunakan.

Di balik sampah terdapat persoalan lingkungan, ekonomi, perilaku, dan tanggung jawab sosial.

Dan dari Desa Pendem, ia memilih mengambil bagian.

Bukan dengan banyak teori.

Tetapi dengan bekerja.

Dari TPS mandiri Dusun Caru, ia belajar memilah.

Dari masyarakat, ia belajar memahami persoalan.

Dari TPS3R Sejahtera, ia belajar memimpin.

Dan dari semua proses tersebut, Sri Rahma menunjukkan bahwa perubahan lingkungan bisa dimulai dari satu orang yang bersedia turun tangan.

Sri Rahma Praktisi Persampahan — Ketua KSM TPS3R Sejahtera Desa Pendem
Kecamatan Junrejo, Kota Batu “Kalau memang dianggap bermanfaat untuk masyarakat, akhirnya saya terima.”

Infografis, ayo pilah sampah dari sumbernya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *