Kota Batu_Pintubatunews.com — Bagi Aisyatur Rizki Laila, atau yang akrab disapa Kiki, persoalan sampah awalnya mungkin hanya terlihat sebagai bagian dari aktivitas lingkungan. Namun, sejak terlibat langsung di TPS3R Temas Sae Bersatu, Kelurahan Temas, Kota Batu, pandangannya terhadap sampah berubah.
Perempuan kelahiran Malang, 7 Mei 1998 itu merupakan lulusan S1 Geografi Universitas Negeri Malang (UM) tahun 2021. Latar belakang pendidikan dan pengalaman berorganisasi sejak di bangku kuliah menjadi bekal bagi Kiki untuk terus terlibat dalam kegiatan sosial dan lingkungan.
Jejak pengabdiannya dimulai ketika masih menjadi mahasiswa. Ia aktif sebagai relawan di lingkungan kampus UM. Setelah menyelesaikan pendidikan, aktivitas sosialnya berlanjut di tengah masyarakat. Kiki menjadi kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) serta aktif dalam Karang Taruna, baik di tingkat RT maupun RW hingga sekarang.
Pengalaman profesionalnya kemudian bertambah ketika pada 2022 ia dipercaya menjadi Mitra Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu, sebagai petugas Pendataan Awal Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek).
Namun, perjalanan Kiki di bidang persampahan baru semakin intensif setelah perubahan besar dalam sistem pengelolaan sampah di Kota Batu.
TPA Tlekung Ditutup, TPS3R Menjadi Bagian Penting
Tanggal 31 Agustus 2023 menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan pengelolaan sampah Kota Batu ketika TPA Tlekung resmi ditutup.
Di Kelurahan Temas kemudian dibentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) TPS3R Temas Sae Bersatu sebagai bagian dari upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Sejak November 2023, Kiki bergabung sebagai Staf Administrasi TPS3R Temas Sae Bersatu.
Posisi tersebut mungkin berada di balik meja, tetapi tanggung jawabnya tidak sederhana. Administrasi menjadi salah satu fondasi agar kegiatan TPS3R dapat berjalan secara tertib dan terukur.
Kiki menangani berbagai pekerjaan administrasi umum, mulai dari mencatat surat masuk dan keluar, mengarsipkan dokumen, membuat notulen rapat, hingga menyiapkan berbagai laporan dan dokumen operasional.
Di sisi pelayanan, ia juga melakukan pendataan pelanggan. Data warga yang memperoleh pelayanan pengangkutan sampah harus dicatat dan diperbarui, termasuk pelanggan baru, pelanggan yang berhenti, maupun warga yang pindah. Pembagian wilayah pelayanan berdasarkan RT/RW serta jadwal pengambilan sampah juga menjadi bagian dari pekerjaannya.
Bukan Sekadar Administrasi
Pekerjaan Kiki semakin luas ketika administrasi mulai bersentuhan langsung dengan kegiatan operasional TPS3R.
Ia ikut mencatat jumlah sampah yang masuk, hasil pemilahan, serta berbagai hasil pengolahan apabila tersedia. Sampah yang dikelola perlu dibedakan berdasarkan jenisnya, seperti organik, anorganik, residu, dan jenis lainnya.
Demikian pula apabila terdapat hasil pengolahan seperti kompos, eco enzyme, atau produk daur ulang, data tersebut perlu dicatat. Material yang memiliki nilai ekonomi dan kemudian dijual juga menjadi bagian dari administrasi. Dari sinilah Kiki mulai memahami bahwa di balik satu karung sampah terdapat rangkaian pekerjaan yang panjang.
Ada petugas yang mengangkut, memilah, mengolah, mencatat, hingga memastikan sampah yang masuk dapat ditangani sesuai jenisnya.
Administrasi keuangan juga menjadi tanggung jawab penting. Kiki mencatat pemasukan dari iuran pelayanan sampah, pengeluaran operasional, bukti penerimaan dan pengeluaran, serta membantu penyusunan laporan keuangan secara berkala.
Ia juga menangani administrasi tenaga kerja, seperti daftar hadir, jadwal kerja, pembagian tugas, administrasi honor atau upah, hingga penyimpanan dokumen tenaga kerja.
Data Menjadi Dasar Pengelolaan
Bagi Kiki, administrasi bukan hanya urusan kertas dan arsip. Data menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana TPS3R memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Laporan mengenai jumlah sampah yang diterima, hasil pemilahan dan pengolahan, pemasukan dan pengeluaran, kegiatan TPS3R, serta pelayanan kepada masyarakat harus disiapkan secara berkala.
Dokumentasi kegiatan juga menjadi bagian dari pekerjaannya. Foto, video, data kegiatan, informasi kepada warga, hingga pencatatan keluhan pelanggan menjadi bagian dari aktivitas administrasi. Dengan demikian, Kiki berada di salah satu titik yang mempertemukan pengelola TPS3R dengan masyarakat.
Semakin Mengerti, Semakin Peduli
Terlibat langsung di TPS3R membuat Kiki mendapatkan pengalaman yang tidak diperoleh hanya dari bangku kuliah. Ia mengaku baru benar-benar memahami bahwa mengelola sampah ternyata tidak mudah.
Pengalaman tersebut bahkan membuatnya semakin prihatin ketika melihat masih ada masyarakat yang membuang sampah sembarangan.
Baginya, sampah bukan hanya persoalan bagaimana membuang sesuatu yang sudah tidak digunakan. Ada proses panjang yang harus dilakukan setelah sampah meninggalkan rumah.
Kesadaran itu tumbuh semakin kuat karena Kiki juga pernah berkunjung ke TPA Supit Urang di Kota Malang untuk melihat secara langsung pengelolaan sampah di tempat tersebut. Pengalaman melihat sistem pengelolaan di tempat lain memberikan tambahan wawasan mengenai bagaimana sampah dapat ditangani secara lebih terstruktur.
Memilih Bertahan untuk Lingkungan
Setelah terlibat langsung dalam pengelolaan TPS3R, Kiki justru semakin merasa nyaman berada di lingkungan kerja tersebut. Ada rasa lelah, ada persoalan yang harus diselesaikan, tetapi ada pula kepuasan ketika dapat ikut berkontribusi bagi lingkungan.
Salah satu hal yang terkadang membuatnya resah adalah ketika terjadi penumpukan sampah. Kondisi tersebut tidak hanya menjadi persoalan teknis, tetapi juga dapat memengaruhi kenyamanan masyarakat dan suasana kerja para pengelola.
Persoalan lain muncul dari dinamika hubungan antarpekerja. Perbedaan karakter dan kepentingan terkadang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, termasuk ketika muncul kecemburuan atau rasa iri di antara sesama pekerja. Bagi Kiki, persoalan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran.
Ia semakin menyadari bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh sarana dan prasarana. Kekompakan tim, komunikasi, kedisiplinan, dan rasa saling menghargai juga sangat menentukan.
Menjadi Bagian dari Tim Praktisi DLH Kota Batu
Perjalanan Kiki kemudian berkembang lebih luas. Sejak tahun 2025 hingga saat ini, Kiki tergabung dalam Tim Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan dan Tim Pendukung pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu sebagai Tim Pendukung.
Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya di bidang persampahan. Pengalaman sebagai staf administrasi TPS3R membuat Kiki memahami berbagai aktivitas pengelolaan sampah dari dekat, mulai dari pendataan, pencatatan, pelayanan masyarakat, dokumentasi, hingga berbagai persoalan yang muncul di lapangan.
Sebagai bagian dari Tim Pendukung, Kiki turut mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan percepatan pengelolaan persampahan di Kota Batu. Pengalaman dan keterlibatannya di TPS3R menjadi bekal penting untuk memahami kondisi persampahan secara nyata sekaligus ikut mendukung upaya peningkatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Generasi Muda di Tengah Gerakan Persampahan
Kehadiran Kiki di TPS3R Temas Sae Bersatu dan Tim Pendukung memberikan warna tersendiri dalam gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Dengan latar belakang pendidikan Geografi, pengalaman organisasi, pengalaman pendataan, serta keterlibatan langsung dalam administrasi TPS3R, ia berada dalam posisi yang strategis untuk memahami persoalan lingkungan dari sisi data sekaligus realitas lapangan.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan dalam pengelolaan sampah tidak selalu harus dimulai dari pekerjaan teknis di lapangan.
Administrasi yang tertib, data yang akurat, dokumentasi yang baik, dan komunikasi dengan masyarakat juga merupakan bagian penting dari pengelolaan persampahan.
Bagi Kiki, pilihan untuk tetap mengabdi di TPS3R merupakan sebuah proses untuk terus belajar.
Dari sekadar mencatat dan mengarsipkan, ia akhirnya memahami persoalan persampahan secara lebih luas tentang sampah yang menumpuk, warga yang masih membuang sembarangan, pekerjaan para petugas, dinamika sesama pekerja, hingga pentingnya membangun sistem pengelolaan yang mampu melibatkan masyarakat.
Dan dari balik meja administrasi TPS3R Temas Sae Bersatu, Kiki terus belajar menjadi bagian dari perubahan: bahwa persoalan sampah tidak akan selesai hanya dengan membuangnya, tetapi harus dikelola bersama sejak dari sumbernya.













