Opini  

Profil Gus Kikin, Pewaris Tebuireng yang Kini Memimpin PBNU 2026–2031

Foto Gus Kikin tahun 2022 sumber Wikipedia

Jombang, Pintubatunews.com — Nama K.H. Abdul Hakim Mahfudz, atau yang akrab disapa Gus Kikin, kini menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama (NU). Ia terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026–2031, setelah mendapatkan keputusan mufakat dari Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar Ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur.

Selain memimpin organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut, Gus Kikin dikenal sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ke-8, salah satu pesantren bersejarah yang didirikan oleh Hadratussyaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari.

Lahir dari Keluarga Ulama Tebuireng

Gus Kikin lahir di Jombang, 17 Agustus 1958. Ia merupakan putra K.H. Mahfudz Anwar dan Nyai Hj. Abidah Ma’shum.

Darah ulama dan tradisi Tebuireng mengalir kuat dalam dirinya. Gus Kikin merupakan cicit Hadratussyaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pendiri Pondok Pesantren Tebuireng.

Dari garis ibunya, Nyai Hj. Abidah Ma’shum merupakan putri Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim, yang merupakan putri sulung K.H. M. Hasyim Asy’ari.

Sementara dari garis ayah, K.H. Mahfudz Anwar dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang dan berasal dari lingkungan keluarga ulama besar Tebuireng.

Latar belakang tersebut menjadikan Gus Kikin tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan tradisi keilmuan, kepesantrenan, dan perjuangan NU.

Melanjutkan Estafet Kepemimpinan Tebuireng

Perjalanan Gus Kikin semakin lekat dengan Tebuireng ketika ia dipercaya menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ke-8 sejak 2020.

Ia menggantikan K.H. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah, yang wafat pada 2020.

Sebagai pengasuh, Gus Kikin melanjutkan tradisi panjang Tebuireng sebagai pusat pendidikan Islam dan kaderisasi ulama. Pesantren yang didirikan K.H. Hasyim Asy’ari tersebut memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan Islam, pendidikan pesantren, sekaligus perjalanan Nahdlatul Ulama di Indonesia.

Tanggung jawab tersebut menempatkan Gus Kikin tidak hanya sebagai penerus keluarga besar Tebuireng, tetapi juga sebagai salah satu figur yang ikut menjaga kesinambungan tradisi pesantren yang telah berlangsung lebih dari satu abad.

Meniti Jalan Organisasi NU

Selain aktif dalam dunia pesantren, Gus Kikin juga memiliki perjalanan dalam struktur organisasi NU.

Ia dipercaya menjadi salah satu Ketua PBNU masa khidmat 2022–2027.

Pengalamannya di tingkat nasional kemudian berlanjut di Jawa Timur. Pada Januari 2024, Gus Kikin ditunjuk sebagai Pejabat (Pj) Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, menggantikan K.H. Marzuqi Mustamar.

Pengalaman tersebut memperkuat kiprahnya dalam pengelolaan organisasi NU, baik pada tingkat nasional maupun wilayah.

Terpilih Memimpin PBNU

Puncak perjalanan organisasi Gus Kikin terjadi dalam Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang.

Dalam proses pemilihan Ketua Umum PBNU, namanya menjadi salah satu dari lima calon yang memenuhi persyaratan untuk mendapatkan restu Rais Aam dan dimusyawarahkan oleh AHWA.

Selain Gus Kikin, empat nama lainnya adalah KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Sochib, KH Yahya Kholil Staquf, dan KH Abdul Ghaffar Rozin.

Setelah melalui musyawarah, sembilan anggota AHWA akhirnya secara mufakat menetapkan K.H. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031.

Keputusan tersebut dibacakan oleh anggota AHWA KH Anwar Iskandar di Gedung Serbaguna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026).

Musyawarah berlangsung sekitar 40 menit, mulai pukul 06.20 hingga 07.00 WIB.

Dari Tebuireng untuk NU

Terpilihnya Gus Kikin menjadi Ketua Umum PBNU membawa dirinya ke panggung kepemimpinan NU pada level nasional.

Posisinya sekaligus mempertemukan dua tanggung jawab besar yang selama ini melekat pada dirinya: menjaga keberlanjutan tradisi Pondok Pesantren Tebuireng dan memimpin organisasi Nahdlatul Ulama.

Sebagai keturunan langsung keluarga besar Hadratussyaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari, Gus Kikin memiliki hubungan historis yang kuat dengan lahirnya NU. Kini, amanah kepemimpinan PBNU menempatkannya dalam posisi strategis untuk membawa organisasi tersebut menghadapi tantangan baru.

Bagi Gus Kikin, perjalanan tersebut bukan sekadar soal meneruskan garis keluarga. Ia merupakan bagian dari kesinambungan tradisi pesantren dan perjuangan NU yang telah diwariskan lintas generasi.

Dari Tebuireng, tempat warisan keilmuan K.H. Hasyim Asy’ari terus dijaga, Gus Kikin kini mengemban amanah baru untuk memimpin PBNU dalam masa khidmat 2026–2031.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *