Kota Batu_Pintubatunews.com Gung Endah Tuti Rahayu lahir 10 Oktober 1964 adalah praktisi dan penggerak Eco Enzyme dari Kota Batu yang perjalanan pengabdiannya berawal dari sosok ibu rumah tangga biasa. Sebelumnya, ia tidak aktif dalam organisasi maupun dunia persampahan.
Perjalanannya dimulai secara tidak sengaja pada 21 Januari 2020, ketika seorang teman mengajaknya belajar tentang Eco Enzyme. Dari proses tersebut tumbuh kesadaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Gung Endah tertarik karena Eco Enzyme yang diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong dari Thailand merupakan salah satu metode pemanfaatan sampah organik yang menurutnya menarik: bahan bakunya murah, memanfaatkan sampah organik yang sering dianggap tidak bernilai, proses pembuatannya sederhana, dan memiliki berbagai potensi pemanfaatan. Ketertarikan tersebut kemudian berkembang menjadi komitmen untuk mengenalkan Eco Enzyme kepada masyarakat luas.
Membangun Edukasi Eco Enzyme
Pada Maret 2020, Gung Endah bersama Tipuk dan sejumlah teman mendirikan kelompok belajar Ngajaga Bumi. Bersama Rima dan Tipuk, ia menyusun Modul Belajar Eco Enzyme dalam format PDF dan PowerPoint yang diluncurkan pada 1 Juni 2020 dan direvisi pada 1 Agustus 2020. Modul tersebut dibagikan secara gratis kepada anggota kelompok maupun masyarakat umum.
Pada Agustus 2020, Gung Endah bersama murid-muridnya melakukan kegiatan penuangan Eco Enzyme di Danau Srengseng, Jakarta Barat, sekaligus memberikan edukasi pembuatan Eco Enzyme kepada para pegawai melalui Zoom Meeting.
Pada bulan yang sama, ia membuat kanal YouTube “Gung Endah” yang berisi tutorial pembuatan dan panen Eco Enzyme, testimoni serta dokumentasi kegiatan edukasi. Hingga kini, kanal tersebut telah memiliki sekitar 790 video yang merekam berbagai aktivitasnya sebagai narasumber di sejumlah kota, antara lain Banyuwangi, Surabaya, Sidoarjo, Bojonegoro, Jakarta, Tangerang, Yogyakarta, Palembang, Jambi, Lampung, Batam, Bekasi, Malang dan Kota Batu.
Perkembangannya sebagai mentor tidak terlepas dari bimbingan Joni Oei, Ketua Umum Eco Enzyme Nusantara, yang menjadi salah satu tempat Gung Endah memperdalam pengetahuan sejak awal mengenal Eco Enzyme.

Mengembangkan Gerakan Eco Enzyme di Kota Batu
Gung Endah mulai intensif melakukan sosialisasi Eco Enzyme di Kota Batu bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu sejak September 2020 melalui program Suling (Suluh Lingkungan).
Pada 15 November 2020, dilakukan roadshow sosialisasi di tiga kecamatan yang melibatkan kelompok Bank Sampah dari Kecamatan Bumiaji, Batu dan Junrejo. Untuk menjaga keberlanjutan gerakan, Gung Endah kemudian membentuk Grup Relawan Eco Enzyme Batu sebagai wadah belajar dan berbagi pengetahuan.
Bersama DLH Kota Batu, pada April–Mei 2021 ia melakukan roadshow edukasi kepada 24 kelompok PKK desa/kelurahan dan tiga kelompok PKK kecamatan di seluruh Kota Batu. Edukasi juga dilakukan di sekolah, Kelompok Wanita Tani, Gapoktan dan berbagai komunitas.
Atas kiprahnya, pada April 2021 Gung Endah memperoleh Penghargaan Wali Kota Batu sebagai Individu Terbaik I kategori Pengelolaan Sampah.
Merintis Penyemprotan Eco Enzyme di TPA
Pada 2 Februari 2021 menjadi tonggak penting ketika Gung Endah bersama DLH Kota Batu melakukan penyemprotan Eco Enzyme di TPA Tlekung Batu. Gagasan tersebut muncul setelah ia mengikuti Zoom Meeting bersama Dr. Joean Oon yang membahas manfaat Eco Enzyme dalam penanganan bencana alam. Dari pengalaman tersebut, Gung Endah terdorong mencoba pemanfaatan Eco Enzyme untuk membantu mengurangi bau sampah di TPA.
Setelah berkoordinasi dengan Eni Maulidiyah, S.T., M.Si., pejabat fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda DLH Kota Batu, dilakukan uji coba penyemprotan Eco Enzyme dengan pengenceran 1:1.000. Dalam pengukuran yang dilakukan sekitar 15 menit setelah penyemprotan, kadar gas metana yang dilaporkan turun dari sekitar 1.600 ppm menjadi 600 ppm, sementara bau sampah juga berkurang secara signifikan. Kegiatan penyemprotan kemudian dilakukan secara rutin di TPA Tlekung sejak Februari 2022 hingga September 2023 sebelum TPA tersebut ditutup karena overload.
Pengalaman tersebut kemudian menginspirasi kegiatan serupa di daerah lain. Pada September 2022, Gung Endah bersama Relawan Eco Enzyme Bantul, PMI Bantul, PMI DIY dan DLHK DIY melakukan penyemprotan Eco Enzyme di TPST Piyungan, Bantul. Kegiatan dilakukan setiap minggu selama satu bulan dan dilanjutkan dengan penyediaan tong Eco Enzyme di TPST Piyungan dengan pendampingan Gung Endah.
Pada 9–15 Agustus 2026, ia kembali terlibat langsung sebagai mentor dan pendamping lapangan dalam kegiatan penyemprotan Eco Enzyme di TPA Sumurbatu Bekasi, bersama Relawan EEN Bekasi, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pemadam Kebakaran serta pegiat Eco Enzyme dari Jakarta, Tangerang dan Depok.
Membagikan 7 Ton Eco Enzyme Saat Wabah PMK
Pada Juni 2022, Gung Endah bersama tim dan 24 koordinator Eco Enzyme tingkat desa/kelurahan di Kota Batu melakukan panen raya sebanyak 7 ton Eco Enzyme. Kegiatan yang diselenggarakan bersama DLH Kota Batu tersebut dihadiri Wali Kota Batu saat itu, Dewanti Rumpoko, dan Eco Enzyme dibagikan kepada peternak yang terdampak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Pemanfaatannya dilaporkan tidak hanya dilakukan di Kota Batu, tetapi juga di sejumlah daerah seperti Pujon, Probolinggo, Tuban, Blora dan Kasembon. Eco Enzyme juga terus dibagikan secara gratis kepada petani dan peserta pelatihan sebagai bagian dari edukasi pemanfaatan sampah organik.
Mendirikan Eco Enzyme Menjaga Bumi
Semakin banyaknya permintaan belajar dari berbagai kota mendorong Gung Endah mendirikan Grup Eco Enzyme Menjaga Bumi atas permintaan Dr. Ir. Jarot Wijanarko, M.Pd., Founder dan Mentor Pola Hidup Sehat. Saat ini grup tersebut telah berkembang menjadi komunitas belajar dengan lebih dari 2.500 anggota.
Untuk mendorong anggota benar-benar membuat Eco Enzyme, Gung Endah juga mendirikan Kelas Sabun Gratis pada April 2022. Syarat mengikuti kelas adalah peserta wajib membuat Eco Enzyme terlebih dahulu. Eco Enzyme kemudian dikembangkan menjadi produk turunan seperti sabun mandi, sampo, sabun cuci dan sabun wajah. Kelas berkembang mulai tingkat basic hingga lanjutan 3 dan kemudian dipercayakan kepada murid-muridnya yang telah menjadi mentor pembuatan sabun.

Meraih Times Indonesia Women of the Year
Gung Endah terus memperluas edukasi melalui kerja sama dengan mahasiswa KKN, dosen dalam program pengabdian masyarakat, pondok pesantren, gereja, vihara, hotel, toko oleh-oleh dan berbagai komunitas. Atas konsistensinya tersebut, pada November 2024 ia menerima Anugerah Times Indonesia Women of the Year Kota Batu kategori Perintis Eco Enzyme.
Menjadi Tim Praktisi DLH Kota Batu
Gung Endah kemudian bergabung sebagai Tim Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan pada Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu, setelah mendapat tawaran dari Dodik Eko Wahyudi, Tim Ahli Persampahan Kota Batu. Tim tersebut diketuai Ir. Stefanus Catur Wicaksono. Awalnya Gung Endah menjadi anggota Tim Sosialisasi Masif Pilah Sampah, kemudian pada 2026 dipercaya sebagai Koordinator Divisi Eco Enzyme.
Bersama Suprapti Kanti, ia mendampingi TPS3R dan TPS di Kota Batu dalam pembuatan Eco Enzyme dengan melibatkan relawan, PKK dan Bank Sampah setempat.
Edukasi juga dilakukan di sekolah, PKK desa/kelurahan hingga tingkat RT. Di rumahnya, Gung Endah tetap memproduksi Eco Enzyme dalam jumlah besar dengan memanfaatkan sampah organik Kota Batu dan mendapat dukungan DLH Kota Batu.
Menyuarakan Eco Enzyme di Tingkat Nasional
Gung Endah berharap Eco Enzyme dapat menjadi bagian dari program resmi pemerintah sehingga pengolahan sampah organik dapat dilakukan secara lebih luas dan terstruktur.
Pada Januari 2026, sebagai salah satu leader yang mewakili Komunitas Eco Enzyme Indonesia Bersatu, ia menyampaikan aspirasi mengenai Eco Enzyme di Gedung DPR RI yang diterima oleh Ketua Komisi XII DPR RI, Dr. Bambang Patijaya, S.E., M.M. Aspirasi tersebut mendapat apresiasi positif, meskipun belum ada tindak lanjut sebagaimana yang diharapkan.
Menurut Gung Endah, di berbagai kota Indonesia telah terdapat relawan Eco Enzyme, tetapi sebagian masih bergerak sendiri-sendiri dan belum terintegrasi dengan pemerintah. Ia berharap kolaborasi tersebut dapat diperkuat sehingga edukasi dan pemanfaatan Eco Enzyme dapat dilakukan secara lebih masif.
Meninggalkan Ilmu sebagai Legacy
Seluruh perjuangan Gung Endah didasari keinginan untuk meninggalkan ilmu yang bermanfaat sebagai amal jariyah sekaligus legacy bagi bangsa Indonesia. Melalui media sosial, terutama Instagram dan YouTube, ia terus mendapatkan murid baru dari berbagai daerah. Modul pembelajaran juga terus diperbarui bersama putranya agar semakin mudah dipahami dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Bagi Gung Endah, sampah organik bukan sekadar limbah, tetapi sumber daya yang dapat diolah apabila masyarakat memiliki pengetahuan dan kemauan.
Ia berharap pemanfaatan Eco Enzyme dapat terus dikembangkan dan dikaji secara tepat untuk membantu pengelolaan sampah, mengurangi dampak pencemaran, serta mendukung upaya menghadapi persoalan lingkungan dan perubahan iklim.
Dari seorang ibu rumah tangga biasa, Gung Endah Tuti Rahayu tumbuh menjadi praktisi, mentor dan penggerak Eco Enzyme yang terus mengabdikan pengetahuan dan waktunya untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari rumah, dari sampah organik yang selama ini dianggap tidak berharga.













