Pintubatunews.com. Setiap akhir tahun, desa-desa kembali tenggelam dalam rutinitas yang nyaris sakral: menyusun laporan. Angka dirapikan, tabel dipoles, narasi kinerja dirangkai dengan bahasa yang terdengar optimistis. Dalam dokumen-dokumen itu, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sering tampil gagahโseolah menjadi bukti bahwa desa sedang berjalan menuju kemandirian ekonomi. Namun di luar kertas laporan, kenyataan kerap berbisik sebaliknya: usaha berjalan pelan, bahkan nyaris diam. Laporan sibuk, usaha sunyi.
๐๐ช ๐ต๐ช๐ต๐ช๐ฌ ๐ช๐ฏ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ฅ๐ช๐ฉ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช: ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐๐๐๐๐ฆ๐ด ๐ซ๐ถ๐ด๐ต๐ณ๐ถ ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต.?
Sejak awal kelahirannya, BUMDes dibayangkan sebagai mesin ekonomi desa alat kolektif untuk mengolah potensi lokal, menciptakan nilai tambah, dan mengurangi ketergantungan pada bantuan. Negara menyediakan kerangka, desa menyertakan modal, musyawarah digelar, badan hukum diurus. Secara administratif, semua tampak lengkap. Tetapi kelengkapan kelembagaan ternyata tidak otomatis melahirkan denyut usaha. Banyak BUMDes hadir sebagai institusi, namun belum benar-benar hidup sebagai entitas bisnis.
Masalahnya sering bukan pada gagasan, melainkan pada cara memahami peran. BUMDes bukan satu aktor tunggal, melainkan arena dengan pembagian fungsi yang jelas. Pengurus memegang kemudi usaha: menyusun strategi, membaca pasar, mengambil risiko, dan menanggung untung-rugi. Ketika usaha stagnan, merekalah yang pertama kali harus bercermin. Pengawas hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai penjaga akuntabilitas mengkritik, mengevaluasi, dan mendorong koreksi ketika kinerja melenceng. Sementara penasihat, kepala desa atau wali nagari, semestinya berdiri pada jarak yang sehat: memberi arah strategis, bukan menjalankan operasional harian.
Karena itu, ketika desa telah menempatkan modal dan tidak mencampuri keputusan bisnis, menyalahkan desa atas mandeknya usaha menjadi argumentasi yang rapuh.
Stagnasi BUMDes justru sering berakar pada pendekatan yang keliru. Banyak pengurus terjebak dalam logika administrasi, bukan logika usaha. Energi dihabiskan untuk memenuhi format laporan, bukan memperluas pasar. Strategi jarang diperbarui, inovasi dianggap risiko, dan evaluasi kinerja berhenti pada formalitas. Padahal pasar tidak membaca peraturan; ia membaca nilai. Konsumen tidak membeli visi; mereka membeli manfaat. Ketika BUMDes gagal memahami hukum dasar ini, usaha kehilangan daya hidupnya.
Persoalan makin rumit ketika pengurus dipilih lebih karena kompromi sosial ketimbang kapasitas. Di sinilah pengawasan seharusnya menjadi penyeimbang. Namun kenyataannya, fungsi pengawas sering tumpul. Evaluasi dilakukan setengah hati, rekomendasi dibiarkan menggantung, dan kegagalan berulang diterima sebagai nasib. Stagnasi pun berubah dari masalah sementara menjadi kebiasaan yang dinormalisasi.
Perlu ditegaskan: tidak semua mandek adalah dosa tata kelola. Dalam dunia usaha, stagnasi bisa menjadi bagian dari risiko dan risiko adalah guru yang jujur. Yang berbahaya adalah ketika risiko tidak dibaca sebagai pelajaran, dan mekanisme koreksi tidak bekerja. Pada titik itu, BUMDes berhenti menjadi alat belajar kolektif, dan berubah menjadi sekadar simbol yang dipertahankan demi citra.
Catatan akhir tahun semestinya menjadi momen untuk kembali ke hakikat. BUMDes tidak kekurangan aturan, dan sering kali tidak kekurangan modal. Yang kerap absen adalah kejelasan peran, ketegasan pengawasan, dan keberanian pengurus untuk mengelola usaha secara profesionalโdengan disiplin, imajinasi, dan kesediaan bertanggung jawab.
Jika BUMDes ingin bergerak, bukan sekadar bertahan, pengurus harus memperkuat kapasitas dan strategi. Pengawas perlu berani bersuara, bukan sekadar hadir dalam struktur. Desa, pada saat yang sama, mesti menjaga jarak yang waras: tidak mengintervensi usaha, tetapi memastikan tata kelola tidak menyimpang.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan lagi siapa yang harus disalahkan, melainkan siapa yang bersedia berbenah. Sebab tanpa keberanian itu, BUMDes akan terus menulis laporan tentang kemajuanโsementara usahanya tetap berjalan di tempat.










