Opini  

๐Šoperasi ๐ƒesa: ๐erbagi ๐eran, ๐ukan ๐’aling ๐Œakan

Pintubatunews.com. Di banyak ruang diskusi desa, satu pertanyaan kerap berulang, datangnya dengan nada khawatir, kadang setengah berbisik: โ€œ๐พ๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘ข ๐‘‘๐‘’๐‘ ๐‘Ž ๐‘ ๐‘’๐‘๐‘’๐‘™๐‘Žโ„Ž ๐‘๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘ข๐‘› ๐พ๐‘œ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘ ๐‘– ๐ท๐‘’๐‘ ๐‘Ž ๐‘€๐‘’๐‘Ÿ๐‘Žโ„Ž ๐‘ƒ๐‘ข๐‘ก๐‘–โ„Ž, ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘‘๐‘’๐‘ ๐‘Ž ๐‘ ๐‘Ž๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘—๐‘ข๐‘”๐‘Ž ๐‘๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘ข๐‘›, ๐‘Ž๐‘๐‘Ž ๐‘ก๐‘–๐‘‘๐‘Ž๐‘˜ ๐‘—๐‘Ž๐‘‘๐‘– ๐‘ ๐‘Ž๐‘–๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘›?โ€

Pertanyaan ini wajar. Ia lahir dari pengalaman panjang desa yang sering dipaksa bersaing dalam lapangan sempit, dengan sumber daya terbatas, dan pasar yang itu-itu saja. Namun justru di sinilah letak kesalahpahaman terbesar kita.

Jawaban saya tegas: ๐’•๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’‹๐’‚๐’…๐’Š ๐’”๐’‚๐’Š๐’๐’ˆ๐’‚๐’, ๐’‹๐’Š๐’Œ๐’‚ ๐’Œ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’‚๐’๐’ˆ๐’–๐’ ๐’…๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’‚๐’“๐’”๐’Š๐’•๐’†๐’Œ๐’•๐’–๐’“ ๐’”๐’Š๐’”๐’•๐’†๐’Ž ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’ƒ๐’†๐’๐’‚๐’“.

Masalahnya bukan pada jumlah koperasi. Masalahnya ada pada cara kita berpikir dan merancang peran. Selama ini, banyak desa membangun koperasi dengan pendekatan copy-paste: usaha sama, produk sama, pasar sama. Akibatnya bisa ditebak, harga saling banting, relasi memanas, dan koperasi berubah menjadi pedagang kecil yang kelelahan. Bukan salah koperasinya, melainkan salah desainnya.

Kami mendorong desa untuk keluar dari jebakan itu dengan satu prinsip sederhana namun kuat: ๐’๐ฉ๐ž๐ฌ๐ข๐š๐ฅ๐ข๐ฌ๐š๐ฌ๐ข ๐Š๐จ๐ฅ๐ž๐ค๐ญ๐ข๐Ÿ. Artinya, setiap desa tidak harus mengerjakan semua hal. Setiap desa cukup mengerjakan peran terbaiknya, lalu terhubung dalam satu sistem yang saling menguatkan.

๐‘ฉ๐’‚๐’š๐’‚๐’๐’ˆ๐’Œ๐’‚๐’ ๐’†๐’Œ๐’๐’”๐’Š๐’”๐’•๐’†๐’Ž, ๐’ƒ๐’–๐’Œ๐’‚๐’ ๐’‚๐’“๐’†๐’๐’‚ ๐’•๐’Š๐’๐’‹๐’–.

Dalam model ini, ๐ƒ๐ž๐ฌ๐š ๐‡๐ฎ๐ฅ๐ฎ mengambil peran sebagai pusat produksi dan standarisasi. Di sinilah hasil tani dan peternakan dikumpulkan, disortir, ditimbang, dan distandarkan kualitasnya. Desa hulu menjadi jantung pasokan, menjaga mutu, kontinuitas, dan keadilan harga bagi petani. Mereka tidak perlu pusing soal kemasan cantik atau pemasaran digital. Fokus mereka jelas: menghasilkan bahan baku terbaik.

Lalu hadir ๐ƒ๐ž๐ฌ๐š ๐€๐ง๐ญ๐š๐ซ๐š, sang pengolah. Di desa inilah nilai tambah diciptakan. Gabah tidak lagi dijual mentah, tetapi diolah menjadi beras premium. Jagung menjadi pakan ternak. Singkong menjadi tepung. Desa antara adalah dapur industri rakyatโ€”tempat teknologi tepat guna bekerja, tenaga lokal terserap, dan nilai ekonomi berlipat. Mereka hidup dari proses, bukan dari volume semata.

Selanjutnya ada ๐ƒ๐ž๐ฌ๐š ๐‡๐ข๐ฅ๐ข๐ซ ๐š๐ญ๐š๐ฎ ๐”๐ซ๐›๐š๐ง, yang berhadapan langsung dengan pasar. Mereka menguasai distribusi, logistik, branding, dan akses konsumen. Mereka berbicara dengan data pasar, tren konsumsi, dan strategi penjualan. Desa hilir tidak perlu sawah luas atau pabrik besar, kekuatan mereka ada pada jejaring dan kecepatan membaca peluang.

Ketika tiga peran ini berjalan bersama, yang lahir bukan persaingan, melainkan ๐ž๐ค๐จ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ญ๐ž๐ฆ. Desa tidak lagi berebut pembeli yang sama di pasar lokal. Mereka saling menyuplai untuk menembus pasar yang lebih besar, pasar regional, nasional, bahkan ekspor. Setiap desa tumbuh dengan identitas dan fungsi yang jelas. Tidak ada yang merasa โ€œdimakanโ€, karena semua merasa โ€œdibutuhkanโ€.

Inilah makna kedaulatan ekonomi desa yang sesungguhnya. Bukan berdiri sendiri-sendiri seperti pulau kecil yang rapuh, tetapi terhubung dalam satu daratan yang kokoh. Kedaulatan tidak lahir dari ego, melainkan dari kerja sama yang cerdas.

Koperasi desa, pada hakikatnya, bukan alat untuk mengalahkan desa lain. Ia adalah kendaraan bersama untuk menjemput masa depan. Jika kita terus memaksanya berjalan sendiri, ia akan kehabisan bensin di tengah jalan. Tetapi jika kita merancang rute bersama, siapa memproduksi, siapa mengolah, siapa memasarkan, koperasi akan melaju jauh.

Maka pertanyaannya bukan lagi, โ€œ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ?โ€

Melainkan, โ€œ๐๐ž๐ซ๐š๐ง ๐š๐ฉ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฉ๐š๐ฅ๐ข๐ง๐  ๐ญ๐ž๐ฉ๐š๐ญ ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐๐ž๐ฌ๐š ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฌ๐š๐ญ๐ฎ ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ญ๐ž๐ฆ ๐›๐ž๐ฌ๐š๐ซ?โ€

Di situlah kebangkitan dimulai. Dari keberanian berbagi peran, dan kerendahan hati untuk saling bergantung.

Sumber: Sikola Desa

 

Penulis: Rano Sanjaya Abdusama, STEditor: Arif Erwinadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *