Kota Batu_Pintubatunews.com. TPS3R (tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle) dikelola oleh KSM Rejeki Barokah Desa Sumbergondo Kecamatan Bumiaji Kota Batu dibangun pada tahun 2023. Terletak di tanah kas desa dengan luasan lahan 1.356 m² di Dusun Segundu.
Dipergunakan untuk mengelola sampah baik organik maupun anorganik untuk 2 Dusun yaitu Dusun Segundu dan Dusun Sengonan. Sedangkan Dusun Tegalsari yang lebih dikenal dengan Gandon pengelolaannya terpisah dari TPS3R Rejeki Barokah. Di TPS3R Rejeki Barokah selain ada tempat untuk menyimpan sementara sampah anorganik, juga tersedia rumah maggot, kandang unggas entog, kandang kambing komunal dan tempat budidaya ikan lele.

Koordinator KSM Rejeki Barokah Juma’ati menyampaikan, “TPS3R dikelola oleh 9 orang, terdiri dari tenaga pemilah 2 orang di TPS3R, yang mengangkut dari rumah warga 1 orang, yang lainnya memilah sampah saat mengambil dari rumah warga. Tenaga kerjanya dibayar berdasarkan system kerja harian. Armada untuk mengangkut sampah ada 2 unit Motor Tossa dengan jumlah pelanggan dari 2 dusun kurang lebih 600 rumah. Terdiri dari 31 RT dengan retribusi Rp 15.000,- per bulan per rumah yang masuk TPS3R Rp 14.000,- dikelola secara mandiri untuk biaya operasional.”
“Selain itu KSM juga mengelola Bank Sampah untuk satu desa. Untuk itu kita perlu memelihara unggas yang sudah ada ayam 15 ekor, dan entog 11 ekor serta kambing 24 ekor dengan tujuan agar bisa menutup biaya operasional. Juga mendapat CSR dari United Tractor dibelikan ayam tetapi masih belum datang. Dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu sebulan yang lalu memberikan bantuan tempat untuk ternak lele beserta benihnya 3.000 ekor. Sedangkan budidaya maggot dengan kapasitas pemberian pakan sehari 3 kg. Sudah beberapa kali panen maggot, tetapi tidak dijual sebab dipakai untuk pakan ayam atau entog, “tuturnya.
“Rumah kompos pembiayaan dari Dinas Lingkungan Hidup, sudah selesai pembangunannya. Saat ini masih belum difungsikan karena masih menunggu selamatan. Sedangkan tempat pemrosesan sampah organik bangunan lama sudah ada 1 sel, untuk proses fermentasinya menggunakan EM4 dicampur air lindi, “pungkas Juma’ati.
Menanggapi pemakaian EM4 dicampur dengan air lindi yang menyebabkan proses fermentasinya berbau menyengat dan kurang sedap. Gung Endah divisi eco enzyme dan rumah kompos praktisi selaku pendamping percepatan pengelolaan persampahan dan tim pendukung pada Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu memberikan 1 galon eco enzyme untuk dipergunakan. Dan menyarankan agar pemakaian air lindi dihentikan. Selanjutnya sampah organik setiap datang disemprot eco enzyme terlebih dahulu. Dan tumpukan sampah organik didalam sel supaya pagi dan sore disemprot eco enzyme dengan perbandingan 1:1000 selain mempercepat proses fermentasi juga dapat mengurangi bau tak sedap.












