Kota Batu_Pintubatunews.com. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato pada Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, pada Jumat, 13 Februari 2026. Permintaan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga kebersihan setiap desa/kelurahan, kecamatan, kota, kabupaten, ibu kota provinsi, dan ibu kota negara dalam waktu sesingkat-singkatnya kita akan buktikan.
Menanggapi atas permintaan Presiden Prabowo Subianto, Desa Mojorejo Kecamatan Junrejo Kota Batu lewat Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) telah mewujudkan dengan selesai dibangunnya bangunan di TPS3R dan dibentuk kepengurusan KSM Sami Berkah TPS3R pada Maret 2025. Telah dilengkapi dengan fasilitas hanggar tempat untuk pemilahan sampah, mesin pencacah sampah organik dan anorganik, insinerator untuk pembakaran sampah residu, dan kandang tempat untuk budidaya maggot serta armada mobil dan truk pengangkut sampah. Sedangkan rumah kompos baru selesai pembangunannya.
Di TPS3R ini jumlah pekerja dan pengurus ada 13 orang, terdiri dari 5 orang sebagai pemilah sampah saat masuk hanggar. Petugas yang mengambil sampah ke rumah-rumah warga ada 5 orang dengan armada 1 truk, 1 mobilpick up dan 1 motor Tossa roda 3 yang dilakukan setiap hari. Volume sampah yang dihasilkan dari masyarakat setiap hari kalau diestimasi itu rata-rata 3ton perhari terdiri dari sampah organik dan anorganik. Untuk sampah organik rata-rata 60%nya perhari atau setara 1,8 ton. Apalagi saat hari libur atau menjelang hari raya biasanya yang dihasilkan dari sampah organik semakin meningkat jumlahnya.

Menurut Samsul Arifin Ketua KSM Sami Berkah TPS3R Desa Mojorejo saat ditemui Jum’at (20/2/2026) menyampaikan, “Jumlah pelanggan yang kami tangani berdasarkan data berbasis dasawisma itu 1.805 rumah, tetapi yang kita layani saat ini sekitar 1200an. Kendalanya kita masih mempelajari SOP nya, lambat laun kita mencari dan menemukan metodenya. Kita masih mencari dengan sekian ribu rumah berapa tenaga kerja yang dibutuhkan, kita masih mencari perhitungannya. Idealnya memang 100 rumah itu harus ada 1 orang pekerja. Jadi selayaknya memang jumlah pelanggan 1200 harus ada 12 orang pekerja dengan ditambah 3 orang pengurus KSM.”
“Apalagi nanti ada rumah kompos kalau sudah beroperasi, diestimasi kalau seumpama satu bulan bisa menghasilkan dari penjualan kompos itu bisa membiayai tenaga kerjanya di rumah kompos. Tim pekerja yang saat ini sudah berjalan sudah tidak bisa lagi diperbantukan di rumah kompos. Saya berharap kepada pemerintah desa Mojorejo untuk pengelolaan sampah organik dirumah kompos agar diberikan tambahan tenaga kerja kemungkinan membutuhkan minimal 2 orang tenaga kerja yang khusus menangani sampah organik. Yang bertugas membawa sampah organik hasil pemilahan dibawa ke rumah kompos, memilih lagi bila ada sampah anorganik yang masih tercampur, menyemprot dengan eco enzyme atau EM4 selain untuk mempercepat fermentasi juga untuk mengurangi bau yang tidak sedap, “tuturnya.

“Harapan saya ke depan bila kompos yang dihasilkan dari rumah kompos nanti ada yang menampung hasilnya. Sehingga sesuai program Walikota Batu Sae ini minimal bisa menyerap tenaga kerja. TPS3R di Desa Mojorejo berdiri sendiri merupakan Kelompok Swadaya Masyarakat Sami Berkah dengan SK Kepala Desa Mojorejo yang terpisah dari strukturnya BUMDes. Iuran dari warga Rp 15.000,- per rumah, sedangkan yang masuk ke KSM Rp 13.500,-. Sampah anorganik seperti plastik kita bakar dengan penggunaan mesin insinerator, karena kita belum memiliki tekhnologi/alat seperti mesin pengepres. Saat ini plastik hasil pemilahan kita jual meskipun harganya itu tidak seberapa. Sampah B3 kita kumpulkan nanti akan diambil oleh DLH setiap akhir bulan atau kalau terkumpul banyak kondisi darurat ya kita telpon agar diambil. Air kita pakai dari PDAM. Untuk permasalahan sampah di Desa Mojorejo ini, Pemerintah Desanya sudah sangat mensupport, “tambahnya.
“Luasan lahan difasilitasi dengan tanah kas desa 1.500meter persegi, untuk hanggarnya ini ukuran 15 X 15 meter, untuk ruangan ternak maggot 10 X 2 meter. Maggot merupakan program CSR dari United Tractor yang diinisiasi oleh Pak Rujito Kepala Desa Mojorejo. Ada pendampingan dari CSR, saat ini serapan sampah basah untuk pakan maggot masih belum optimal. Budidaya maggot tidak efisien untuk tempatnya, karena membutuhkan kandang dalam jumlah banyak dan luas. Kalau segini saja menyerap sampah basah sekitar 100 kg dibandingkan sampah organik yang dihasilkan perhari 1,8ton cuma 6% nya saja. Secara ekonomis khusus di maggot saja kita impas, kecuali ada ternak ikan lele. Maggot dipakai pakan ikan lele, nanti hasilnya dari lele bisa dihitung estimasi pendapatannya dikurangi biaya operasionalnya, “pungkas Samsul Arifin mengakhiri penjelasannya.












