Kota Batu_Pintubatunews.com. Peringatan Hari Bumi ke-56 jatuh pada Rabu (22/4/2026). Tema Hari Bumi 2026 adalah “Kekuatan Kita, Planet Kita” atau dalam bahasa Inggris disebut “Our Power, Our Planet“. Tema ini menekankan peran kolektif masyarakat, organisasi, dan individu dalam mempercepat transisi energi bersih dan meningkatkan akuntabilitas terhadap kerusakan lingkungan.

Tempat Pengelolaan Sampah – Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Jalibar Berseri Desa Oro Oro Ombo Kecamatan Batu Kota Batu dalam rangka memperingati Hari Bumi ini mengadakan kegiatan dengan tema transformasi sampah organik menjadi nutrisi pangan organik Kota Batu, Our Power, Our Planet. Bertempat di TPS3R Jalibar Berseri Rabu (22/4/2026) yang dihadiri oleh Kepala Desa Oro Oro Ombo, Ketua dan Wakil Ketua BPD Oro Oro Ombo, 3 orang pengurus Gapoktan Rukun Santoso, 7 orang perwakilan dari Kelompok Tani, Ecoton, PKK dan pengurus TPS3R. Dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tampak hadir Kabid Persampahan, Eni Maulidiyah, ST, M.Si Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan, Pendamping TPS3R, Praktisi Pendamping Rumah Kompos, dan Wahyudi PPL DistanKP. Acara diawali dengan sambutan-sambutan dilanjutkan penyerahan Pupuk Organik Cair (POC), dan penanaman pohon turi disekitar TPS3R. Setelah itu materi manfaat POC bagi pertumbuhan tanaman pangan oleh Heru Sutono dari Pusat Pelatihan Pertanian Swadaya (P4S) dan materi kedua gerakan pilah sampah di kawasan dan pentingnya sumberdaya organik oleh Tonis Afrianto dari Ecoton Gresik.

Kepala Desa Oro Oro Ombo Wiweko yang menyampaikan bahwa bumi diperingati agar memberikan berkah. Peringatan Hari Bumi Sedunia, nantinya akan diisi sosialisasi, ada percobaan penggunaan POC diperhalus dari air lindi yang dihasilkan dari rumah kompos. Pupuk Organik Cair membuat tanaman menjadi bagus. Kalau limbah atau sampah organik ini bisa dimanfaatkan dengan maksimal dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk subsidi. Saat ini untuk membeli pupuk subsidi jumlahnya terbatas dan dijatah harus lewat kelompok tani. Sosialisasi limbah sampah untuk pertanian ini mengurangi pupuk buatan sehingga biaya tanam lebih rendah. Yang akan disampaikan oleh narasumber yang sudah melakukan penelitian bisa menyampaikan pengalamannya,
Selanjutnya Eni Maulidiyah, Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan dari DLH Kota Batu menuturkan, “Acara ini bertepatan dengan peringatan hari Kartini yang dikemas dengan menggandeng Gapoktan Rukun Santoso Desa Oro Oro Ombo. Beberapa Waktu yang lalu Bu Titik Setyawati sempat cerita air lindi yang dihasilkan dari rumah kompos sudah banyak bagaimana ya? Syukur Alhamdulillah ketemu praktisinya semoga hari ini menjadi moment baik. Kota Batu memang pernah mengalami darurat sampah, salah satunya adanya tempat penampugan sementara (TPS) seperti ini di Desa Kelurahan di seluruh Kota Batu. Warga Desa Oro Oro Ombo patut bersyukur karena TPS3Rnya cukup aktif. Sampah satu desa dikelola disini dan support dari Pemerintah Desa luar biasa Pak Kepala Desa sangat mendukung. Semoga Desa Kelurahan yang lainnya bisa terinspirasi dengan TPS3R Desa Oro Oro Ombo, terutama bisa membuka jalan kami bisa ada efeknya ke Dinas Pertanian Ketahanan Pangan. Karena sampah kita lebih banyak sampah organik, kalau dikelola tersendiri akan banyak manfaatnya. Acara ini terselenggara berkat kerjasama dengan ecoton, dan ada praktisi. Kami berusaha menggandeng sebanyak-banyaknya siapa saja yang bisa menyelesaikan persoalan sampah.”
Kabid Pengelolaan Persampahan dan Pengelolaan Limbah B3 DLH Kota Batu Endang Ari Setyoningsih menambahkan, ”Tugas DLH membina bapak ibu semua dalam mengelola sampah.Sesuai arahan dari Kementerian bahwa tahun 2030 bahkan sampah itu sudah harus terkelola. Terkelola itu dalam artian sudah dipilah, yang organik bisa menjadi pupuk kompos ataupun pupuk cair, yang aorganik memiliki nilai jual bisa dijual dan disihkan tersendiri untuk residu. Sesuai data dari Kementerian per tahun ini di Kota Batu kurang lebih 40% sampah masih belum terolah. Ini catatan bagi kita semua, misalnya ada sampah yang masih masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA) dan dinilai itu hanya ditumpuk dan dibakar itu kategorinya masih tidak terolah. Jadi ini pekerjaan rumah bagi kita semua, walaupun ada TPS yang pengelolaannya tidak maksimal dan cenderung hanya dibakar itu masuk kategori tidak diolah. Kami sangat berharap kepada bapak ibu dan TPS3R, penggerak lingkungan, untuk bahu membahu prinsipnya sampah akan berkurang dari sumbernya. Supaya beban TPS3R ini bisa berkurang, masing-masing rumah tangga mulai memilah sampah.”

“DLH berterima kasih kepada TPS3R Oro Oro Ombo dengan inovasi-inovasinya diantaranya sudah bekerjasama dengan teman-teman ecoton untuk pendampingan di RW 5. Harapannya apa yang sudah dilakukan di RW 5 bisa ditularkan ke RW lainnya. Masing-masing personal di RW 5 ini agar bisa menjadi kader untuk bisa membina RW disebelahnya. Jadi kita saling menyebarkan pengetahuan kita RW lain kalua bisa satu desa oro oro ombo melakukan pola seperti di RW 5,”tegasnya.
“Apa lagi Desa Oro Oro Ombo ini juara nasional lomba desa harus dipertahankan dan ditingkatkan melalui pola-pola pengelolaan sampah. Karena masalah sampah ini persoalan seluruh Indonesia apa lagi ada rencana dari Kementerian Lingkungan Hidup nanti per 30 Juli 2026, semua TPA yang melakukan Open Dumping itu, TPA harus ditutup semua. Kalau di Kota Batu TPA sudah ditutup, karena sudah terlalu penuh. Dari berbagai kebijakan Kementerian atau instansi dibawahnya jangan dianggap sebagai masalah tetapi pemicu kita untuk semakin punya perhatian mengelola sampah. Intinya punya kesadaran supaya tidak memproduksi sampah, “pungkas Endang Ari Setyoningsih.













