Sampah Organik Di Rumah Kompos TPS3R Desa Mojorejo Siap Panen, Menunggu Cuaca Panas

Foto sampah organik di rumah kompos TPS3R Desa Mojorejo

Kota Batu_Pintubatunews.com _ Sampah organik di rumah kompos Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) Dusun Kajang Desa Mojorejo Kecamatan Junrejo Kota Batu, mulai digunakan sejak Jum’at (20/2/2026) tiga bulan yang lalu.

Menurut Saji Pramono Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sami Berkah TPS3R Dusun Kajang Desa Mojorejo saat ditemui Senin (25/5/2026) menuturkan, “Untuk sampah organik yang di sel 1 ini sebenarnya sudah siap dilakukan pemanenan. Tetapi masih menunggu cuaca panas, karena tempat untuk proses pengayakan membutuhkan lahan terbuka. Kemungkinan hasil kompos yang akan dipanen lumayan besar dengan jumlah pelanggan 1200 rumah tangga, diperkirakan setiap rumah menghasilkan 1,5 kg sampah atau sejumlah 1,8 ton sampah perhari. Dari jumlah tersebut sampah organiknya diperkirakan 60% atau setara dengan 1080 kg sampah organik perhari yang masuk sel rumah kompos.”

Foto Saji Pramono Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sami Berkah TPS3R Dusun Kajang Desa Mojorejo.

“Sebagaimana yang pernah saya sampaikan beberapa waktu yang lalu, sampah organik yang masuk rumah kompos ini sudah kita cacah dengan mesin gibrig. Sampah organik sudah dipotong menjadi ukuran kecil. Potongan yang kecil memperluas area kontak bagi bakteri pengurai sehingga dekomposisi berjalan jauh lebih cepat. Tentunya saat pemanenan nanti kita melihat situasi, apa perlu dilakukan proses pencacahan lagi dengan mesin gibrig atau langsung bisa masuk ke mesin pengayak,”tegasnya.

“Saat ini sampah organik yang di sel 1, kami upayakan untuk memicu fermentasi cepat, proses pengurangan bau dan pengurangan lalat dengan dilakukan penyemprotan menggunakan larutan eco enzyme atau dengan EM4 setiap hari. Kompos yang sudah matang akan dilakukan pembalikan lalu digiling atau diayak untuk memisahkan sampah plastik yang masih tercampur dan sisa ranting atau serat kasar yang belum terurai sempurna menjadi butiran halus siap pakai,” tambahnya.

“Kompos butiran halus akan langsung dikemas untuk siap dipasarkan. Untuk pemasarannya masih menunggu khabar dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, walaupun sebenarnya ada beberapa petani itu pernah datang kesini. Melihat kondisi saat ini masih belum diolah mereka langsung pergi. Termasuk abu bekas pembakaran itu banyak yang menanyakan, kami belum pernah melakukan pengayakan. Sehingga abu hanya kita tumpuk saja karena belum ada pemanfaatan, “pungkas Saji Pramono.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *