Kota Batu_Pintubatunews.com. Desa Giripurno Kecamatan Bumiaji Kota Batu terdiri dari 6 Dusun antara lain Dusun Kedung, Dusun Krajan, Dusun Durek, Dusun Sumbersari, Dusun Sabrangbendo dan Dusun Sawahan. Program rumah kompos dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu diterima oleh 2 Dusun yaitu Dusun Sumbersari dan Dusun Kedung dengan peruntukan untuk fermentasi sampah organik satu Dusun.
TPS3R Kedung mulai beroperasi sejak penutupan TPA Tlekung dan dilakukan secara bertahap. KSM sebanyak 5 orang, yang mendapatkan insentif hanya 2 orang hal ini karena iuran sampah yang diperoleh dari warga tidak cukup untuk membayar kesemuanya.Yang mendapatkan insentif 2 orang itu karena ditugaskan mengambili sampah rumah tangga yang ada di Dusun Kedung. KSM 3 orang itu ya bekerja sosial, dan untuk proses pemilahan lalu pembakaran di insinetor dibantu oleh Ketua RW dan Ketua RT. Pada saat sampah datang terkadang Ketua RT, Ketua RW bahkan istrinya Ketua RT yang membantu melakukan pemilahan sampah. Pengambilan sampah dilakukan setiap hari dengan total rumah tangga yang dilayani 537 rumah. Jumlah RW di Dusun Kedung ada 2 RW, dan jumlah RT ada 14. Terutama di hari Minggu Ketua RT dan Ketua RW berkumpul di TPS3R ini jagongan sambil membantu menyelesaikan persoalan sampah.
Kendaraan operasional pengambilan sampah menggunakan 2 motor Tossa karena gang di jalan kampung yang sempit ukurannya. Besaran iuran dari masyarakat per rumah @ Rp 15.000,- itupun tidak semuanya, untuk orang tertentu keluarga kurang mampu dan janda tidak dikenakan iuran sampah.

Kepala Dusun Kedung Desa Giripurno Heri Siswanto Selasa (24/2/2026) menyampaikan, “Sampah yang masuk untuk residu langsung dibakar, sedangkan sampah organik belum ada perlakuan khusus, hanya dibuatkan lubang tanah lalu ditutup dengan tanah. Dilakukan oleh 2 orang pekerjanya, dan terkadang juga dibantu oleh Ketua RT yang tentunya tidak bisa datang setiap harinya. Jam kerja pekerja yang mengambil sampah dimulai jam 08.00, lalu melakukan pemilahan dan pembakaran menggunakan insinerator itu.”
“Rumah Kompos sudah jadi dan siap dipergunakan, dan bagaimana mengawalinya itu lho kita yang bingung tentunya dibutuhkan tenaga kerja khusus yang harus menanganinya. TPS3R ini terkendala dianggaran biayanya karena dari iuran warga yang terkumpul tidak cukup untuk membiayai operasionalnya, “tambahnya.
“Rencananya akan kita musyawarahkan dengan warga masyarakat seandainya iurannya dinaikkan bagaimana? Takutnya iuran dinaikkan justru nanti tidak mau memilah sampah organik dengan anorganik. Karena dulu itu iurannya sebesar Rp10.000,-, sekarang sudah kita naikkan lagi menjadi Rp15.000,-. Biaya listriknya saja selama ini Rp200.000,-perbulan. Belum untuk penggunaan mesin pompa air yang kita modivikasi menjadi alat penyemprot eco enzyme/EM4. Kita memang sengaja membuat penyemprotan dengan memodifikasi sendiri supaya saat penyemprotan sampah organik bisa dilakukan secara merata. Pada saat penutupan TPA Tlekung (30/8/2023) di Dusun Kedung ini sudah persiapan untuk mengantisipasinya, “tegasnya.
“Kendala yang dialami selama ini ya perlakuan untuk sampah organik, juga sampah anorganik berupa pecahan kaca, piring, gelas dan botol (beling) sementara masih dikumpulkan disatu tempat karena bingung perlakuannya bagaimana? Berharap nanti dari DLH ada yang mengambili. Untuk sosialisasi pilah sampah dari rumah sudah beberapa kali dilakukan sosialisasi oleh tim sosialisasi massif. Juga sebagai Kepala Dusun, saat ketemu dengan Ketua RW dan Ketua RT saya edukasi untuk belajar memilah sampah bersama-sama dengan warga diwilayahnya. Supaya saat dibawa ke rumah kompos ini, sampah organiknya sudah terpilah dan tinggal memasukkan saja. Rencananya TPS3R Dusun Kedung ini akan mendapatkan CSR dari United Tractor untuk budidaya maggot, “pungkas Heri Siswanto.












