Kota Batu_Pintubatunews.com — Sebuah percakapan sederhana ternyata mampu mengubah perjalanan hidup seseorang. Bagi Suharyani, obrolan bersama sesama wali murid TK pada 2016 tentang keberadaan Bank Sampah di Kelurahan Sisir menjadi titik awal keterlibatannya dalam dunia pengelolaan persampahan.
Perempuan kelahiran Mataram, 22 Januari 1970, tersebut sebelumnya tidak pernah membayangkan bahwa rasa penasarannya terhadap Bank Sampah akan berkembang menjadi pengabdian panjang di bidang lingkungan.
Lulusan SMK Negeri 2 Mataram itu mulai merantau ke Kota Batu sejak tahun 1989. Dua puluh tujuh tahun kemudian, tepatnya pada 2016, ia mulai aktif dalam pengelolaan sampah melalui Bank Sampah tingkat RW 4, Kelurahan Temas.
“Awalnya hanya ngobrol dengan wali murid TK. Dari obrolan itu saya mendapat informasi tentang Bank Sampah di Kelurahan Sisir,” demikian kisah perjalanan Suharyani.
Informasi tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan. Suharyani justru terdorong untuk belajar. Ia mulai memahami bagaimana sampah harus dipilah, bagaimana proses penimbangan dilakukan, serta bagaimana mekanisme Bank Sampah berjalan.
Setelah mendapatkan pengetahuan dasar, ia segera membagikannya kepada masyarakat. Sosialisasi pertama dilakukan kepada ibu-ibu PKK RT 2 RW 4 Kelurahan Temas.
Pada masa awal, proses edukasi tentu tidak berjalan mudah. Pemahaman masyarakat mengenai pemilahan sampah masih terbatas. Sampah yang seharusnya masuk kategori residu, seperti popok sekali pakai, bahkan sempat dibawa ke Bank Sampah.
Namun, kondisi tersebut justru menjadi bagian dari proses pembelajaran. Suharyani terus melakukan edukasi mengenai jenis sampah yang memiliki nilai ekonomi, sampah organik, maupun sampah residu yang memang harus mendapatkan penanganan berbeda.
Gerakan kecil itu kemudian berkembang. Dari kegiatan di tingkat lingkungan, terbentuk Bank Sampah tingkat RW. Suharyani selanjutnya ikut bergabung dalam jaringan Bank Sampah tingkat Kota Batu.
Tidak Berhenti pada Bank Sampah
Perjalanan Suharyani di bidang lingkungan tidak berhenti pada pengelolaan Bank Sampah. Ia terus mencari pengetahuan baru yang dapat diterapkan di masyarakat.
Pada 1 Oktober 2020, Suharyani mengikuti pelatihan eco enzyme. Pengetahuan tersebut kemudian dikembangkan melalui aktivitas komunitas.
Dua tahun kemudian, pada 2022, ia dipercaya menjadi Koordinator Komunitas Eco Enzyme Kecamatan Batu, Kota Batu.
Bagi Suharyani, pengelolaan sampah membutuhkan perubahan cara pandang masyarakat. Sampah tidak semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi perlu dipilah dan dikelola sejak dari sumbernya.
Menjadi Bagian dari Perjuangan TPS3R Temas
Tantangan pengelolaan sampah semakin terasa setelah TPA Tlekung ditutup pada 31 Agustus 2023.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis lingkungan. Di Kelurahan Temas, proses tersebut kemudian membawa Suharyani pada peran baru.
Pada 3 Oktober 2023, dilaksanakan musyawarah Kelurahan Temas. Dalam pemilihan langsung yang berlangsung di Pendopo Kelurahan Temas, Suharyani dipercaya menjadi Bendahara Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) tempat pengolahan sampah – reduce, reuse, recycle (TPS3R) Temas Sae Bersatu.
Tugasnya ternyata tidak sebatas mengelola administrasi keuangan. Suharyani juga ikut mengatur pembagian tugas anggota KSM, membantu menyelesaikan berbagai persoalan internal, serta menghadapi persoalan yang muncul dalam hubungan antara TPS3R dan masyarakat sekitar.
Pengabdian tersebut juga memiliki cerita tersendiri.
Ketua dan wakil ketua pada periode pertama TPS3R Temas Sae Bersatu telah meninggal dunia. Salah satu pesan almarhum ketua yang masih diingat Suharyani adalah harapan agar keberadaan TPS3R mampu meningkatkan kesejahteraan para anggota KSM yang sebagian memiliki latar belakang sebagai pemulung.
Pesan tersebut menjadi salah satu alasan bagi Suharyani untuk terus bertahan dan mengabdikan diri dalam pengelolaan TPS3R.
Seiring perjalanan waktu, kepengurusan pun mengalami perubahan. Saat ini semakin banyak orang-orang baru yang ikut terlibat dalam pengelolaan TPS3R.
Ketika Bau dan Asap Menjadi Keluhan Warga
Mengelola TPS3R bukan pekerjaan tanpa persoalan. Salah satu tantangan yang pernah dihadapi adalah munculnya bau dan asap yang menimbulkan komplain dari warga sekitar.
Bagi Suharyani, keluhan masyarakat bukan sesuatu yang harus dihindari. Justru dari persoalan tersebut diperlukan evaluasi dan pencarian solusi.
Bagaimana TPS3R tetap dapat menjalankan fungsi pengelolaan sampah sekaligus membuat warga sekitar merasa nyaman menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan bersama.
Pengalaman tersebut membuat Suharyani semakin memahami bahwa persoalan persampahan bukan sekadar persoalan teknis. Di dalamnya terdapat persoalan sosial, komunikasi, kebiasaan masyarakat, serta kebutuhan untuk membangun kesepahaman antara pengelola dan warga.
Pengabdian Meluas ke Lingkungan dan Sosial
Aktivitas Suharyani ternyata tidak hanya berkutat pada persoalan sampah.
Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan di lingkungan Muhammadiyah. Di tingkat Pimpinan Daerah, Suharyani terlibat dalam Majelis Lingkungan Hidup.
Kegiatannya antara lain ikut terlibat dalam kegiatan sosial ketika terjadi bencana serta program penanaman pohon.
Sementara di tingkat Pimpinan Cabang, ia aktif dalam Majelis Kesehatan. Berbagai kegiatan yang dilakukan meliputi pemeriksaan kesehatan, pembagian makanan bergizi kepada masyarakat di sekitar Kota Batu saat kegiatan pengajian, hingga pemeriksaan kesehatan bagi lansia yang dilakukan setiap bulan.
Di lingkungan Aisyiyah, Suharyani juga dipercaya sebagai Ketua Ranting Aisyiyah Temas. Melalui organisasi tersebut, ia aktif dalam kegiatan pengajian, bakti sosial, dan berbagai aktivitas kemasyarakatan lainnya.
Dari Masyarakat, Kembali untuk Masyarakat
Kini, pengalaman panjang tersebut menjadi modal penting bagi Suharyani dalam menjalankan tugasnya sebagai bagian dari Tim Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, khususnya Divisi Sosialisasi Massif.
Perjalanan selama bertahun-tahun membuatnya memahami bahwa perubahan perilaku masyarakat tidak bisa dilakukan hanya melalui teori. Masyarakat perlu diajak melihat, mencoba, memahami, dan kemudian bergerak bersama.
Dari sebuah obrolan sederhana pada 2016, Suharyani akhirnya menemukan ruang pengabdian yang lebih luas.
Bank Sampah, eco enzyme, TPS3R, kegiatan lingkungan, hingga berbagai aktivitas sosial menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Bagi Suharyani, pengelolaan sampah bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah proses panjang untuk membangun kesadaran masyarakat.
Dan perubahan itu, menurutnya, selalu dapat dimulai dari lingkungan paling dekat dari rumah, dari tetangga, dan dari kemauan untuk memilah sampah sejak dari sumbernya.













