Pintubatunews.com. Masalahnya bukan pada uang simpanan yang belum terkumpul. Masalahnya ada pada rasa memiliki yang belum tumbuh.
Koperasi Desa Merah Putih hari ini masih sering dipandang sebagai proyek pemerintah pusat. Sesuatu yang โdibentuk dari atasโ. Sesuatu yang โdatangnya dari kebijakanโ. Dan sesuatu yang โnanti juga dibantuโ.
Ketika cara pandang itu hidup, partisipasi perlahan mati. Koperasi sejatinya bukan proyek. Ia adalah gerakan. Ia lahir dari kesadaran, bukan instruksi. Ia tumbuh dari kebutuhan bersama, bukan dari papan nama dan SK semata. Namun yang terjadi di banyak tempat, koperasi belum sepenuhnya dipahami sebagai milik anggota. Ia masih terasa seperti milik pemerintah. Dan jika sesuatu dianggap milik pemerintah, orang cenderung menjadi penonton. Bukan pelaku.
Ini terlihat sederhana. Tapi dampaknya nyata. Simpanan pokok belum terkumpul. Simpanan wajib belum berjalan maksimal. Rapat tidak antusias. Semangat masih setengah hati.
Padahal koperasi berdiri di atas satu fondasi utama: partisipasi. Tanpa partisipasi, koperasi hanya menjadi badan hukum tanpa jiwa. Kita perlu jujur pada diri sendiri.
Mengapa anggota belum bergerak penuh? Karena di dalam benak sebagian orang, koperasi masih dianggap sebagai program. Bukan perjuangan bersama. Program itu ditunggu. Perjuangan itu diperjuangkan.
Perbedaan cara pandang ini menentukan nasib lembaga. Simpanan pokok dan simpanan wajib bukan sekadar angka. Ia adalah simbol komitmen. Ketika anggota menyetor, sebenarnya ia sedang berkata, โSaya ikut bertanggung jawab.โ Jika simpanan tidak terkumpul, itu bukan hanya persoalan administrasi. Itu tanda bahwa rasa kepemilikan belum mengakar. Dan koperasi tanpa rasa memiliki adalah bangunan tanpa fondasi.
Kita sering terlalu fokus pada struktur: ada pengurus, ada pengawas, ada badan hukum. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ณ๐ถ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ถ๐ฉ ๐ฌ๐ฐ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ช ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ข๐ฅ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฌ๐ต๐ช๐ง. ๐๐ฆ๐ด๐ข๐ฅ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฉ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ข๐ฏ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ข๐ต๐ข๐ด, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข.
Jika Koperasi Desa Merah Putih terus dipersepsikan sebagai proyek pemerintah pusat, maka anggota akan berpikir: โIni bukan urusan saya sepenuhnya.โ Dan ketika pikiran itu tumbuh, partisipasi menyusut. Padahal koperasi yang sehat bukan yang paling banyak dibantu. Tapi yang paling banyak melibatkan.
Bantuan bisa memulai. Tapi hanya partisipasi yang bisa menjaga. Di sinilah kritik harus kita letakkan dengan tenang. Bukan untuk menyalahkan siapa pun. Tapi untuk meluruskan arah.

Pengurus tidak cukup hanya menjalankan administrasi. Mereka harus menanamkan kesadaran. Bahwa koperasi ini bukan milik kementerian. Bukan milik dinas. Bukan milik kepala desa. Tapi milik anggota. Dan anggota pun tidak bisa terus berada di posisi pasif. Koperasi bukan bank bantuan. Ia bukan tempat menunggu cairnya program. Ia adalah alat perjuangan ekonomi bersama.
Kalau simpanan pokok terasa berat, mungkin karena manfaatnya belum terasa dekat. Kalau simpanan wajib belum rutin, mungkin karena nilai kebersamaannya belum dipahami.
Artinya, yang perlu diperkuat bukan hanya penagihan. Tapi pendidikan.
Edukasi koperasi bukan formalitas. Ia adalah proses membangun kesadaran ekonomi kolektif. Bahwa dengan iuran kecil yang konsisten, kita sedang membangun kemandirian jangka panjang.
Koperasi bukan jalan pintas. Ia jalan proses.
Memang tidak instan.
Memang tidak cepat kaya.
Tapi ia stabil. Ia adil. Ia tumbuh bersama.
Jika hari ini partisipasi melemah, jangan buru-buru menyalahkan anggota. Bisa jadi komunikasi belum menyentuh hati. Bisa jadi narasinya masih terlalu administratif. Bisa jadi koperasi masih terdengar seperti agenda, bukan cita-cita.
Dan cita-cita tidak pernah hidup dari instruksi. Ia hidup dari keyakinan.
Maka solusinya bukan sekadar mengingatkan kewajiban simpanan. Tapi membangun kembali rasa memiliki.
Pertama, perbanyak dialog. Duduk bersama anggota. Dengarkan keraguan mereka. Jelaskan tujuan koperasi dengan bahasa sederhana, bukan bahasa kebijakan.
Kedua, transparansi total. Tunjukkan setiap rupiah yang masuk dan keluar. Kepercayaan tumbuh dari keterbukaan.
Ketiga, mulai dari keberhasilan kecil. Ketika anggota melihat manfaat nyata, walau kecil, kepercayaan akan menguat. Dan dari kepercayaan, partisipasi akan mengikuti.
Koperasi adalah cermin kedewasaan ekonomi masyarakat. Jika partisipasi rendah, itu sinyal bahwa kesadaran kolektif perlu diperkuat.
Kita tidak bisa terus menggantungkan semangat koperasi pada pemerintah pusat. Karena pada akhirnya, pemerintah bisa memulai. Tapi anggota yang menentukan apakah ia hidup atau sekadar nama.
Koperasi Desa Merah Putih tidak boleh berhenti sebagai simbol kebijakan. Ia harus menjadi simbol kebersamaan.
Sebab warna merah putih bukan sekadar warna bendera. Ia melambangkan keberanian dan ketulusan.
Berani mandiri. Tulus bergotong royong. Jika koperasi ingin kuat, ia harus lahir dari rasa memiliki. Bukan dari rasa menunggu. Dan mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan sederhana saja:
Apakah kita ingin koperasi yang berdiri karena proyek?
Atau koperasi yang bertahan karena keyakinan?











