Kota Batu_Pintubatunews.com. Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tulungrejo 01 yang beralamat di Jl. Pangeran Diponegoro No. 182 Dusun Gondang Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu saat ini sudah menjadi Sekolahan Adiwiyata Mandiri, menggelar acara panen eco enzyme. Acara diawali dengan tarian “Pesona Nusantara” oleh siswa-siswa kelas 5 dan dibuka oleh Kepala SDN Tulungrejo 01 Supriyanto, S.Pd.
Panen eco enzyme tersebut dilakukan pada Kamis pagi (16/4/2026) selain diikuti oleh Guru dan puluhan siswa-siswi SDN Tulungrejo 01, juga dihadiri perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu Gatot Susanto, Ima, Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan Kota Batu divisi eco enzyme Suprapti Kanti serta Konid koordinator eco enzyme Dusun Gondang Desa Tulungrejo.

Pembina dan penggerak lingkungan di SDN Tulungrejo 01 Sumarti menuturkan, “Pembuatan eco enzyme ini dilakukan agar anak-anak sudah mulai paham tentang manfaat sampah. Karena sampah rumah tangga yang dihasilkan sebagian besar merupakan sampah organik dari sayuran maupun kulit buah. Jika sampah ini dibuang begitu saja, tentunya akan menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang akan menghasilkan gas yang berbahaya dan merusak pelindung lapisan bumi kita. Dengan membuat eco enzyme kita bisa mengurangi polusi, eco enzyme merupakan cairan ajaib yang bisa dipergunakan untuk mengepel, membersihkan kamar mandi hingga menjadi pupuk tanaman juga bisa menyayangi bumi ketika udara tetap bersih dan tanah subur. Untuk itu sebagai penggiat lingkungan dan penanggung jawab adiwiyata di SDN Tulungrejo 01, yang sudah menyandang gelar adiwiyata mandiri. Saya mengajak siswa-siswa untuk belajar membuat eco enzyme yang banyak manfaatnya, dan ini sudah yang ketiga kalinya. Pembuatan eco enzme ini masuk dalam pembelajaran PLH yang sudah diberikan sejak kelas 1 hingga kelas 6 dengan muatannya 1 minggu 2 jam. Untuk materi sampah ini berada di kelas 5. Saat praktek pembuatan eco enzyme ini anak-anak saya wajibkan membawa sampah organic dari rumah. Karena sampah yang dihasil di sekolah itu sedikit hanya berasal dari sisa rumput atau guguran pohon yang diolah menjadi kompos.”
“Bahan pembuatan eco enzyme ini menggunakan rumus 1:3:10 yaitu satu bagian mollase, tiga bagian sampah organic dan 10 bagian air. Untuk pembuatan yang kemarin ini yang ketiga kalinya, menghasilkan 100 ltr eco enzyme terdiri 100 ltr air, 30 kg sampah organik dan 10 kg mollase. Bahan-bahan yang dibawa anak-anak dari rumah buah apel yang masih segar tidak layak dikonsumsi seperti jeruk nipis, kulit nanas, kulit pisang, papaya, terong, labusiam, ketimun dan air yang berasal dari sumber mata air langsung. Inginnya membuat banyak tetapi karena keterbatasan wadah/tempat, tempat yang tersedia merupakan bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu. Saya berharap praktek selanjutnya DLH bisa memberikan wadah/tempat yang lebih besar lagi agar kita bisa menghasilkan eco enzyme yang lebih banyak dan dapat bermanfaat bagi yang lainnya, “harapnya.

“Untuk pembuatan bahan organik dicuci terlebih dulu lalu ditiriskan, kemudian dipotong kecil-kecil. Mollase kami larutkan dalam wadah plastik yang memiliki tutup rapat, kemudian potongan bahan organic kita masukkan dalam larutan air dan mollase, kemudian kita tutup. Untuk wadah harus disisakan ruang supaya gas yang dihasilkan tidak meledak. Masa fermentasi selama 90 hari, minggu pertama dilakukan pengadukan dan minggu ke 3 atau 21 hari dilakukan pengadukan kedua agar tempatnya tidak mengembang. Kita taruh ditempat yang teduh tidak terkena sinar matahari langsung. Setelah tiga bulan eco enzyme bisa dipanen, eco enzyme yang berhasil berwarna jernih coklat, beraroma asam segar seperti aroma cuka atau buah-buahan. Jika ada lapisan putih diatasnya itu jamur pitera itu tandanya bagus. Hasilnya kita kemas dibotol-botol yang bersih, dan diberi label eco enzyme, untuk ampasnya kita buat pupuk kompos. Tujuan pembuatan eco enzyme ini merupakan cara berterimakasih kepada alam, meskipun butuh waktu yang lama hasilnya sangat bermanfaat, “pungkas Sumarti.












