Rumah Kompos Dibangun di Dusun Klerek! TPS3R Berhias Desa Torongrejo Berpacu dengan Hujan dan Pasokan Material

Kota Batu, Pintubatunews.com – Upaya memperkuat pengelolaan sampah rumah tangga di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, terus berlanjut. Setelah Dusun Krajan menerima hibah pembangunan rumah kompos dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu pada 2025, kini giliran Dusun Klerek yang mendapatkan fasilitas serupa pada 2026.

Pembangunan rumah kompos di Dusun Klerek tersebut dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Berhias. Fasilitas ini diharapkan dapat memperkuat pengolahan sampah organik dari rumah tangga sekaligus mengurangi beban sampah yang harus ditangani lebih lanjut.

Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Berhias, Roni, menjelaskan bahwa pembangunan rumah kompos mulai dikerjakan pada Selasa (27/10/2026). Saat ditemui pada Jumat (30/10/2026), Roni didampingi Kepala Dusun Klerek, bersama Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan pada DLH Kota Batu, Rohim Nursholeh dan Arif.

“Mulai pengerjaan untuk penataan tempat dan penggalian lubang pondasi dimulai pada Selasa, 27 Oktober 2026, dengan target pembangunan rumah kompos selesai pada 11 Desember 2026. Tenaga kerja yang terlibat berjumlah tujuh orang,” tutur Roni.

Bangunan 12 x 9 Meter, Dilengkapi Empat Sel Kompos

Rumah kompos yang dibangun di Dusun Klerek direncanakan memiliki ukuran panjang 12 meter dan lebar 9 meter. Bangunan tersebut akan dilengkapi empat sel pengolahan kompos untuk mendukung proses penanganan sampah organik.

Selain ruang pengolahan, fasilitas ini juga dirancang memiliki bak penampungan air lindi yang ditempatkan di bagian selatan, tepatnya di ujung timur bangunan rumah kompos. Setiap sel akan dilengkapi bak kontrol untuk memudahkan pemeriksaan saluran air lindi.

Keberadaan fasilitas penampungan dan bak kontrol tersebut menjadi bagian penting dalam perencanaan bangunan, terutama untuk mendukung pengelolaan air lindi agar tidak terabaikan selama proses pengolahan sampah organik berlangsung.

Dengan desain tersebut, rumah kompos TPS3R Berhias diharapkan tidak hanya menyediakan ruang pengolahan, tetapi juga mendukung penataan proses kerja yang lebih terarah.

Foto Roni Ketua Pokmas Berhias di hanggar TPS3R Dusun Klerek.

Pengiriman Material dan Cuaca Jadi Kendala

Meski pekerjaan telah dimulai, pembangunan rumah kompos TPS3R Berhias menghadapi sejumlah kendala teknis. Salah satunya adalah keterlambatan pengiriman material bangunan yang dipesan dari toko bangunan.

Roni menyebutkan, pihaknya menargetkan pekerjaan pengecoran balok atas sudah dapat diselesaikan pada November 2026. Namun, keterlambatan pasokan material berpotensi memengaruhi kelancaran tahapan pekerjaan.

“Pengerjaan pembangunan rumah kompos ini untuk target di bulan November, balok atas sudah harus selesai dicor. Hanya saja, tetap ada kendala material. Pengiriman yang kami pesan dari toko bangunan sering datangnya terlambat,” jelasnya.

Selain pasokan material, faktor cuaca juga menjadi tantangan. Hujan deras yang mulai turun dapat memengaruhi pekerjaan konstruksi, khususnya pada tahapan yang dilakukan di area terbuka.

Meski demikian, kegiatan pembangunan tetap diupayakan berjalan. Untuk mengantisipasi kondisi cuaca, tenaga kerja masih dapat melakukan persiapan besi untuk pengecoran pondasi di dalam hanggar TPS3R.

“Juga terkendala cuaca yang mulai turun hujan dengan deras. Tapi kami masih bisa melakukan pengerjaan untuk persiapan besi untuk cor di pondasinya di dalam hanggar TPS3R ini,” pungkas Roni.

Menunggu Rumah Kompos Beroperasi

Pembangunan rumah kompos di Dusun Klerek menjadi kelanjutan dukungan fasilitas pengolahan sampah di Desa Torongrejo. Sebelumnya, pada 2025, Dusun Krajan telah memperoleh hibah pembangunan rumah kompos dari DLH Kota Batu untuk mendukung pengelolaan sampah yang dilakukan KSM TPS3R setempat.

Kini, pembangunan fasilitas serupa di Dusun Klerek menjadi langkah berikutnya dalam memperkuat penanganan sampah berbasis masyarakat.

Dengan target penyelesaian pada 11 Desember 2026, tahapan pekerjaan selanjutnya perlu dijaga agar tetap sesuai rencana, dengan memperhatikan ketersediaan material, kondisi cuaca, serta kualitas konstruksi bangunan.

Setelah pembangunan selesai, tantangan berikutnya adalah memastikan rumah kompos dapat dimanfaatkan secara optimal melalui pengelolaan sampah organik yang konsisten, pemeliharaan fasilitas, dan keterlibatan masyarakat.

Sebab, keberhasilan rumah kompos tidak hanya ditentukan oleh berdirinya bangunan, tetapi juga oleh keberlanjutan operasionalnya dalam mengurangi sampah rumah tangga sejak dari sumbernya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *