Kota Batu, Pintubatunews.com – Memilah sampah sejak dari sumbernya bukan sekadar imbauan, tetapi harus dibuktikan melalui kebiasaan nyata. Sebanyak 13 siswa SMP Negeri 7 Kota Batu yang tergabung dalam kelompok Bestiku telah menunjukkan praktik tersebut sejak 2023. Di tengah masih adanya siswa yang membuang sampah sembarangan, mereka tetap konsisten memilah sampah organik dan anorganik, menyetorkannya ke Bank Sampah TPS3R Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo Kota Batu, hingga mengumpulkan hasil penjualannya sebagai tabungan.
Konsistensi para siswa ini menjadi potret bahwa edukasi lingkungan tidak cukup berhenti pada slogan kebersihan sekolah. Perubahan perilaku membutuhkan tindakan berulang, kedisiplinan, dan dukungan seluruh warga sekolah agar sampah tidak kembali tercampur setelah dipilah. Para siswa secara bergotong royong mengumpulkan, memilah, mengantarkan, hingga menimbang sampah anorganik yang layak dijual. Sampah yang sudah terpilah disetorkan ke TPS3R Dadaprejo dua kali dalam sepekan.
Trivani Gading Raicel, salah satu anggota Bestiku, menjelaskan bahwa kegiatan pemilahan dilakukan setiap hari dengan menyesuaikan jadwal istirahat sekolah.
“Sekolah kami melakukan pemilahan sampah sejak tahun 2023. Setiap hari melakukan pemilahan sampah antara sampah organik dan sampah anorganik. Sampah yang sudah terpilah tersebut langsung diantarkan bersama-sama ke TPS3R Dadaprejo seminggu dua kali,” ungkap Trivani saat ditemui bersama teman-temannya ketika mengantarkan dan menimbang sampah di TPS3R Dadaprejo, Selasa (27/10/2026).
Menurutnya, kegiatan pemilahan sampah dilakukan oleh 13 siswa yang tergabung dalam kelompok Bestiku. Jika kegiatan belajar berakhir secara normal, pemilahan dilakukan pada jam istirahat kedua. Namun, ketika siswa pulang lebih awal, kegiatan tersebut dilaksanakan pada jam istirahat pertama.

Menghadapi Tantangan, Bestiku Berharap Seluruh Siswa Peduli Sampah
Di balik kegiatan rutin tersebut, para anggota Bestiku masih menghadapi tantangan dalam membangun kesadaran seluruh warga sekolah untuk membuang sampah pada tempatnya.
Trivani mengungkapkan, masih ada teman-temannya yang membuang sampah sembarangan meskipun pemilahan telah dilakukan.
“Ada suka dukanya sebagai kelompok Bestiku, karena ada beberapa teman yang tidak toleransi. Sudah tahu kita sudah memilah, tetapi masih ada yang membuang sampah sembarangan,” tuturnya.
Ia berharap seluruh siswa bersedia melakukan pemilahan sampah dan menghargai upaya kelompok Bestiku dengan membuang sampah sesuai tempatnya. Menurutnya, sampah organik pun dapat dibawa ke TPS3R, asalkan sudah dipilah dari sumbernya.
Bagi Trivani, bergabung dalam Bestiku memberikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermanfaat. Selain belajar memilah sampah sejak dari sumbernya, ia dapat bekerja sama dengan teman-temannya dan memperoleh hasil penjualan sampah yang telah dikumpulkan.
“Saya merasa senang tergabung dalam kelompok Bestiku ini karena bisa melakukan pilah sampah dari sumbernya, bisa kumpul bersama teman-teman dan juga mendapatkan uang hasil penjualan sampah yang sudah dipilah,” tambahnya.
Hasil Penjualan Sampah Menjadi Tabungan Siswa
Ketua KSM TPS3R Kelurahan Dadaprejo, Sunarto, membenarkan bahwa kelompok Bestiku secara rutin menyetorkan sampah terpilah ke Bank Sampah TPS3R Dadaprejo.
Ia menjelaskan, kepengurusan kelompok Bestiku mengalami pergantian setiap tahun. Para siswa biasanya datang bersama-sama untuk membawa sampah, melakukan penimbangan, serta mencatat hasil setoran mereka di Bank Sampah TPS3R Dadaprejo.
Hasil penjualan sampah tersebut tidak langsung diambil setiap kali menyetor. Rata-rata setelah sekitar tiga bulan, para siswa mengambil uang tabungan mereka untuk kemudian dibagikan dan dimanfaatkan bagi kebutuhan anggota Bestiku sendiri.
Sunarto berharap kebiasaan memilah sampah dari sumbernya yang dilakukan kelompok Bestiku dapat menjadi contoh bagi siswa lainnya.
“Semoga kebiasaan pilah sampah dari sumbernya itu bisa diikuti oleh murid-murid yang lainnya,” harap Sunarto.

Edukasi Sampah dari Sekolah, Langkah Nyata Menuju Lingkungan Bersih
Kegiatan Bestiku menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan sekolah melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Pemilahan sampah bukan hanya membantu mengurangi sampah tercampur, tetapi juga mengenalkan nilai ekonomi sampah anorganik kepada siswa.
Kolaborasi antara sekolah dan TPS3R Dadaprejo menjadi salah satu bentuk praktik edukasi lingkungan yang menghubungkan pembelajaran dengan tindakan nyata. Sampah yang sebelumnya berpotensi terbuang percuma dapat dikumpulkan, ditimbang, dan dijual, sementara hasilnya menjadi tabungan bagi para siswa.













