TPS3R Dadaprejo Terapkan Hasil Bimtek, Bukan Mesin Mahal! Alat Garuk Sederhana Bantu TPS3R Dadaprejo Percepat Pemilahan Sampah

Kota Batu, Pintubatunews.com – Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, mulai merasakan hasil penerapan bimbingan teknis (bimtek) pemilahan sampah yang benar. Berbekal teknik pemilahan yang lebih efektif dan penggunaan peralatan sederhana, sampah plastik yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk terkumpul kini bisa mencapai 650 kilogram hanya dalam waktu 10 hari.

Ketua KSM TPS3R Kelurahan Dadaprejo, Sunarto, menyampaikan hal tersebut saat ditemui pada Senin (12/10/2026). Ia didampingi Artoko Pramono, Koordinator Kecamatan Junrejo  pendamping TPS3R dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu.

Menurut Sunarto, perubahan tersebut merupakan hasil mengikuti bimtek tata cara pemilahan sampah yang diselenggarakan DLH Kota Batu bekerja sama dengan TPS3R Mulyoagung Bersatu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, pada 9–10 September 2026.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan teori, tetapi juga mempraktikkan secara langsung teknik pemilahan sampah yang benar di lokasi pengolahan.

“Kami belajar langsung cara pemilahan sampah, mulai dari teori sebentar kemudian langsung dipraktikkan. Saat sampah diturunkan dari kendaraan, kondisinya masih tercampur. Selanjutnya, kantong plastik dibuka atau ikatannya dilepas, kemudian sampah organik dipisahkan dari sampah anorganik,” jelas Sunarto.

Foto tumpukan sampah anorganik hasil pemilahan

Gunakan Garukan Sampah dan Sarung Tangan Berlapis

Salah satu teknik yang dipelajari adalah penggunaan alat berupa garukan sampah berukuran sekitar satu meter untuk membantu mempercepat proses pemilahan. Peralatan sederhana tersebut dapat dibeli secara daring dengan harga berkisar Rp45.000 hingga Rp90.000.

TPS3R Dadaprejo kini telah menerapkan penggunaan alat tersebut dalam kegiatan operasional sehari-hari.

Selain meningkatkan kecepatan kerja, pengelola juga memperhatikan perlindungan pekerja saat memilah sampah. Para pekerja diwajibkan menggunakan dua lapis sarung tangan, yakni sarung tangan plastik di bagian dalam dan sarung tangan kain di bagian luar.

“Penggunaan sarung tangan plastik hanya untuk sehari, setelah itu dibuang. Sedangkan sarung tangan kain setelah selesai bekerja wajib dicuci dan besoknya bisa dipakai kembali. Sarung tangan kain tersebut bisa digunakan kurang lebih selama satu minggu,” tutur Sunarto.

Penerapan prosedur tersebut menjadi bagian dari upaya pengelola untuk membiasakan pekerja bekerja lebih tertib sekaligus memperhatikan kebersihan perlengkapan kerja.

Sampah Plastik Lebih Cepat Menjadi Uang

Dampak paling nyata dari penerapan hasil bimtek terlihat pada proses pemilahan sampah anorganik, terutama plastik yang masih memiliki nilai jual.

Sampah plastik yang dapat dipasarkan langsung dipisahkan berdasarkan jenisnya. Begitu pula aneka botol yang kini lebih cepat dipilah sesuai kategori masing-masing.

Hasilnya cukup menggembirakan. Dalam kurun waktu 10 hari, sampah plastik yang berhasil dikumpulkan mencapai 650 kilogram. Capaian tersebut membuat pembeli barang bekas atau rosokan plastik terkejut karena jumlah itu biasanya baru terkumpul dalam waktu sekitar satu bulan.

Bagi pengelola TPS3R Dadaprejo, hasil tersebut bukan sekadar peningkatan jumlah sampah terpilah, tetapi juga peluang untuk memperkuat pendapatan operasional.

Semakin cepat sampah anorganik dipilah, semakin cepat pula material bernilai ekonomi dapat dijual. Hasil penjualan itu selanjutnya bisa dimanfaatkan untuk membantu membiayai kebutuhan operasional TPS3R.

“Puji Tuhan, sekarang pemilahan sampah anorganik semakin cepat. Plastik yang bisa dijual langsung dipisahkan, begitu juga botol-botol berdasarkan jenisnya. Hasilnya bisa segera menjadi uang untuk membantu biaya operasional TPS3R,” ungkap Sunarto.

Foto Ketua KSM TPS3R Kelurahan Dadaprejo, Sunarto, bersama Artoko Pramono, Koordinator Kecamatan Junrejo pendamping TPS3R DLH Kota Batu.

Tantangan Penerapan di TPS3R Lain

Meski hasil penerapan di Dadaprejo menunjukkan perkembangan positif, Sunarto menilai praktik yang dipelajari dalam bimtek belum tentu langsung diterapkan oleh seluruh TPS3R peserta.

Salah satu kendalanya adalah peserta yang mengikuti kegiatan di TPS3R Mulyoagung Bersatu merupakan pekerja lapangan. Akibatnya, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh belum tentu langsung tersampaikan secara menyeluruh kepada pengurus atau pihak yang memiliki kewenangan mengambil keputusan, termasuk dalam pengadaan peralatan pendukung.

Penggunaan garukan sampah, misalnya, membutuhkan pemahaman mengenai manfaatnya sekaligus dukungan pengelola agar peralatan tersebut dapat tersedia dan digunakan secara konsisten.

Pengalaman TPS3R Dadaprejo menunjukkan bahwa peningkatan kinerja pengolahan sampah tidak selalu harus dimulai dengan teknologi mahal. Teknik pemilahan yang tepat, peralatan sederhana, kedisiplinan pekerja, dan pemanfaatan sampah bernilai jual dapat menjadi langkah nyata untuk meningkatkan efektivitas operasional.

Ke depan, pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi TPS3R lainnya di Kota Batu. Dengan berbagi praktik baik dan dukungan pengelolaan yang memadai, pemilahan sampah di tingkat masyarakat diharapkan semakin efektif, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi keberlangsungan layanan pengolahan sampah.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *