Sempat Minus Rp30 Juta, TPS3R Paba Asri Dusun Payan Desa Punten Kini Bertahan Layani 650 Pelanggan

Kota Batu, Pintubatunews.com — Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Paba Asri di Jl. Anjasmoro RT 02 RW 07 Dusun Payan, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, hingga kini masih mengandalkan iuran warga untuk menopang seluruh biaya operasionalnya.

TPS3R yang dibangun pada 2019 dan mulai beroperasi sejak November 2019 tersebut saat ini melayani sekitar 650 pelanggan yang tersebar di sejumlah wilayah Desa Punten dan sekitarnya.

Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) TPS3R Paba Asri, Dwi Endang Purwanti, mengatakan hal itu saat ditemui pada Kamis (8/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia didampingi M. Soleh, Koordinator Kecamatan Bumiaji Pendamping TPS3R dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, dan Andik Wahyudi, Pendamping TPS3R Desa Punten.

“Kami melayani pengambilan sampah dari Dusun Payan yang terdiri dari dua RW, Dusun Kungkuk Desa Punten satu RT, Dusun Gentung Desa Punten 1,5 RT, Dusun Buludendeng Desa Bulukerto 1,5 RT, serta pelaku usaha yang ada di jalan raya Punten. Jumlah pelanggan kurang lebih 650 pelanggan,” tutur Dwi.

Menurutnya, perjalanan TPS3R Paba Asri sejak awal beroperasi tidaklah mudah. Pada November 2019 hingga 2020, TPS3R bahkan mengalami defisit biaya operasional yang mencapai sekitar Rp30 juta.

Saat pertama beroperasi, TPS3R Paba Asri memiliki 12 pekerja dan tiga orang pengurus. Namun, karena seluruh biaya operasional hanya mengandalkan iuran masyarakat, jumlah tenaga kerja kemudian harus dikurangi.

“Sejak mulai beroperasi hingga saat ini semua biaya operasional murni berasal dari iuran sampah warga. Kalau mengandalkan iuran warga tentunya tidak akan mencukupi untuk biaya operasional saja,” jelasnya.

Besaran iuran juga berbeda berdasarkan wilayah pelayanan. Untuk pelanggan di Dusun Payan dikenakan iuran Rp15.000 per pelanggan, sedangkan wilayah lainnya sebesar Rp20.000 per pelanggan. Dwi menjelaskan, khusus warga Dusun Payan, besaran iuran tersebut salah satunya berkaitan dengan kondisi lingkungan akibat asap pembakaran sampah residu yang terdampak di kawasan tersebut.

Dari kondisi tersebut, jumlah pekerja kini dikurangi menjadi delapan orang, yang terdiri dari dua orang bertugas mengambil sampah dari rumah warga, dua orang menangani pengolahan sampah organik menjadi kompos, dan empat orang melakukan pemilahan sampah. Bahkan, ketika volume sampah yang masuk cukup tinggi, pengurus KSM harus turun langsung membantu proses pemilahan.

Foto kondisi sampah yang masuk dari warga masih belum terpilah.

Sampah Belum Terpilah Jadi Kendala

Persoalan lain yang masih dihadapi TPS3R Paba Asri adalah kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya.

Dwi menyebutkan, sebagian sampah yang diambil petugas dari rumah warga masih dalam kondisi tercampur antara sampah organik dan anorganik.

Kondisi tersebut membuat petugas TPS3R harus melakukan pemilahan ulang di lokasi pengolahan. Akibatnya, proses pengolahan membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak.

“Sayangnya sampah dari warga yang diambil oleh petugas banyak yang masih belum terpilah antara sampah organik dan sampah anorganik. Tentunya hal ini mengakibatkan proses pemilahan sampah di TPS3R menjadi lama,” ungkapnya.

Padahal, pemilahan sampah sejak dari sumber menjadi salah satu kunci agar pengelolaan sampah di TPS3R dapat berjalan lebih efektif. Sampah organik dapat langsung diarahkan untuk pengomposan, sedangkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipilah dan dimanfaatkan kembali.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *