Kota Batu, Pintubatunews.com — Air lindi yang selama ini identik dengan limbah dari proses pengolahan sampah justru dimanfaatkan sebagai bagian dari uji coba pemupukan dasar di Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Dusun Kedung, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Uji coba tersebut dilakukan setelah bak penampungan air lindi di belakang rumah kompos TPS3R Kedung penuh sekitar tiga bulan lalu. Ketua KSM TPS3R Dusun Kedung, Suwaji, mengatakan pihaknya mencoba memanfaatkan air lindi tersebut untuk menyiram rumput di depan greenhouse.
“Adanya rumah kompos tentunya menghasilkan air lindi. Tiga bulan yang lalu sewaktu air lindi yang berada di bak penampungan di belakang rumah kompos terisi penuh, kami sengaja melakukan uji coba langsung digunakan untuk menyiram rumput yang terletak di depan greenhouse,” kata Suwaji saat ditemui, Selasa (6/10/2026).
Menurut Suwaji, hasil awal uji coba justru cukup mengejutkan. Hanya dalam waktu sekitar tiga hari setelah disiram air lindi, rumput tersebut mengering seperti terkena herbisida.
Namun, lahan bekas penyiraman tersebut tidak dibiarkan begitu saja. Setelah sekitar satu bulan, tanah tersebut disiram menggunakan air selama lima hari berturut-turut. Selanjutnya tanah dicangkul dan diberikan campuran kompos serta kotoran ayam petelur.
Lahan itu kemudian ditanami bunga matahari dengan sistem tumpangsari bersama tanaman cabai rawit.
“Hasilnya bisa dilihat langsung. Ternyata pertumbuhan bunga matahari dan cabai rawit sangat bagus. Bunga matahari batangnya besar dan daunnya lebar-lebar seperti daun tembakau,” ujarnya.
Penjelasan Suwaji disampaikan Selasa (6/10/2026) saat bersama M. Soleh, Koordinator Kecamatan Bumiaji Pendamping TPS3R dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu; Tang Agus S., Pendamping TPS3R Desa Giripurno; serta Rohim Nursholeh, Tim Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan pada DLH Kota Batu dari Divisi Big Komposter.

Bunga Matahari Jadi Sumber Pemasukan TPS3R
Selain menjadi bagian dari uji coba pemanfaatan lahan, bunga matahari yang tumbuh di area TPS3R Kedung juga memiliki nilai ekonomi.
Suwaji mengatakan bunga matahari tersebut biasanya dijual sebagai bunga potong dengan harga antara Rp3.000 hingga Rp5.000 per tangkai.
Masyarakat yang membutuhkan bunga potong dapat langsung datang ke TPS3R Dusun Kedung, Desa Giripurno.
“Kami persilakan siapa saja yang membutuhkan bisa langsung ke TPS3R Dusun Kedung, Desa Giripurno. Atau langsung menghubungi nomor HP saya 085717406344,” katanya.
Suwaji menegaskan, hasil penjualan bunga potong tersebut tidak semata-mata untuk kepentingan pribadi. Pendapatan tersebut digunakan untuk membantu memenuhi biaya operasional TPS3R.
“Tentunya hasil penjualan dari bunga potong ini untuk biaya operasional di TPS3R,” pungkasnya dengan bangga.
Uji coba ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di tingkat TPS3R tidak hanya berhenti pada pengurangan sampah, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi kegiatan yang memiliki nilai tambah ekonomi bagi pengelolanya.












