Banyuwangi_Pintubatunews.com_ — Di tengah geliat pariwisata Kabupaten Banyuwangi, ada satu kawasan yang menawarkan pengalaman berbeda. Bukan pantai dengan pasir putih, bukan pula kawah dengan kepulan asap, melainkan hutan dengan pepohonan trembesi raksasa yang telah berusia puluhan hingga ratusan tahun.
Tempat itu adalah De Djawatan, kawasan wisata alam yang berada di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Deretan pohon trembesi tua dengan batang besar dan dahan yang melebar membentuk kanopi alami. Suasana teduh dan rindang membuat kawasan ini memiliki karakter visual yang unik, bahkan kerap disamakan dengan gambaran hutan dalam film The Lord of the Rings.

Dari Tempat Penimbunan Kayu Menjadi Destinasi Wisata
Di balik keindahannya, De Djawatan menyimpan sejarah panjang.
Perhutani mencatat, kawasan tersebut pada masa lalu merupakan tempat penimbunan kayu atau TPK Benculuk. Nama “Jawatan” berkaitan dengan pengelolaan kawasan oleh Jawatan Kehutanan pada era 1951–1962. Sejak 1962, kawasan tersebut berada dalam pengelolaan Perum Perhutani.
Kini wajah kawasan tersebut berubah. Bekas kawasan penimbunan kayu itu berkembang menjadi destinasi wisata yang mengandalkan kekuatan alamnya: pohon-pohon trembesi tua yang tetap berdiri dan menjadi daya tarik utama.
Pemkab Banyuwangi menyebut kawasan De Djawatan memiliki sekitar 805 pohon yang berusia sekitar 100–150 tahun. Sejumlah pohon memiliki keliling batang sekitar 4–5 meter, dengan diameter mencapai sekitar 1,5–2 meter.

Bukan Sekadar Tempat Berfoto
Daya tarik De Djawatan memang sangat kuat untuk fotografi. Namun, nilai kawasan ini jauh lebih besar daripada sekadar lokasi swafoto.
Pepohonan tua tersebut menjadi bagian penting dari lanskap ekologis sekaligus identitas wisata Banyuwangi. Karena itu, keberadaan pohon-pohon berumur panjang tersebut membutuhkan perhatian terhadap aspek konservasi, keselamatan pengunjung, dan keberlanjutan kawasan wisata.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bahkan pernah menggagas pengembangan De Djawatan sebagai semacam kebun raya mini, dengan melibatkan lembaga penelitian dan perguruan tinggi agar kawasan ini memiliki fungsi edukasi selain fungsi wisata.
Wisata Alam yang Terus Menarik Pengunjung
Popularitas De Djawatan terus bertahan. Dalam salah satu periode libur panjang pada 2026, kawasan ini tercatat dikunjungi 7.266 wisatawan, menunjukkan kuatnya daya tarik hutan trembesi tersebut di tengah persaingan berbagai destinasi wisata Banyuwangi.
De Djawatan juga beberapa kali dipilih menjadi lokasi kegiatan yang memadukan alam, budaya dan kreativitas. Banyuwangi Fashion Festival, misalnya, pernah digelar dengan latar pepohonan trembesi tua di kawasan tersebut.
Bahkan pada 2024, Hutan De Djawatan menjadi lokasi Banyuwangi Batik Festival, memperlihatkan bagaimana kawasan alam dapat menjadi panggung bagi promosi budaya dan ekonomi kreatif daerah.

Pesan Penting: Jangan Sampai Wisata Merusak Hutan
Popularitas membawa konsekuensi. Semakin banyak wisatawan datang, semakin besar pula tantangan menjaga kebersihan, ketertiban, keselamatan dan kelestarian pohon-pohon tua.
De Djawatan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tempat untuk menghasilkan foto yang menarik. Kawasan ini juga menjadi pengingat bahwa pohon yang telah tumbuh selama puluhan bahkan ratusan tahun tidak bisa digantikan dalam waktu singkat.
Karena itu, konsep wisata berkelanjutan menjadi penting: wisatawan datang menikmati alam, masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi, tetapi pohon dan ekosistem tetap terlindungi.
Pada akhirnya, kekuatan De Djawatan justru terletak pada sesuatu yang tidak dibuat manusia dalam waktu singkat—pohon-pohon tua yang telah melewati perjalanan sejarah panjang Banyuwangi.
Jika generasi sekarang mampu menjaganya, De Djawatan bukan hanya akan menjadi destinasi wisata hari ini, tetapi juga warisan alam yang masih dapat dinikmati generasi mendatang.
De Djawatan mengajarkan satu hal sederhana: hutan yang dijaga hari ini adalah cerita yang akan diwariskan kepada anak cucu esok hari.












