Kota Batu_Pintubatunews.com — Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, mulai bisa bernapas lega. Sampah organik yang sebelumnya belum tertangani secara optimal kini berhasil diolah menjadi kompos dan mulai dimanfaatkan masyarakat.
Ketua KSM TPS3R Desa Tlekung, Siari, mengatakan keberadaan rumah kompos yang dibangun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu memberikan perubahan besar terhadap proses pengolahan sampah organik, terutama ketika musim hujan.
“Kami bersyukur dengan dibangunkannya rumah kompos oleh DLH Kota Batu. Saat musim hujan kami masih bisa memproses sampah organik,” ujar Siari saat ditemui di kantor TPS3R Desa Tlekung, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, fasilitas baru tersebut membuat proses pengolahan menjadi lebih tertata. Setelah sampah organik dipilah, material dapat ditempatkan pada sel rumah kompos. Sementara kompos yang telah selesai melalui proses penguraian dapat dipindahkan ke hangar untuk menjalani proses pengeringan sebelum diayak dan dikemas.
“Sel tempat sampah organik yang baru selesai dipilah sudah tersedia. Hangar untuk pengeringan kompos yang siap dipanen juga tersedia. Kalau kompos sudah dikeluarkan dari sel rumah kompos dan terkena angin, selanjutnya bisa diayak dan dikemas,” jelasnya.
Mulai Dilirik Petani
Pengolahan sampah organik menjadi kompos ternyata mulai mendapatkan respons positif dari masyarakat. Siari menyebut sekitar 10 orang petani telah datang ke TPS3R untuk meminta contoh kompos yang akan digunakan sebagai bahan uji coba pada tanaman. Tanaman yang diuji antara lain sawi, terong dan cabai yang ditanam di sekitar rumah.
Sebagian petani membawa satu hingga dua karung kompos. KSM TPS3R Tlekung memberikan kompos tersebut secara gratis untuk keperluan uji coba. “Bersyukur sekali, hasil kompos kami sudah ada sekitar 10 orang petani yang datang untuk meminta contoh kompos. Mereka gunakan untuk uji coba tanaman seperti sawi, terong dan cabai. Ada yang membawa satu atau dua karung dan kami berikan secara gratis,” katanya.
Tidak hanya petani dari sekitar Tlekung. Seorang warga Desa Junrejo bahkan telah membeli sekitar 5 kuintal kompos untuk kebutuhan uji coba tanaman jeruk. Untuk sementara, harga kompos bagi uji coba tanaman jeruk tersebut dipatok sekitar Rp1.000 per kilogram.

SMA Selamat Pagi Ikut Tertarik
Minat terhadap kompos produksi TPS3R Tlekung juga datang dari kalangan pendidikan.
Beberapa hari sebelumnya, perwakilan SMA Selamat Pagi di Desa Pandanrejo, Kota Batu, datang mengunjungi TPS3R Tlekung. Mereka melihat langsung proses pengolahan sampah organik sekaligus menggali informasi mengenai pembuatan kompos.
Menurut Siari, pihak sekolah tertarik karena memiliki kegiatan penanaman tanaman organik yang hasilnya dikonsumsi untuk kebutuhan internal.
“Mereka melihat-lihat dan menanyakan proses pembuatan kompos berbahan sampah organik. Katanya di tempat mereka juga menanam tanaman organik untuk kebutuhan mereka sendiri. Akhirnya untuk uji coba kami berikan satu karung kompos yang sudah siap digunakan,” ungkapnya.
Ciri Kompos Sudah Matang
Siari menjelaskan, KSM TPS3R Tlekung memiliki sejumlah indikator sederhana untuk menentukan apakah hasil pengolahan sampah organik sudah matang dan siap digunakan.
Kompos yang telah matang antara lain memiliki warna cokelat gelap hingga hitam, menyerupai tanah humus. Selain itu, aromanya cenderung seperti tanah atau humus dan tidak lagi mengeluarkan bau menyengat.
Dari sisi tekstur, kompos matang relatif remah, tidak berlendir dan mudah hancur ketika diremas.
“Ciri-ciri sampah organik kami yang sudah dikatakan matang menjadi kompos antara lain berwarna cokelat gelap sampai hitam, menyerupai warna tanah humus, berbau tanah atau humus, relatif segar dan tidak menyengat, teksturnya remah dan tidak berlendir serta mudah hancur ketika diremas,” terang Siari.
Meski sudah mulai dimanfaatkan petani, KSM TPS3R Tlekung belum berani menetapkan harga jual kompos secara permanen.
Alasannya, produk kompos tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kandungan dan kualitas unsur haranya.
“Sementara kami belum bisa mematok harga kompos yang kami jual karena belum memiliki hasil laboratorium yang menyatakan kandungan unsur hara dari kompos yang telah kami hasilkan,” ujarnya.

Air Lindi Juga Mulai Diolah
Tak berhenti pada kompos, Siari juga melakukan uji coba pemanfaatan air lindi yang berasal dari rumah kompos.
Air lindi tersebut kembali difermentasi dengan menggunakan EM4 dan molase. Hasil fermentasi kemudian diuji coba untuk tanaman, salah satunya tanaman jeruk.
“Saya juga melakukan uji coba air lindi dari rumah kompos yang sudah kami fermentasi lagi menggunakan EM4 dicampur dengan molase. Sementara memakai satu galon, kami berikan sedikit-sedikit lalu disiram dengan air untuk tanaman jeruk,” kata Siari.
Bagi KSM TPS3R Tlekung, pengolahan sampah organik kini bukan sekadar persoalan mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pengolahan. Sampah yang sebelumnya dianggap sebagai beban mulai diarahkan menjadi produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi memiliki nilai ekonomi.
Namun, perjalanan menuju kompos yang benar-benar memiliki nilai jual dan standar mutu masih membutuhkan pembuktian. Hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi salah satu pijakan penting untuk mengetahui kandungan unsur hara sekaligus menentukan kualitas dan harga kompos secara lebih profesional.













