TPA Tlekung Jadi Ruang Belajar! 74 Siswa SDIT Robbani Kenali Big Komposter hingga Pengolahan Air Lindi

Kota Batu, Pintubatunews.com — Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tlekung, Kota Batu, Kamis (10/9/2026), tidak hanya menjadi lokasi pemrosesan sampah. Tempat tersebut berubah menjadi ruang belajar lapangan bagi 74 siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Robbani.

Siswa kelas 5 SDIT Robbani yang beralamat di Perum Bumi Mondoroko Raya Blok BB-BA, Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, tersebut datang dalam kunjungan studi visual dengan mengusung tema “Sampahku Tanggung Jawabku.”

Rombongan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 37 siswa laki-laki, sedangkan kelompok kedua terdiri dari 37 siswi perempuan. Mereka didampingi tujuh guru pendamping.

Kedatangan para siswa disambut tiga orang dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, bersama Tim Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan DLH Kota Batu, khususnya Divisi Big Komposter, Rohim Nursholeh.

Belajar Sampah Dimulai dengan Tepuk dan Nyanyian

Menerima kelompok pertama yang terdiri dari siswa laki-laki, Rohim tidak langsung memberikan penjelasan teknis. Para siswa terlebih dahulu diajak mengikuti permainan edukatif melalui “tepuk satu”, “tepuk dua”, hingga “tepuk sampah”.

Suasana pun dibuat lebih cair dengan nyanyian bersama.

“Jika kamu lihat ada sampah, jangan lupa buang ke tempatnya,” dinyanyikan bersama para siswa.

Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan ungkapan yang sudah sangat dikenal dalam pendidikan kebersihan, “An-naẓāfatu minal-īmān”, yang berarti “Kebersihan adalah sebagian dari iman.”

Dari permainan sederhana tersebut, siswa diajak memahami bahwa persoalan sampah bukan semata-mata urusan petugas kebersihan. Setiap orang memiliki tanggung jawab sejak sampah dihasilkan.

Foto Rohim Nursholeh saat menjelaskan proses pengomposan di big komposter

Melihat Langsung Pengolahan Sampah Organik

Setelah sesi permainan, Rohim membawa siswa melihat pengelolaan sampah organik menggunakan Big Komposter.

Ia menjelaskan bahwa sampah organik yang telah dipilah mendapatkan dua perlakuan berbeda.

Pada unit pertama, sampah organik yang masuk tidak dicacah terlebih dahulu. Sampah langsung dimasukkan ke dalam sel Big Komposter.

Sementara pada unit kedua, sampah organik terlebih dahulu melalui proses pencacahan sebelum dimasukkan ke dalam sel Big Komposter.

Menurut penjelasan Rohim, proses fermentasi sampah organik membutuhkan waktu sekitar satu hingga tiga bulan.

Untuk membantu mempercepat proses pengomposan sekaligus mengurangi munculnya bau tidak sedap, sampah disemprot menggunakan larutan biaktivator eco enzyme atau EM4.

Penjelasan tersebut membuat para siswa tidak hanya melihat tumpukan sampah, tetapi juga memahami bahwa sampah organik masih dapat diolah melalui proses tertentu sehingga tidak seluruhnya berakhir sebagai residu.

Dari Sampah, Siswa Diajak Memahami Air Lindi

Perjalanan edukasi kemudian dilanjutkan menuju instalasi pengolahan air lindi.

Jika sebelumnya siswa diperkenalkan dengan proses pengolahan sampah organik, di lokasi ini mereka melihat bagaimana air yang berasal dari timbunan sampah ditangani agar tidak langsung mencemari lingkungan.

Penjelasan di instalasi air lindi diberikan oleh tiga orang dari DLH Kota Batu, yakni Iwan, Ridwan dan Sampir.

Iwan menjelaskan kepada rombongan mengenai mekanisme penanganan air lindi di TPA Tlekung.

“Proses penanganan air lindi di TPA Tlekung. Secara teknis, sistem TPA Tlekung yang terdokumentasi menggunakan prinsip sanitary landfill,” jelas Iwan kepada para siswa.

Ia menerangkan, lindi yang berasal dari area timbunan dikumpulkan melalui sistem drainase atau jaringan pipa dan diarahkan menuju Instalasi Pengolahan Lindi (IPL) agar tidak langsung masuk ke lingkungan.

Foto penjelasan di instalasi air lindi diberikan oleh tiga orang dari DLH Kota Batu, yakni Iwan, Ridwan dan Sampir.

Secara sederhana, alurnya dapat dipahami sebagai:

Timbunan sampah → lindi terbentuk → dikumpulkan → IPL → pengolahan biologis → kolam pematangan → wetland → air hasil olahan.

Ada ABR hingga Dua Unit Wetland

Iwan kemudian menguraikan tahapan pengolahan air lindi kepada siswa.

Tahap awal dimulai dari pengumpulan lindi yang berasal dari area timbunan. Air yang melewati timbunan sampah tidak dibiarkan meresap secara bebas ke tanah, melainkan dialirkan melalui jaringan pengumpul menuju instalasi pengolahan.

Selanjutnya, lindi masuk ke Anaerobic Baffled Reactor (ABR). Pada unit ini berlangsung proses pengolahan biologis dengan bantuan mikroorganisme dalam kondisi minim oksigen untuk menguraikan bahan organik.

Proses kemudian berlanjut ke kolam fakultatif, tempat berlangsungnya pengolahan biologis lanjutan untuk menurunkan kandungan bahan organik yang masih terdapat dalam lindi.

Setelah itu, air masuk ke kolam maturasi sebagai tahapan pematangan atau pengolahan lanjutan.

Tahap berikutnya adalah wetland.

TPA Tlekung memiliki dua unit wetland yang memanfaatkan media dan tanaman untuk membantu proses penyisihan berbagai pencemar sebelum air hasil pengolahan dilepaskan sesuai ketentuan yang berlaku.

Dari Melihat Menjadi Kesadaran

Kunjungan studi visual ini memperlihatkan bahwa pendidikan tentang sampah dapat dimulai dari pengalaman langsung.

Para siswa tidak hanya menerima materi di ruang kelas, tetapi melihat sendiri bagaimana sampah dipilah, diolah, difermentasi hingga bagaimana air lindi dari timbunan sampah ditangani.

Tema “Sampahku Tanggung Jawabku” pun mendapatkan makna yang lebih konkret ketika siswa melihat perjalanan sampah secara langsung.

Pesan yang disampaikan sederhana: persoalan sampah tidak dimulai di TPA, tetapi dimulai dari setiap orang saat menghasilkan dan memperlakukan sampah.

Karena itu, kebiasaan memilah sampah dari sumber menjadi bagian penting dalam mengurangi beban pengelolaan sampah sekaligus menjaga lingkungan.

Kunjungan SDIT Robbani ke TPA Tlekung akhirnya bukan sekadar perjalanan melihat tempat pemrosesan sampah. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi pembelajaran lapangan agar generasi muda memahami bahwa menjaga kebersihan dan mengelola sampah merupakan tanggung jawab bersama.

Infografis, ayo pilah sampah dari sumbernya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *