Kota Batu_Pintubatunews.com. Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) Kelurahan Sisir Kota Batu beroperasi sejak ditutupnya TPA Tlekung (30/8/2023). Pada bulan Oktober 2023 mulai beroperasi di Jl. Sultan Hasan Halim Pathok. Dilokasi ini masyarakatnya ramai banyak yang protes akhirnya dipindah di alamat Jl. Sultan Hasan Halim RT 2 RW 5 Kelurahan Sisir sejak awal tahun 2024 dengan luasan lahan 1882meter persegi. Pelanggan ada 67 RT dan ada beberapa pengusaha kuliner yang berada di pinggir jalan. Rumah kompos bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu saat ini masih dalam proses penyelesaian oleh pihak ketiga, semoga diakhir bulan Februari ini sudah bisa difungsikan. Rumah kompos semoga bisa menjadi penyelesaian sampah organik yang selama ini kurang tertangani.

Sigit Nurjati Ketua KSM TPS3R Kelurahan Sisir pada saat ditemui di sekretariatnya Jum’at (20/2/2026) menyampaikan, “Jumlah sampah yang masuk di TPS3R Sisir ini pada hari Senin dan Selasa itu 30 motor tossa atau setara dengan 8ton sampah organik dan anorganik. Hari Rabu, Kamis, Jum’at dan Sabtu kurang lebih 26 motor tossa atau setara 6ton sampah perharinya. Jumlah sampah organik perkotaan say perkirakan 50%nya, dengan adanya rumah kompos semoga nanti kompos yang dihasilkan mudah pemasarannya karena diproduksi setiap hari.”
“Jumlah pekerja ditambah pengurus KSM sebanyak 21 orang terdiri dari 3 orang pengurus KSM (Ketua, Sekretaris, Bendahara), tim lapangan 4 orang, tim pembakaran 4 orang, tim pemilah 10 orang serta ada 3 orang pengawas perwakilan Ketua RW. Tugas pengawas mengawasi kinerjanya pengurus KSM dan pekerja. Selain itu juga melakukan pengawasan di lingkungan RW masing-masing bila ada pembuangan sampah dilingkungan RW nya. Mereka juga membantu kita bagi masyarakat yang membuang sampah sembarangan dipinggir jalan, “tuturnya.

“Proses pemilahan di TPS3R Sisir yaitu dimulai dari petugas melakukan pengambilan sampah dimasyarakat dengan membawa motor tossa roda tiga, dibawa ke TPS3R diturunkan di area insinerator, lalu dilakukan pemilahan oleh ibu-ibu tadi dan kawan-kawan. Hasil pemilahan untuk sampah residu langsung kita bakar dengan insinerator, sampah organik dan sampah anorganik yang bisa dipergunakan lagi untuk dijual,”tambahnya.
“Untuk sampah organik, sementara rumah komposnya belum jadi kita taruh saja ditanah sawah sebelah selatan. Harapannya sampah basah nanti akan mengering bisa menjadi pupuk kompos juga. Untuk plastik, kertas dan botol-botol aqua yang ada nilai jualnya kita jual. Untuk mengatasi bau tak sedap dari sampah organik disemprot menggunakan eco enzyme, namun saat ini kita masih fokus ke pertumbuhan lalat dan banyak belatung di sekitar sampah organik. Ada beberapa warga yang menanyakan banyaknya belatung disepanjang perbatasan itu, akhirnya kita beli obat insektisida serbuk dan cairan insektisida untuk membasmi lalat dan belatung, “pungkas Sigit Nurjati mengakhiri penjelasannya.












