Untuk Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Organik, Panen Eco Enzyme Dilanjutkan Dengan Pembuatan Kembali

Foto bersama setelah panen eco enzyme

Kota Batu_Pintubatunews.com – Waktu panen eco enzyme yang ideal sebaiknya tepat di hari ke-90, ditandai dengan cairan akan berubah warna menjadi cokelat kekuningan dan memiliki aroma asam segar seperti cuka. Untuk pembuatan eco enzyme di RW 3 Desa Mojorejo Kecamatan Junrejo Kota Batu sudah melewati masa panen 3 bulan lebih.

Tim praktisi selaku pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu divisi eco enzyme Gung Endah, Kamis (21/5/2026) lewat sambungan selulernya menyampaikan, “Ketua Tim Penggerak PKK RW 03 Bu Mirtha menghubungi dan melaporkan rencana kegiatan panen eco enzyme sebanyak 120 liter pada Rabu (20/5/2026) jam 15.00 dilanjutkan pembuatan lagi. Sesuai yang saya sarankan kepada para pegiat eco enzyme sebaiknya saat panen langsung membuat kembali agar terjadi keberlanjutan pengolahan sampah organik, hal ini juga didasari pertimbangan kepraktisan.”

“Sebagai pendamping saya bersyukur sekali  melihat para kader pegiat eco enzyme ini sudah memiliki kepedulian mengolah sampah organik tanpa menunggu diingatkan, apalagi mereka juga sudah  mengikuti saran saya untuk selalu memanfaatkan sampah organik di sekitarnya. Sampah kulit jeruk mengambil di Alun Alun Batu, sampah kulit pisang mengambil di produsen strudel yang ada di wilayah Desa Mojorejo, sampah kulit nanas mengambil dari penjual nanas, buah apel afkir mengambil di toko buah dan beberapa ibu membawa sampah organik dari rumahnya, “tegasnya.

Foto mengemasi eco enzyme dalam botol kecil untuk dibagikan pada warga.

“Proses panen dan membuat lagi berlangsung sangat seru hampir semua yang datang masih usia muda ada yang dari PKK Desa Mojorejo, bank sampah & relawan, ada kelompok yang memanen dan sebagian bahan organik. Pemanenan eco enzyme kali ini selain ditaruh di wadah galon juga ada yang langsung dimasukkan ke botol 2 kecil dan dibagikan kepada semua yang hadir, sisanya akan dibagikan ke warga di RW 3. Untuk pembuatan eco enzyme berlangsung cepat, 130 air disiapkan di 2 galon untuk menghindari salah hitung, dan 13 kg molase  diencerkan terlebih dahulu menggunakan air yang sudah diukur. Jumlah sampah organik 39 kg dari berbagai jenis ada 11 macam antara lain kulit melon, kulit buah naga, kulit apel, kulit pisang, kulit jeruk peras, kulit semangka, kulit jeruk bali, jeruk keprok rejeck, buah apel, jeruk manis, dan selada, “tambahnya.

“Ada yang menarik dari kegiatan tersebut, Bu Mirtha minta diajari cara membuat bantal ampas eco enzyme. Saya arahkan untuk mulai berani menjual bantal ampas karena manfaatnya banyak seperti untuk mengatasi linu, nyeri, dan membuat tidur lebih nyenyak. Tentunya akan mendorong ibu-ibu lebih rajin mengolah sampah organik menjadi eco enzyme, yang tentunya banyak sampah organik terolah dengan baik tidak lagi dibuang sia-sia dan merusak lingkungan, “pungkas Gung Endah mengakhiri sambungan selulernya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *