Kota Batu_Pintubatunews.com. TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) di Dusun Sumbersari Desa Giripurno Kecamatan Bumiaji Kota Batu melayani warga diwilayah RW 11 dan RW 12 yang sudah beroperasi lumayan lama sekitar tahun 2018. Saat itu sampah hanya ditaruh sampai menumpuk tinggi tanpa ada perlakuan sama sekali. Setelah itu dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu menyediakan bak kontainer untuk menaruh sampah, kalau sampah sudah penuh containernya diambil truk dan dibawa ke TPA Tlekung.
Setelah penutupan TPA Tlekung (30/8/2023) dilakukan pembakaran sampah anorganik menggunakan kompor dengan bahan bakarnya memakai oli bekas. Selanjutnya sampah yang dibuang dari masyarakat jumlahnya semakin hari semakin banyak, akhirnya kompornya dibuat lebih besar lagi. Lama kelamaan tempatnya tidak cukup untuk dilakukan pembakaran karena jumlah sampah semakin bertambah banyak. Akhirnya ada anggaran dari DLH untuk dibangunkan TPS3R ini berikut insineratornya untuk melakukan pembakaran sampah residu hingga saat ini.
Jumlah pekerja yang melakukan proses pengambilan sampah dari rumah warga dan sekaligus melakukan pembakaran sampah residu setiap hari ada 2 orang. Bulan Maret mendatang rencananya ada penambahan 2 orang pekerja yang akan menangani rumah kompos ini.

Slamet Ketua RW 12 yang berhasil ditemui dilokasi Selasa (24/2/2026) menuturkan, “Di TPS3R ini untuk iuran sampah dan pembayaran 2 orang pekerja dilakukan oleh Ketua RW. Besaran iuran sampah sebelumnya Rp10.000,- dan diawal Februari 2026 ini iuran dinaikkan menjadi Rp 15.000 per rumah. Kami berhitung dengan adanya rumah kompos tentunya juga membutuhkan tenaga kerja dan penambahan biaya operasional lainnya. Armada pengambil sampah kerumah warga menggunakan 2 motor tossa, untuk 2 RW jumlah rumah tangga yang diambil sampahnya kurang lebih 700 pelanggan.”
“Pembangunan rumah kompos sudah selesai, sesuai gambar type 1 skala dusun yang dibuatkan dengan kapasitas pelanggan 700 hingga 1000 rumah. Kendala dilapangan kurangnya tenaga pemilah yang seharusnya ditangani oleh 4 orang, berhubung terbentur dana ya terpaksa hanya bisa mempekerjakan 2 orang saja. Saat ini memang pekerjanya 2 orang terkadang dibantu oleh istri pekerja, ya akhirnya kita berikan insentif untuk istrinya, “tambahnya.
“Karena jumlah tenaga kerjanya terbatas di TPS3R ini, pernah sekali dilakukan penyemprotan menggunakan larutan eco enzyme. Ternyata menyita waktu sehingga pekerjaan pokok pekerja melakukan pemilahan dan pembakaran sampah anorganik menjadi terganggu, setelah itu tidak dilakukan lagi, “pungkas Slamet mengakhiri penjelasannya.












