Kota Batu_Pintubatunews.com – Narasumber kedua dari Ecoton menghadirkan Tonis Afrianto Rabu (22/4/2026) dengan materi Gerakan pilah sampah di kawasan dan pentingnya sumberdaya organik. Pada acara peringatan Hari Bumi di Tempat Pengelolaan Sampah – Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Jalibar Berseri Desa Oro Oro Ombo Kecamatan Batu Kota Batu yang menekankan peran kolektif masyarakat, organisasi, dan individu dalam mempercepat transisi energi bersih dan meningkatkan akuntabilitas terhadap kerusakan lingkungan.
Tonis Afrianto menceritakan pengalamannya selama di Kota Gresik dalam mengelola sampah di TPS3R. Pemilahan sampah dilakukan dengan tempat yang berbeda, karena memilah sampah itu penting yang berasal dari rumah tangga. Pembagian warna tempat membuang sampah ada artinya, warna tempat sampah hijau ini berisi sampah organik yang mudah terurai seperti sisa makanan, bahan baku, daun kering, dan kotoran hewan. Tempat warna biru membantu menyimpan kertas bekas agar mudah didaur ulang. Kertas bekas biasanya diolah menjadi bubur kertas dan dicetak kembali menjadi kertas siap pakai.Sampah kita paling banyak sampah organik merupakan sumber daya.
Kita harus mulai dibudayakan sajian makanan menggunakan piring dan minuman menggunakan gelas di setiap pertemuan PKK Desa, Dusun atau macam-macam, kalau bisa kita harus mulai mengurangi timbulan sampah. Hari ini merupakan promosi gerakan zero waste atau non sampah diterapkan. Mari dibudayakan penggunaan daun pisang dan sejenisnya sehingga selesai acara bisa langsung dibuat eco enzyme atau masuk ke rumah kompos.
Kota Batu sudah memiliki 16 rumah kompos, artinya sebenarnya dengan sumberdaya sampah organik yang banyak kita sudah difasilitasi oleh Pemerintah dengan rumah kompos. Bapak ibu yang saat ini belum memilah sampah di rumah, sampahnya masih dicampur sekarang sudah harus wajib memilah sampah. Kalau sampahnya dipilah akan lebih rapi, lebih sehat juga. Sehingga sampah organik bisa langsung menjadi nutrisi makanan bisa berupa kompos atau pupuk organik cair (POC) dan macam-macam. Idealnya seharusnya Kota Batu seperti ini.
“Sampah organik bisa menjadi sumberdaya dan bisa menghasilkan uang, karena hasil sampah organik bisa bermacam-macam. Pengalaman saya di Kota Gresik mengelola TPS dan berjualan kompos. Kompos dari hasil sampah 4 ton per hari, saya jual 1 kg dengan Harga Rp 1.000,- ada kemasan 20 kg, ada kemasan 4 kg dijual Rp 5.000,-. Jadi ini juga bisa tambahan pemasukan petugas pengelola sampah di TPS. Kita umumnya sampah itu yang dijual botol plastik, kertas dll. Tetapi sampah organik ternyata bisa dijual dan pelanggan itu di Gresik dari Pemerintah, Kecamatan dan Sekolah Adiwiyata. Setiap pembelian berkisar antara Rp 500.000,- sd Rp 1 juta untuk kegiatan pemerintahan dan kegiatan edukasi anak sekolah. Tidak masalah kalua menjual sampah organik dilakukan oleh TPS3R yang dikelola oleh KSM, “tuturnya.
“Kalau di Kota Batu ada Gapoktan kalau di Kota Gresik ada Komunitas yang Namanya Waduling Wanita Peduli Lingkungan mereka hidupnya di sepanjang aliran sungai Brantas. Mereka banyak memanen kelor. Kelor itu dijadikan nutrisi atau pangan baru, kelor ini tumbuh subur tanpa pupuk. Produknya ada 3 yaitu Mokis (morina kukis), teh kelor menjadikan tubuh terasa enak, dan ada krupuk kelor. Krupuk ekor organik tidak memakai borak, secara umum terbuat dari tepung tapioka dan kelor yang segar, kemudian dimasak. Kalau kita punya hasil dari alam bisa dipasarkan ke Kota. Waduling juga memiliki refill store atau toko isi ulang, karena mereka paham pengelolaan sampah dan pembelian sachet isi ulang itu menjadi permasalahan yang tidak bisa didaur ulang. Sehingga mereka membuka bisnis hijau, bagi yang belanja membawa botol sendiri dan harganya sangat murah. Misalnya detergent cair 1 ltr itu harganya Rp 16.000.- Kami sudah melakukan seperti ini banyak di Jawa Timur yang dikelola oleh Komunitas Wanita. Selain ada toko juga keliling ditawarkan pakai becak atau motor roda tiga menjajakan refill, “tambahnya.
“Di Kota Batu tahun 2023 darurat sampah, di Kota Gresik ada Perwali No 81 th 2019 disuruh mengurangi timbulan sampah kresek, sedotan plastik, sterofoam sudah harus kita kurangi.Dibuktikan hari ini kita menyajikan makanan tidak menggunakan kemasan plastik yang artinya kita akan semakin sehat. Plastik sebenarnya terbuat dari ribuan bahan kimia, sebaiknya plastik tidak dibalutkan ke makanan. Makanan akan terkontaminasi dengan bahaya plastik. Di Kota Gresik sudah dibudayakan mincuk (membungkus makanan menggunakan daun pisang) dan itu sudah harus mulai dilestarikan. Jadi Perwali ini menjadi dasar kita untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Juga kalau belanja ada tas untuk mengurangi kresek. Harapan kami kalau penerapan sampah organik sudah bagus kolaborasi dengan petani muatan lokal organik, nanti bisa menarik wisatawan untuk datang kesini. Misalnya ada bazar pasar kaget yang dijual sayuran atau buah-buahan dan macam-macam yang bisa menciptakan ekonomi baru. Saat ini daun pisang bisa dijual karena harga plastik sedang naik, “pungkas Tonis Afrianto.













