Atasi Persoalan Sampah, Kepala Desa Oro Oro Ombo Meminta Kesadaran Warganya Memilah Sampah Dari Rumah

Foto Ketua KSM TPS3R Jalibar Berseri Titik Setyawati di depan rumah kompos.

Kota Batu_Pintubatunews.com_Rumah kompos di Tempat Pengelolaan Sampah – Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Jalibar Berseri Desa Oro Oro Ombo Kecamatan Batu Kota Batu, yang dibangun dengan anggaran dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu tahun 2025. Sel 1 dan sel 2 sudah waktunya panen kompos, saat ini masih proses mengeluarkan kompos dari sel ke 2 untuk dijemur dihalaman sebelah timur rumah kompos.

Ketua KSM TPS3R Jalibar Berseri Titik Setyawati saat ditemui Kamis (18/6/2026) menuturkan, “Proses penjemuran kompos yang dipanen itu dilakukan agar kadar airnya berkurang yang nantinya akan segera dipindahkan ke hanggar sekitar awal bulan Juli 2026 untuk dilakukan proses pencancahan, pengayakan dan pengemasan. Untuk sel ke 1 sudah kami isi lagi dengan sampah organik dan dalam waktu dua minggu sudah hampir terisi penuh kembali.”

“Rata-rata sampah yang masuk untuk weekday antara 6 hingga 7 ton sedangkan untuk weekend atau hari libur, sampah yang masuk lebih dari 9 ton. Kepala Desa Oro Oro Ombo Pak Wiweko meminta kesadaran semua warga Desa Oro Oro Ombo melakukan pemilahan sampah dimulai dari rumah. Supaya sampah yang masuk ke TPS3R setiap hari dapat terselesaikan dalam satu hari, sebab yang paling lama itu proses pemilahannya,”tuturnya.

Foto proses pemilahan sampah di TPS3R Jalibar Berseri.

“Dua minggu yang lalu kami sudah mengadakan pelatihan pembuatan tempat sampah organik dari bekas gallon air mineral untuk ibu-ibu pengurus Bank Sampah dari 13 Rukun Warga (RW). Selanjutnya di setiap RW membuat tempat sampah organik dari bekas gallon air mineral sendiri-sendiri. Yang sudah membuat di RW 12, RW 5, dan RW 1 masih dalam proses. Untuk RW 12 sebanyak 5 RT dan sudah membuat tempat sampah organik 80% lebih,”tambahnya.

“Sampah organik yang sudah diambil menggunakan tong plastik besar, saat tiba di TPS3R dilakukan pemilahan kembali. Sampah bekas sisa makanan dimasukkan pada kresek warna merah, untuk dijual kepada peternak unggas jenis bebek atau entog dan pendapatan rata-rata perbulan dari penjualan sisa makanan bekas ini mencapai Rp 3 juta. Sedangkan sampah organik yang berupa daun atau sayur-sayuran langsung dimasukkan ke rumah kompos, “pungkas Titik Setyawati.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *