Kota Batu_Pintubatunews.com — Sembilan tahun sejak digagas pada 2017, gerakan Sabers Pungli (Sapu Bersih Nyemplung Kali) terus berkembang. Berawal dari aksi membersihkan sungai, gerakan ini kini bergerak lebih jauh dengan membangun kesadaran masyarakat tentang hubungan manusia dengan air, sampah, barang, serta lingkungan.
Memasuki tahun ke-9, Sabers Pungli #191 mengusung tema “Nawa Warsa Bhakti Ing Tirta” dan akan digelar pada 3–4 Oktober 2026 di kawasan Sukorembug, Desa Sidomulyo, Kota Batu.
Penggerak Sabers Pungli, Herman Aga, mengatakan rangkaian kegiatan tersebut bukan sekadar agenda bersih-bersih sungai. Kegiatan dirancang menjadi ruang pertemuan antara edukasi, aksi lingkungan, kebudayaan, dan kolaborasi masyarakat.
“Sabers Pungli terus tumbuh sebagai gerakan kesadaran yang berangkat dari sungai, masuk ke ruang-ruang kehidupan, dan mengajak manusia melihat kembali hubungannya dengan air, sampah, barang, dan lingkungan,” ujar Herman.
Edukasi Air, Sampah hingga Budaya Pilah dari Rumah
Rangkaian kegiatan dimulai Sabtu, 3 Oktober 2026, di Balai Dusun Sukorembug, Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu.
Sejumlah agenda edukatif akan digelar, di antaranya edukasi untuk ibu dan anak mengenai air, sungai, dan sampah, permainan edukatif anak, serta Ruang Guna sebagai ruang berbagi dan bertukar barang untuk memperpanjang usia pakai.
Selain itu, hadir pula EcoSort, sebuah edukasi sekaligus pemanfaatan aplikasi yang diarahkan untuk membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak hanya diselesaikan ketika sampah sudah berada di sungai. Perubahan perilaku justru perlu dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Bersih Sungai hingga Slametan Banyu
Rangkaian Sabers Pungli #191 berlanjut pada Minggu, 4 Oktober 2026, di kawasan Jembatan Brantas Prambatan_Desa Gunungsari ke Sukorembug–Desa Sidomulyo.
Kegiatan akan diisi dengan bersih sungai, Trash Walk, sebar bibit ikan, Slametan Banyu, serta Njagong Kali Brantas.
Berbagai kegiatan tersebut mempertemukan aksi nyata dengan refleksi mengenai keberadaan sungai sebagai ruang hidup yang perlu dirawat secara bersama-sama.
Sungai tidak hanya dipandang sebagai aliran air yang harus dibersihkan ketika kotor. Lebih dari itu, sungai menjadi bagian dari ekosistem kehidupan masyarakat, sehingga keberadaannya berkaitan langsung dengan pola hidup manusia di sepanjang wilayah alirannya.
Sembilan Tahun, Persoalan Sampah Tak Cukup Diselesaikan di Sungai
Perjalanan sembilan tahun Sabers Pungli melahirkan satu refleksi penting: sampah yang ditemukan di sungai hanyalah ujung dari persoalan yang jauh lebih panjang.
Di belakangnya terdapat pola konsumsi, kebiasaan membuang sampah, pendeknya usia guna barang, lemahnya pemilahan, hingga semakin jauhnya hubungan manusia dengan sumber air yang sebenarnya menopang kehidupannya.
Karena itu, arah gerakan Sabers Pungli ke depan tidak berhenti pada mengambil sampah dari sungai.
Gerakan ini mendorong upaya mengurangi sampah dari sumbernya, membangun budaya memilah dari rumah, memperpanjang usia guna barang, memperkuat edukasi bagi keluarga dan anak, serta memperluas kolaborasi berbasis sungai dan masyarakat.
Proyeksinya adalah membangun ekosistem kesadaran yang semakin terhubung, mulai dari rumah, sekolah, kampung, komunitas, lembaga, dunia usaha hingga sungai.
Dengan demikian, merawat lingkungan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan berkembang menjadi bagian dari cara hidup masyarakat.
Kolaborasi Lintas Komunitas dan Lembaga
Sabers Pungli #191 merupakan kolaborasi antara Sabers Pungli, BEM Universitas Negeri Malang, PLN Nusantara Power, dan Karya Bunda Community (KBC).
Kegiatan ini juga mendapat dukungan serta keterlibatan dari Pemerintah Kota Batu, Jasa Tirta I, BBWS Brantas, serta jejaring lembaga dan komunitas lainnya.
Sembilan tahun perjalanan Sabers Pungli menjadi bagian dari upaya memperluas cara pandang terhadap persoalan sungai dan lingkungan.
Sabers Pungli #191 bukan sekadar tentang membersihkan sungai. Ini tentang mengubah kesadaran manusia sebelum sampah sampai ke sungai.
Sebab, sungai tidak hanya membutuhkan tangan yang membersihkan, tetapi juga manusia yang bersedia mengubah cara hidupnya.













