Kota Batu, Pintubatunews.com — Tidak semua orang bersedia bekerja berhadapan dengan sampah setiap hari. Bau yang menyengat, pekerjaan yang kotor, hingga penghasilan yang minim menjadi tantangan tersendiri. Namun bagi Abdul Kafid (50), pekerjaan di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menjadi pilihan yang tetap ia jalani demi keluarga.
Abdul Kafid lahir di Malang pada 1976. Sebelum berkecimpung di dunia persampahan, perjalanan hidupnya cukup panjang. Pada 1997 hingga 2001, ia bekerja di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, pada sektor perdagangan buah impor.
Tahun 2001, ia memutuskan pulang ke Desa Sumberbrantas. Profesi pun berganti. Dari perdagangan buah impor di ibu kota Jakarta, Kafid kembali ke dunia pertanian dengan menanam berbagai komoditas sayuran seperti kentang, kol, wortel dan tanaman hortikultura lainnya.
Namun perjalanan sebagai petani tidak selalu berjalan mulus. Pandemi Covid-19 pada 2021 menjadi titik sulit dalam kehidupannya. Usaha pertaniannya mengalami kebangkrutan. Untuk tetap bertahan hidup, Kafid kemudian bekerja sebagai buruh tani kepada mantan Kepala Desa Sumberbrantas, Juwadi.
Dari Kebun ke TPS3R
Kafid masih mengingat sejarah TPS3R Desa Sumberbrantas. Menurutnya, fasilitas pengolahan sampah tersebut dibangun pemerintah pada 2012 di atas tanah kas desa.
Lokasinya berada di kawasan Brakseng, wilayah pertanian warga Desa Sumberbrantas.nTPS3R tersebut juga pernah mengalami kejadian cukup parah. Pada 2012, kawasan TPS3R diterjang banjir hingga dipenuhi lumpur.
Kafid sendiri baru mulai bekerja di TPS3R pada Juni 2024. Saat pertama kali bekerja, kondisi akses menuju lokasi belum memadai. “Jalan masuknya belum ada,” kenangnya. Untuk membuka akses, warga bersama Linmas Desa Sumberbrantas melakukan kerja bakti melebarkan jalan menuju lokasi TPS3R.
Kafid mulai terlibat di TPS3R setelah diajak almarhum Slamet Jinurung, yang saat itu menjabat sebagai Kaur Kesra Pemerintah Desa Sumberbrantas. Sejak saat itu, setiap hari Kafid berhadapan dengan sampah.
Pendapatan Minim, Tetap Bertahan
Di balik pekerjaannya sebagai pengelola sampah, ada persoalan ekonomi yang tidak mudah ia sembunyikan. Kafid mengaku sebenarnya tidak terlalu kerasan bekerja di TPS3R. Salah satu alasannya adalah pendapatan yang diterima sangat minim.
Kondisi tersebut terkadang membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan uang saku sekolah kedua anaknya. Anak pertamanya kini duduk di kelas 3 SMA di Blitar, sedangkan anak keduanya masih duduk di kelas 2 SMP.
Beban ekonomi tersebut membuat pekerjaan di TPS3R bukan sekadar persoalan mengelola sampah. Bagi Kafid, pekerjaan itu juga merupakan cara untuk tetap mempertahankan kehidupan keluarganya.
Selain persoalan penghasilan, kejenuhan juga kerap datang. Ia bekerja setiap hari di lingkungan yang identik dengan bau tidak sedap dan pekerjaan kotor. Di tempat kerja tersebut, ia juga terkadang merasa tidak memiliki teman untuk sekadar berbincang.
“Mencari orang yang peduli lingkungan itu memang susah,” demikian gambaran persoalan yang ia rasakan. Menurutnya, pekerjaan persampahan masih sering dipandang sebelah mata. Padahal, tanpa orang yang mau mengerjakan pekerjaan tersebut, sampah rumah tangga akan menjadi persoalan yang jauh lebih besar.

Persoalan Pengangkutan Sampah
Tidak hanya persoalan tenaga kerja, operasional TPS3R Desa Sumberbrantas juga menghadapi tantangan pada sistem pengangkutan sampah dari rumah warga. Pengambilan sampah dari rumah warga pada umumnya dilakukan oleh Ketua RT masing-masing untuk kemudian dibawa ke TPS3R.
Namun terdapat pengecualian di Dusun Krajan. Ketua RT di wilayah tersebut tidak bersedia melakukan pengambilan sampah sehingga tugas tersebut akhirnya dilakukan oleh anggota Linmas.
Ia sendiri sudah datang bekerja sejak pukul 07.00 WIB. Namun sampah dari rumah warga tidak selalu tiba pada pagi hari.
Pada hari Rabu, misalnya, Ketua RT yang bertugas mengambil sampah terkadang masih bekerja di kebun pada pagi hari. Akibatnya, sampah baru masuk ke TPS3R setelah pukul 13.30 WIB.
Bagi Kafid, kondisi tersebut membuat pekerjaan pemilahan sampah harus dilakukan hingga sore hari. Tidak jarang proses pemilahan baru selesai menjelang Maghrib.
Menjaga Lingkungan dengan Pekerjaan yang Tak Banyak Dipilih
Kisah Abdul Kafid memperlihatkan sisi lain pengelolaan sampah di tingkat desa.
Di satu sisi, masyarakat membutuhkan lingkungan yang bersih. Di sisi lain, pekerjaan untuk mewujudkan kebersihan tersebut belum tentu mendapatkan penghargaan ekonomi yang sebanding.
Kafid datang dari dunia pertanian, pernah merantau dan bekerja di Jakarta, mengalami kebangkrutan sebagai petani, kemudian menjadi buruh tani, hingga akhirnya berkutat dengan sampah.
Kini setiap pagi ia kembali datang ke TPS3R Desa Sumberbrantas. Sampah yang bagi sebagian orang dianggap sesuatu yang harus segera dibuang, bagi Kafid justru menjadi bagian dari rutinitas hidupnya. Ia memilah, mengurus dan memastikan sampah warga tidak seluruhnya berakhir sebagai limbah yang tidak tertangani.
Persoalannya bukan hanya bagaimana membuat TPS3R tetap berjalan. Lebih jauh, ada pertanyaan tentang siapa yang akan peduli kepada orang-orang yang setiap hari bekerja menjaga lingkungan, ketika pekerjaan tersebut belum mampu memberikan penghasilan yang layak?
Kisah Kafid menjadi pengingat bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas dan teknologi, tetapi juga pada manusia yang setiap hari berada di garis depan mengurus sampah masyarakat.












