Gunakan Pakan Dicampur Maggot, TPS3R Desa Sumbergondo Sudah Mendapat Tambahan Pendapatan Dari Budidaya Unggas Dan Ikan Lele

Foto Ketua KSM TPS3R Rejeki Barokah Juma’ati saat memilah bekas maggot untuk pupuk tanaman.

Kota Batu_Pintubatunews.com _Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) tempat pengolahan sampah – reduce, reuse, recycle (TPS3R) Rejeki Barokah Dusun Segundu Desa Sumbergondo Kecamatan Bumiaji Kota Batu berusaha memaksimalkan penggunaan hasil panen maggot (larva  Black Soldier Fly/BSF) untuk pakan unggas dan ikan lele.

Penggunaan maggot untuk pakan ikan lele karena memiliki protein sangat tinggi (sekitar 40-45%). Agar nutrisi seimbang, untuk mengombinasikannya dengan pelet komersial. Bisa menggunakan perbandingan 50% maggot dan 50% pellet sedangkan untuk menekan biaya ditambahkan sayuran segar seperti kangkung. Maggot untuk pakan entok, itik dan ayam diberikan sebagai pakan tambahan atau campuran sebesar 10% hingga 20% dari total pakan harian.

Foto Ketua KSM TPS3R Rejeki Barokah Juma’ati memanen maggot.

Ketua KSM TPS3R Rejeki Barokah Juma’ati saat ditemui Jum’at (19/6/2026) menyampaikan, “Kami berusaha memanfaatkan sampah sisa makanan dari SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang merupakan unit layanan atau dapur umum yang dibentuk oleh Badan Gizi Nasional (BGN) untuk beternak maggot. Hasil panen maggot ini dipergunakan untuk pakan ikan lele dan unggas. Sisa makanan dan susu kalau dicampurkan langsung ke sampah organik tentunya pertumbuhan lalat sangat banyak dan sangat berbau tidak sedap.”

“Pemberian pakan maggot untuk ikan lele saya lakukan setiap hari satu kali, dari 4 bioflok itu masing-masing kami berikan sebanyak 500gram atau 2 kg per hari. Pemberian maggot untuk pakan entok, itik dan ayam sebagai campuran pakan untuk semuanya perhari maksimal hanya 500 gram saja, dengan pemberian pakannya dicampur dengan pakan lainnya seperti dedak, sisa nasi dan sayuran yang telah dipotong kecil-kecil. Saat ini jumlah entog 35 ekor, itik/bebek ada 20 ekor, dan ayamnya 10 ekor. Maggot setiap hari saya panen rata-rata 2,5 kg, “jelasnya.

“Beternak ikan lele di dataran tinggi cenderung mengalami pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan di dataran rendah. Hal ini disebabkan oleh suhu air yang lebih dingin di dataran tinggi, yang membuat nafsu makan ikan menurun dan penyerapan nutrisi menjadi kurang optimal. Terbukti sudah lebih dari 3 bulan pertumbuhan ikan lele yang ada tidak cepat besar, “tambahnya.

Budidaya ikan lele ini sudah pernah satu kali menjual 1 bioflok sebanyak 25 kg dengan harga @ Rp 18.000,-. Untuk itik/bebek kami sudah bisa menjual telurnya sebanyak 30 butir setiap minggu ke penjual STMJ di Desa Punten dengan harga @ Rp 2.200,-. Telur ayam tidak dijual tetapi ditetaskan supaya bisa dibesarkan sendiri. Telur entog juga ditetaskan nanti kalau sudah besar kami jual yang biasanya banyak permintaan pada saat hari raya dan tahun baru. Syukur alhamdulilah mendapat tambahan pendapatan yang bisa dipergunakan untuk biaya operasional di TPS3R ini, “pungkas Juma’ati dengan bangga.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *