Kota Batu, Pintubatunews.com — Desa Sidomulyo ternyata menyimpan sedikitnya 16 sumber mata air, dengan salah satunya disebut memiliki debit hingga 50 liter per detik. Namun, kekayaan air tersebut bisa menjadi ancaman jika lingkungan dan sungai dibiarkan tercemar sampah.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Sabers Pungli (Sapu Bersih Nyemplung Kali) yang digelar di Balai Dusun Sukorembug, Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu, Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan yang dikemas dalam edukasi dan sosialisasi lingkungan tersebut menyasar kaum perempuan, anak-anak, serta mahasiswa yang terlibat dalam gerakan pelestarian lingkungan.
Pegiat Sabers Pungli, Achmad Berlin Rifa’i, yang menjadi narasumber edukasi air dan sungai, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
“Sungai jangan menjadi tong sampah. Pernahkah kita berpikir untuk merawatnya? Setiap bangun tidur, pagi hari kita semua membutuhkan air,” ujarnya.
Menurut Berlin, Kota Batu dikenal memiliki banyak sumber mata air. Ironisnya, masih terdapat wilayah desa yang menghadapi persoalan ketersediaan air.
“Melihat dari desa ke desa di Kota Batu, ini gudangnya sumber mata air, tetapi ada desa yang kekurangan air. Karena itu, kualitas air harus kita jaga,” katanya.
Ia menilai persoalan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari perilaku masyarakat. Kebiasaan membuang sampah sembarangan berpotensi mencemari sungai sekaligus mengancam sumber-sumber air yang menjadi penopang kehidupan.
“Kerusakan alam disebabkan oleh diri kita sendiri karena membuang sampah sembarangan. Mari kita berperilaku bersih,” tegas Berlin.
Ia juga menyinggung keberadaan sejumlah bank sampah di Desa Sidomulyo. Menurutnya, keberadaan bank sampah harus diikuti dengan pemilahan sampah sejak dari rumah, termasuk sampah organik.
“Di Desa Sidomulyo ini sudah ada beberapa bank sampah. Apa betul sampah organiknya sudah terpilah atau belum?” tanyanya kepada peserta.
Berlin menekankan bahwa perubahan perilaku pengelolaan sampah sangat bergantung pada kebiasaan di tingkat rumah tangga. Karena itu, perempuan, khususnya ibu-ibu, dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun budaya bersih di lingkungan keluarga.
“Kebersihan lingkungan kuncinya ada di ibu-ibu,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan potensi sumber daya air yang dimiliki Desa Sidomulyo. Sedikitnya terdapat 16 sumber mata air, bahkan disebut terdapat sumber dengan debit mencapai sekitar 50 liter per detik.
Potensi tersebut, kata Berlin, harus menjadi alasan semakin kuat bagi masyarakat untuk menjaga lingkungan, bukan justru membiarkannya tercemar.
“Saya berharap dengan gerakan lingkungan ini sumber mata air terawat. Desa Sidomulyo ada 16 sumber mata air, bahkan ada debit airnya 50 liter per detik. Untuk itu, jangan sampai sumber mata air ini rusak akibat pencemaran lingkungan,” pungkasnya.
Bagi Sabers Pungli, menjaga sumber mata air bukan sekadar urusan kebersihan. Ini menyangkut keberlanjutan air dan kehidupan masyarakat Kota Batu.












