Kota Batu_Pintubatunews.com – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Sampang mengadakan studi tiru ke Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) Desa Sumbergondo Kecamatan Bumiaji Kota Batu pada Rabu (6/5/2026). Mereka berkunjung untuk melihat pengelolaan sampah di Desa Sumbergondo dan pengelolaan sampah khususnya di TPS3R. Mereka sangat antusias dan bertanya jawab, banyak sekali yang ingin ditiru untuk pengelolaan sampah di Kabupaten Sampang. Pengelolaan sampah di Kabupaten Sampang masih tradisional, pada saat ada pertemuan ibu-ibu membawa sampah dari rumah untuk dikumpulkan bersama-sama dan sampah disana masih menumpuk belum terpilah
Kedatangan DWP Kabupaten Sampang berjumlah 50 orang yang dipimpin oleh istri Sekretaris Daerah Kabupaten Sampang. Rombongan diterima perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu Eni Maulidiyah, Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan dan Sholeh Koordinator Kecamatan Bumiaji Pendamping TPS3R, juga Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sumbergondo Azizah Dewi Anjani. Disampaikan oleh istri Sekda Kabupaten Sampang bahwa permasalahan sampah di Kabupaten Sampang saat ini berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menanggapi hal tersebut perwakilan dari DLH Kota Batu Eni Maulidiyah menyampaikan,”Desa Sumbergondo ini sudah mulai melakukan pengelolaan sampah MBG, kebetulan diwilayah area dekat sini ada 1 SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) atau dapur produksi/tempat pengolahan makanan untuk MBG. Karena nasabah TPS3R disini ini sama TPS diberikan kaleng bekas cat untuk ember khusus untuk menampung sampah organik. Jadi dari sumbernya sudah mulai terpilah, sehingga bisa dilihat kalau sudah terpilah mudah pengelolaannya. Karena sampah MBG itu khan makanan lezat semua, terkadang anak-anak diberi nasi kuning tidak habis, diberi ayam, bahkan tahu goreng itu masih utuh tidak dimakan. Terkadang ada 1 ember termasuk sayuran hanya dipilihi yang kesukaan mereka saja yang dimakan.”
“Karena di TPS3R Sumbergondo ini sudah ada ternak entog, ayam, ikan lele dan maggot. Sampah MBG itu umumnya sampah organik, karena disajikan dalam bentuk ompreng, untuk kemasan mungkin hanya susu kotak saja untuk sampah anorganik. Sehingga ketika tidak habis itu dari sekolah dikembalikan ke MBG, padahal saat memasak MBG sudah ada sampahnya. Di TPS3R ini sudah ada pengelolaan sampah organik di rumah kompos, sedangkan sampah anorganik pasti laku dijual. Di sini selain TPS3R juga ada Bank Sampah yang hubungannya saling mesra. Karena pihak Pemerintah Desa menggunakan strategi pengurus Bank Sampah diberikan insentif, tetapi penyetoran bank sampahnya menjadi satu di TPS3R yang sekaligus menjadi bank sampah induk. Ada jadwal tertentu untuk ibu-ibu yang berkegiatan Bank Sampah untuk diambil sampah yang sudah dipilah sehingga uangnya tidak memutar terlalu jauh diarea Desa Sumbergondo saja. Kalau dihitung secara ekonomi dibandingkan pengepul ada bedanya, karena pengepul yang diambil hanya sampah yang premium seperti botol pecah mereka tidak mau. Karena sampah diambil menjadi satu di TPS3R, semua bisa diterima walaupun mungkin harga agak berbeda. Perlu kita sampaikan tujuan kita berbank sampah nomor satu bukan ekonomi, tetapi lingkungan kita yang bersih dan sehat sehingga penambahan ekonomi sebagai bonus. Setiap ada acara Ibu Kepala Desa Sumbergondo selalu menyampaikan sosialisasi untuk pilah sampah dari sumbernya, “tegas Eni Maulidiyah.

Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sumbergondo Azizah Dewi Anjani menambahkan, “Kesadaran masyarakat Desa Sumbergondo untuk melakukan pilah sampah dari sumbernya diawali oleh BUMDes dengan memulai membentuk TPS3R, karena melihat sampah yang menggunung. Bersyukur banyak pihak yang mau bekerjasama selain dengan dinas, juga ada dari pihak swasta salah satunya United Tractor yang sudah banyak membantu. Bantuan dalam bentuk fisik juga dalam bentuk pelatihan-pelatihan seperti penanganan sampah, membuat ecobrick kami difasilitasi.
Kami konsentrasi mengurus sampah ini sejak akhir tahun 2023 atau awal tahun 2024, membutuhkan waktu sekitar satu tahun bagi warga yang tidak mau mengelola sampahnya.”
“Untuk itu harus diberikan contoh nyata, kita memberi contoh dan mendampingi agar tidak terjadi misskomunikasi. Bank sampah ada pertemuan setiap satu bulan sekali, selama ini diundang di balai desa untuk selanjutnya akan kami undang di TPS3R ini. Sebagai penggerak kita harus bersemangat dan sering turun ke lapangan. Waktu melakukan kunjungan ke Surabaya saya melihat sampah plastik itu dibuat menjadi kursi seperti ubin sebanyak 35 kg, kalau dirubah seperti itu tentunya akan lebih bernilai lagi, “pungkas Azizah Dewi Anjani.












