Kota Batu, Pintubatunews.com — Memasuki tahun ke-9, gerakan Sabers Pungli (Sapu Bersih Nyemplung Kali) #191 kembali menggelar aksi lingkungan dengan mengusung tema “Nawa Warsa Bhakti Ing Tirta”. Kegiatan berlangsung selama dua hari, 3–4 Oktober 2026, di kawasan Dusun Sukorembug, Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu.
Rangkaian kegiatan diawali pada Sabtu (3/10/2026) dengan edukasi dan sosialisasi lingkungan yang dipusatkan di Balai Dusun Sukorembug. Kegiatan tersebut menyasar terutama kaum perempuan, anak-anak, serta mahasiswa yang terlibat dalam gerakan lingkungan.
Salah satu aktivis penggerak Sabers Pungli, Doddy Eko Wahyudi, mengatakan kegiatan hari pertama difokuskan pada edukasi, sedangkan aksi bersih sungai dilaksanakan pada hari kedua.
“Hari ini kita ada edukasi dan sosialisasi, sedangkan besok kita adakan bersih-bersih sungai. Untuk sosialisasi kita mengundang ibu-ibu PKK Dusun Sukorembug dan PKK Desa Sidomulyo serta anak-anak. Memang edukasinya ini sasarannya rumahan, bukan bapak-bapak,” ujar Doddy.
Sekitar 60 peserta yang terdiri dari ibu-ibu dan mahasiswa mengikuti kegiatan edukasi di dalam balai dusun. Materi yang diberikan berkaitan dengan pentingnya menjaga mata air, sungai, serta pengelolaan sampah dari rumah.
Hal tersebut dinilai penting mengingat Desa Sidomulyo memiliki sekitar 16 titik sumber mata air yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan edukasi mengenai cara sederhana merawat mata air dan sungai, sekaligus membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Materi edukasi mengenai sumber mata air dan lingkungan disampaikan oleh Cak Mad Berlin.
Selain edukasi konvensional, mahasiswa dari Universitas Negeri Malang (UM) turut memperkenalkan aplikasi Ecosort, sebuah aplikasi yang digunakan untuk mendukung edukasi dan praktik pemilahan sampah.
Sementara itu, kegiatan untuk anak-anak dilaksanakan di halaman Balai Dusun Sukorembug. Mereka mendapatkan edukasi mengenai lingkungan, air dan sampah melalui pendekatan yang lebih sederhana dan sesuai dengan usia anak.
Konsep edukasi diarahkan untuk memperkenalkan hubungan antara kondisi sungai, keberadaan sampah dan kehidupan manusia. Anak-anak diajak memahami bahwa kondisi lingkungan saat ini akan memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat di masa mendatang.
Kegiatan Sabers Pungli #191 tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, di antaranya PKK Desa Sidomulyo, Karya Bunda Community (KBC), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Malang, PLN Nusantara Power, Lazismu, serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu.
Keterlibatan DLH Kota Batu antara lain berkaitan dengan edukasi dan sosialisasi mengenai pemilahan sampah dari sumbernya.
Tidak hanya mahasiswa UM, sejumlah mahasiswa dan dosen dari Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang juga hadir untuk mengikuti proses pembelajaran dan edukasi lingkungan.

Doddy menyebut, keterlibatan mahasiswa akan berlanjut pada kegiatan hari kedua. Sekitar 150 volunteer mahasiswa diproyeksikan terlibat dalam aksi “nyemplung kali”, yakni membersihkan sungai secara langsung.
“Ada 40 orang dari UM yang akan berlanjut hingga besok Minggu. Total volunteer sekitar 150 mahasiswa akan nyemplung kali,” jelasnya.
Pada hari pertama, mahasiswa UM dibagi menjadi dua tim. Satu tim bertugas mengikuti kegiatan edukasi di dalam Balai Dusun Sukorembug, sedangkan tim lainnya mendampingi kegiatan edukasi anak-anak di halaman balai dusun.
Kegiatan semakin ramai karena pada waktu yang bersamaan di Dusun Sukorembug juga berlangsung Posyandu Remaja. Sekitar 40 anak usia SD dan SMP hadir dan kemudian turut mendapatkan edukasi mengenai lingkungan, air dan sampah.
Rangkaian Sabers Pungli #191 ini menjadi pengingat bahwa menjaga sungai dan mata air bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun komunitas lingkungan. Kebiasaan menjaga air dan mengelola sampah perlu dimulai dari rumah, kemudian ditanamkan sejak usia dini dan diperkuat melalui kolaborasi masyarakat, akademisi, dunia usaha serta pemerintah.
Dengan tema “Nawa Warsa Bhakti Ing Tirta”, gerakan yang memasuki tahun ke-9 ini tidak sekadar mengajak masyarakat membersihkan sungai, tetapi juga membangun kesadaran bahwa merawat sumber air berarti merawat kehidupan.












