Kota Batu, Pintubatunews.com — Sungai Brantas memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat Jawa Timur. Dengan panjang sekitar 320 kilometer, Sungai Brantas disebut sebagai sungai terbesar kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo. Wilayah Sungai Brantas juga menjadi salah satu wilayah sungai strategis nasional.
Di Kota Batu, perhatian terhadap kelestarian sungai dan sumber mata air terus didorong oleh berbagai komunitas. Salah satunya Saberspungli, komunitas yang namanya merupakan kependekan dari Sapu Bersih Sampah Nyemplung Kali.
Nama Saberspungli tidak berkaitan dengan pemberantasan pungutan liar. Komunitas tersebut bergerak mengajak masyarakat mencegah dan membersihkan sampah yang masuk ke kali atau sungai sekaligus membangun kesadaran untuk menjaga lingkungan.
Salah seorang penggerak Saberspungli, Achmad Berlin Rifai, menyampaikan perjalanan gerakan tersebut saat bertakziah di kediaman S. Catur Wicaksono, Koordinator Tim Praktisi Pendamping Percepatan Pengelolaan Persampahan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, di Jalan Lahor No. 70 RT 03 RW 12, Desa Pesanggrahan, Kota Batu, Kamis (1/10/2026).
Menurut Berlin, Saberspungli berawal dari kegiatan kesenian yang kemudian berkembang menjadi gerakan bersama untuk membangun kesadaran ekologis masyarakat.
“Saberspungli itu didirikan bersama teman-teman saat kita mengadakan konser kesenian dan membahas ekologi. Akhirnya teman-teman berkeinginan kegiatan ini bisa menjadi gerakan bersama, berkelanjutan tentang kesadaran, budaya merawat sungai juga merawat sampah,” ujarnya.
Ia mengatakan, perhatian terhadap Sungai Brantas berangkat dari kondisi sejumlah aliran sungai, anak sungai, sempadan hingga bantaran yang masih ditemukan menjadi tempat pembuangan sampah.
“Melihat aliran Sungai Brantas yang sebagai penyangga utama Kota Batu, airnya untuk pengairan pertanian yang pada saat itu seolah-olah menjadi tong sampah. Begitu liarnya orang membuang sampah di anak sungai, sempadan sungai dan juga di bantaran sungai,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjut Berlin, mendorong Saberspungli untuk mengajak berbagai komunitas, pemerintah desa dan kelurahan serta masyarakat bergerak bersama.
“Akhirnya kita mencoba bergerak bersama-sama menggalang, mengajak semua komunitas yang ada di Kota Batu, desa, kelurahan kita rajut bersama.”
Gerakan Dimulai 2 Oktober 2017
Berlin menuturkan, gerakan tersebut mulai berkembang menjadi gerakan lingkungan yang lebih luas sejak 2 Oktober 2017. Tidak hanya membersihkan sungai, Saberspungli juga berupaya menghidupkan kembali kesadaran masyarakat terhadap sumber mata air dan ruang-ruang lingkungan yang sebelumnya dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas masyarakat.
“Kita ceritakan adanya sumber mata air, ada aliran sungai yang dulunya punya ruang-ruang tematik yang digunakan oleh masyarakat untuk kegiatan-kegiatan. Akhirnya di situlah masyarakat terbuka dan bergerak pada tanggal 2 Oktober 2017 sampai sekarang ini,” tuturnya.
Berlin menegaskan, kegiatan Saberspungli bukan dimaksudkan untuk menggantikan pekerjaan petugas kebersihan. Gerakan tersebut, kata dia, justru ingin membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
“Gerakan kami ini tidak posisi sebagai pekerja atau petugas kebersihan, tapi kami mengajak masyarakat untuk sadar bahwa lingkungan ini mari kita kerjakan bersama-sama,” tegasnya.
Ia mengatakan gerakan tersebut terbuka bagi masyarakat tanpa membedakan latar belakang.
“Tidak melihat agamamu apa, partaimu apa? Tetapi kita bergerak begitu melihat kerusakan, ayo kita bersama-sama bahwa ini adalah aset untuk masa depan.”
Dari Sungai hingga Bank Sampah dan TPS3R
Dalam perjalanan gerakan selama sembilan tahun, Saberspungli mengaku terus berdiskusi dengan masyarakat desa dan berbagai komunitas. Dari proses tersebut kemudian muncul berbagai kegiatan pengelolaan lingkungan, mulai dari bank sampah, TPS3R hingga pengelolaan sungai tematik.
“Dalam perjalanan 9 tahun ini makanya kita selalu berdiskusi dengan masyarakat desa, kepentingannya ini akhirnya bergabung banyak komunitas akhirnya menemukan banyak formula,” ujarnya.
Menurut Berlin, semakin banyak komunitas yang terlibat, semakin beragam pula kebutuhan lingkungan yang kemudian dapat dikerjakan bersama.
“Dengan banyaknya komunitas ini akhirnya kebutuhan lingkungan seperti adanya Bank Sampah, banyaknya berdiri TPS3R, mengelola sungai tematik. Juga bagaimana menjaga sumber mata air, dengan pembuatan biopori, sumur resapan,” katanya.
Untuk memperluas gerakan, Saberspungli juga menjalin komunikasi dengan sejumlah pemangku kepentingan di Kota Batu dan Malang Raya.
Hulu Brantas Jadi Titik Kesadaran
Berlin menilai keberadaan kawasan hulu memiliki posisi penting dalam menjaga keberlanjutan Sungai Brantas. Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencatat Sungai Brantas memiliki panjang sekitar 320 kilometer dan mengalir dari kawasan hulu hingga kemudian terbagi menuju arah Surabaya dan Porong sebelum bermuara di Selat Madura.
Karena itu, menurut Berlin, persoalan lingkungan di bagian hulu tidak dapat dipisahkan dari kondisi Brantas di bagian tengah dan hilir.
“Akhirnya kita menjaring dengan beberapa stakeholders yang ada di Kota Batu dan Malang Raya untuk menceritakan bahwa Sungai Brantas ini sebagai penopang aliran Sungai Brantas yang melewati wilayah di Jawa Timur,” katanya.
“Kalau hulu Sungai Brantas hancur tentunya akan ada permasalahan di Brantas tengah dan Brantas hilir.”
Dari kesadaran tersebut, Saberspungli kemudian mendorong kegiatan yang lebih luas, di antaranya Gerakan Ekspedisi Mata Air dan Gerakan Susur Sungai Brantas.
Gerakan tersebut diarahkan bukan sekadar untuk membersihkan sampah yang sudah masuk ke sungai, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat agar persoalan sampah dapat dicegah sejak dari sumbernya.
Bagi Saberspungli, menjaga sungai berarti menjaga mata rantai lingkungan dari hulu hingga hilir. Sebab, Sungai Brantas tidak hanya menjadi saluran air, tetapi juga berkaitan dengan pertanian, sumber daya air, kehidupan masyarakat, serta keberlanjutan ekosistem di berbagai wilayah Jawa Timur.













