Dari Sampah Jadi Pupuk, Kompos TPS3R Tinjumoyo Sidomulyo Diuji untuk Bawang Putih Hasilnya Bagus

Kota Batu, Pintubatunews.com — Sampah organik yang selama ini dipandang sebagai persoalan lingkungan mulai dimanfaatkan menjadi bagian dari solusi untuk mendukung sektor pertanian.

Hal itu ditunjukkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Dusun Tinjumoyo, Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Kompos yang diproduksi dari rumah kompos TPS3R tersebut kini diuji coba sebagai pupuk dasar dalam budidaya bawang putih di lahan Ketahanan Pangan Pemerintah Desa Sidomulyo.

Uji coba dilakukan pada lahan sekitar 1.000 meter persegi. Saat ditemui di lokasi, Selasa (29/9/2026), Ketua KSM TPS3R Dusun Tinjumoyo, Fatchur Rochman, mengatakan tanaman bawang putih yang dibudidayakan menggunakan beberapa varietas.

“Bawang putih yang ditanam ini varietas bibitnya campur. Di daerah sini biasanya ditanam varietas Lumbu Hijau, ini juga ada varietas bawang putih Lumbu Kuning dan varietas Lumbu Kayu,” kata Fatchur.

Menurutnya, setiap varietas memiliki karakteristik berbeda. Lumbu Kayu, misalnya, memiliki jumlah umbi relatif sedikit, sekitar empat hingga lima umbi, tetapi ukuran umbinya besar.

“Lumbu Kayu jumlah umbinya sedikit antara empat hingga lima umbi, tetapi ukurannya besar seperti bawang putih impor,” jelasnya.

Sedangkan Lumbu Hijau memiliki jumlah umbi lebih banyak dan merupakan varietas yang biasa ditanam petani setempat. Untuk Lumbu Kuning, umur tanamnya relatif pendek sehingga dinilai kurang sesuai dengan kondisi penanaman di wilayah tersebut.

“Bawang putih varietas Lumbu Hijau masa panen antara 110 hingga 120 hari,” ujarnya.

Kompos Rumah Kompos Masuk ke Lahan Pertanian

Yang menarik dari uji coba tersebut adalah penggunaan kompos hasil pengolahan sampah organik TPS3R sebagai pupuk dasar tanaman.

Fatchur menjelaskan, kompos ditaburkan pada guludan yang masih setengah jadi. Setelah itu kompos ditutup kembali menggunakan tanah sebelum proses penanaman.

“Guludan setengah jadi itu ditaburi kompos, terus ditutup dengan tanah. Istilahnya sebagai pupuk dasarnya dan hasilnya lumayan bagus,” ungkapnya.

Meski demikian, penggunaan kompos belum sepenuhnya menggantikan pupuk kimia. Dalam uji coba ini, kompos masih dikombinasikan dengan pupuk kimia yang digunakan dalam budidaya bawang putih.

Tanaman yang diuji coba tersebut kini telah berusia sekitar 85 hari.

Dengan demikian, pemanfaatan kompos dari rumah kompos tidak berhenti sebagai produk akhir pengolahan sampah. Kompos mulai diarahkan kembali ke lahan pertanian untuk melihat sejauh mana produk tersebut dapat memberikan manfaat bagi tanaman.

Harga Bibit Rp40 Ribu per Kilogram

Fatchur menyebutkan, bibit bawang putih yang digunakan dalam uji coba tersebut dibeli dengan harga sekitar Rp40.000 per kilogram.

Bagi petani, menurutnya, keberhasilan pertumbuhan tanaman menjadi perhatian utama. Persoalan harga jual hasil panen baru akan diperhitungkan setelah tanaman memasuki masa panen.

“Untuk petani yang penting tanamannya bagus, terkait harga jualnya itu urusan belakangan,” katanya.

Ia menjelaskan, bawang putih yang baru dipanen dari sawah biasanya masih dalam kondisi basah, lengkap dengan batang, daun, dan akar. Hasil tersebut kemudian langsung ditimbang untuk menentukan harga jual.

“Biasanya harga basah termasuk batang daun dan akarnya setelah dipanen dari sawah langsung ditimbang dengan harga Rp17.000,” jelasnya.

Dengan tanaman yang saat ini memasuki usia 85 hari, Fatchur berharap hasil panen nantinya dapat memberikan harga jual yang lebih baik.

“Semoga saat panen nanti bisa mendapatkan harga jual lebih mahal lagi,” pungkasnya.

Uji coba di lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan dua persoalan sekaligus, yakni pengelolaan sampah organik dan kebutuhan pupuk untuk pertanian.

Kompos yang dihasilkan dari rumah kompos TPS3R Dusun Tinjumoyo kini diuji langsung di lahan pertanian. Hasilnya akan menjadi pengalaman lapangan bagi KSM dalam melihat pemanfaatan kompos sekaligus membuka peluang agar sampah organik yang sebelumnya menjadi beban dapat kembali memiliki nilai guna bagi sektor pertanian.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *